Pameran Seni Instalasi World Cleanup Day Ajak Warga Surabaya Waspada Ancaman Mikroplastik

Surabaya (20/09) – Dalam rangka peringatan World Cleanup Day, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya bersama Ecoton menghadirkan pameran seni instalasi bertema ancaman mikroplastik. Pameran ini menyoroti temuan terbaru Ecoton yang mengungkap keberadaan mikroplastik bahkan di ketuban dan plasenta manusia.

“Masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi rata-rata 15 gram mikroplastik setiap bulan—setara seukuran kartu ATM,” ungkap Amirudin Muttaqin, Koordinator Pengendalian Sampah Plastik ke Laut Ecoton. Menurutnya, partikel mikroplastik masuk ke tubuh melalui makanan dan minuman kemasan plastik, penggunaan styrofoam, popok sekali pakai, hingga wadah makanan panas berbahan plastik bening. Penelitian Ecoton menunjukkan 45% plastik dalam organ manusia berjenis polimer polyethylene (PET), bahan utama botol air minum dan styrofoam.

Ecoton Hadirkan Seni Instalasi pada Gelaran World Clean Up Day di Pantai Kenjeran Surabaya (Foto: Ecoton, 2025)

Pameran menampilkan kran raksasa setinggi tujuh meter, foto dan ringkasan penelitian mikroplastik, serta dua replika bayi dalam akuarium setinggi dua meter. “Replika ini menggambarkan bahwa rahim, yang seharusnya menjadi ruang aman, kini ikut terkontaminasi mikroplastik. Temuan kami juga menunjukkan air susu ibu, plasenta, air ketuban, hingga air seni ibu hamil mengandung partikel plastik,” jelas Rafika Aprilianti, peneliti mikroplastik Ecoton.

Masyarakat Kota Surabaya diberi Penjelasan Mengenai Mikroplastik yang Mengancam Kesehatan Manusia (Foto: Ecoton, 2025)

Rafika menambahkan, paparan mikroplastik dapat memicu gangguan hormon reproduksi, diabetes melitus, menopause dini, penyumbatan pembuluh darah, peradangan otak yang menurunkan fungsi kognitif hingga 36%, infeksi saluran pernapasan, kanker, penurunan kualitas sperma, dan gangguan pertumbuhan bayi.

Ecoton mengapresiasi kebijakan Wali Kota Surabaya yang mendorong pengurangan kantong kresek dan popok sekali pakai, namun menilai langkah itu perlu diperluas. “Kami mendorong kebijakan wajib pengurangan air minum kemasan, styrofoam, serta makanan dan minuman sachet yang menjadi sumber utama mikroplastik,” tegas Amirudin.

Pameran seni ini menarik perhatian peserta aksi bersih pantai yang berfoto dengan latar kran raksasa dan replika bayi sambil membawa poster bertuliskan “Wes Wayahe Prei Nggawa Tas Kresek, Tutup Kran Produksi Plastik, Indonesia Darurat Mikroplastik.” (*)

Related Posts

Leave a Reply

About Us

Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

Recent Articles

A female researcher wearing a white lab coat and a brown hijab sits at a laboratory desk with a microscope and Petri dish.
The Body Is the New Battlefield: ECOTON’s Blood Tests Find Microplastics in 100% of Human Samples Tested
April 1, 2026
Dari Sungai hingga Darah: Membaca Jejak Mikroplastik dan Akar Krisis Industri Plastik
March 29, 2026
Laksamana Pertama TNI Purn. Dr. Herjunianto SpPD, MMRS, the Dean of the Faculty of Medicine at UKWMS, stands at the front of a hall speaking into a microphone. Behind him is a presentation slide titled "Pencegahan Bahaya Kesehatan" (Health Hazard Prevention). Three panelists sit at a draped table to his right in a formal setting featuring the Indonesian national emblem.
Microplastics in Our Blood: A Systemic Health Crisis That Demands Immediate Action
March 11, 2026