Team Microplastic Journey SMP Muhammadiyah 9 Jakarta, Siap Syiarkan Bahaya Mikroplastik

Siswa Temukan Mikroplastik di Udara, Air Minum, hingga Kulit Wajah

“Edukasi Bahaya mikroplastik melalui Microplastic Journey kami terima sebagai pengetahuan yang bermanfaat. Kami sangat senang dengan kolaborasi dan MOU yang telah dibuat bersama Ecoton. Harapannya akan ada program lanjutan untuk bersama-sama mengurangi krisis mikroplastik dan menjaga lingkungan sekolah agar bermanfaat bagi siswa maupun lingkungan sekitar,” ujar Amrillah, Lebih Lanjut Pada 25 Mei 2026  kepala SMP Muhammadiyah 9 Jakarta ini telah merancang action plan dengan menggunakan media social, menampilkan karya poster-poster lingkungan akan melakukan syiar bahaya mikroplastik kepada Publik

(Jakarta 25 Mei 202) Sejak 11 Mei hingga 25 Mei 2026  SMP Muhammadiyah 9 Jakarta   mengikuti Program Microplastic Journey  berkolaborasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dengan melibatkan lebih dari 75 peserta yang terdiri dari Mulan Ambassador dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) SMP Muhammadiyah 9 Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang belajar interaktif bagi siswa untuk memahami bahaya mikroplastik sekaligus melakukan penelitian secara langsung di lingkungan sekolah.

“Sangat senang bisa ada kegiatan Microplastic Journey ini. Harapannya bisa menambah wawasan dan menjadi penyegar bagi kita agar lebih fokus menunjukkan bahwa kita membutuhkan pengetahuan, lalu bisa menyebarkan informasi mikroplastik ini kepada teman dan keluarga,” ujar Choliqul Hairi Darozat, M.E..Wakil Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 9 Jakarta,

Kegiatan Microplastic Journey didukung oleh Korea Green Foundation yang bertujuan untuk mengenalkan ancaman keberadaan mikroplastik di lingkungan, praktik deteksi mikroplastik dan menyusun Aksi Kegiatan, dalam kegiatan awal peserta dikenalkan proses terbentuknya mikroplastik, sumber pencemaran, jenis mikroplastik, serta dampaknya bagi kesehatan dan lingkungan. Materi disampaikan melalui diskusi interaktif, video edukasi, dan sesi tanya jawab yang melibatkan siswa secara aktif.

Permainan Polusi Vs Solusi

Suasana semakin seru ketika peserta mengikuti permainan “Polusi vs Solusi”, sebuah games edukatif untuk menyamakan persepsi tentang kebiasaan sehari-hari yang termasuk solusi atau justru sumber polusi plastik. Beberapa siswa menyampaikan pandangan kritis mereka terkait produk sehari-hari yang ternyata berpotensi menghasilkan mikroplastik, berikut pendapat peserta terkait sumber polusi mikroplastik dikehidupan sehari-hari :

  1. Gelas kertas itu termasuk polusi karena meskipun di luar bentuknya kertas, tapi di dalamnya ada lapisan plastik untuk menahan air minumnya. Jadi sama saja seperti gelas plastik.” Ungkap Regan dari kelas 8 Imam Ahmad
  2. “Teh celup itu polusi karena ketika diseduh bisa melepaskan serat dari kantong tehnya yang kemungkinan plastik, apalagi air tehnya panas.” Ungkap Muhammad Prya dari kelas 7
  3. “Pembalut kain adalah solusi karena tersusun dari katun dan bisa digunakan ulang daripada pembalut plastik sekali pakai yang langsung dibuang. Aku ingin mencoba menggunakan pembalut kain setelah kegiatan ini.” Ujar Kiara lebih lanjut Siswi kelas 7 mendorong penggunaan produk guna ulang

Riset Mikroplastik di Sekolah

Tidak hanya belajar teori, Peserta Microplastic Journey juga melakukan  deteksi mikroplastik di lingkungan sekolah penelitian dilakukan pada 8 Objek media lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan adanya partikel mikroplastik pada berbagai sampel yang dekat dengan aktivitas sehari-hari.

Tabel Hasil Deteksi Mikroplastik pada 8 Media Lingkungan di SMP Muhammadiyah 9 Jakarta

No Nama Media (Objek penelitian) Hasil (partikel)
1.

 

Daun Bambu  5/lembar
Daun Puring 37/Lembar
2. Air dalam Kemasan  3 Brand Terkenal 5-12/100 ml
3. Udara Indoor Aula 24/Jam
4. Udara Outdoor Depan Sekolah  44/jam
5. Air Kran Wastafel 4/100 ml
6. Air Toilet 20/100 ml
7. Swab Kulit Wajah (6 orang) 9.3/Orang
8. Swab Kulit Tangan (8 orang) 3.5/Orang

“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang mikroplastik, tetapi juga didorong untuk mulai menerapkan gaya hidup minim plastik sekali pakai serta menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah maupun keluarga” Ungkap Khusnatul Khomsah, lebih lanjut Project Leader Microplastic Journey ini menjelaskan bahwa untuk lebih membawa manfaat hasil penelitian peserta Microplastic Journey diajak untuk membuat media edukasi kepada masyarakat melalui lomba majalah dinding.

Kampanye Gaya Hidup Minim Plastik

Untuk mensosialisasikan temuan mikroplastik maka program Microplastic Journey membuat kompetisi Mading yang mengkampanyekan bahaya mikroplastik dan ajakan gaya hidup minim plastik sekali pakai. Pada Rabu (20/5) pukul 09.00–11.00 WIB. Lebih dari 75 siswa mempresentasikan karya mading bertema pencegahan mikroplastik sebagai media edukasi lingkungan di sekolah.

Kegiatan ini dipandu oleh 12 orang tim dari Ecoton dan menjadi penutup rangkaian program Microplastic Journey diikuti oleh 78 siswa dari IPM dan Mulan Ambassador SMP Muhammadiyah 9 Jakarta. Mengusung tema “Everyone is Scientist, Everyone is Activist”, para siswa menyampaikan keresahan sekaligus solusi nyata terhadap ancaman mikroplastik yang semakin meluas di lingkungan sekitar.

Melalui karya mading mereka, siswa tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menunjukkan kepedulian mendalam terhadap kondisi lingkungan. Salah satu siswa, Kayla, menyoroti dampak sampah laut terhadap kehidupan biota laut. Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa penggunaan botol plastik sekali pakai dan kantong plastik menjadi salah satu penyumbang pencemaran laut yang membahayakan hewan laut.

“Saya mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai, membawa tas belanja guna ulang, dan mengedukasi orang-orang di sekitarnya agar lebih peduli terhadap sampah plastik” Ujar Kayla.

Sementara itu, Vhicho mengangkat isu mikroplastik yang berasal dari produk personal care seperti sabun mandi dan sampo. Ia menjelaskan bahwa partikel mikroplastik dari produk tersebut dapat terbawa aliran air menuju sungai dan laut, lalu dimakan oleh ikan sehingga mencemari rantai makanan manusia.

“Banyak orang belum sadar bahwa mikroplastik tidak hanya berasal dari sampah besar, tetapi juga dari produk yang kita gunakan setiap hari,” jelasnya saat presentasi.

Setelah mempresentasikan karya mereka, para siswa mengaku semakin memahami bahaya mikroplastik dan pentingnya pengurangan plastik sekali pakai (PSP). Raihana Ashila Rahman mengungkapkan bahwa program ini membuka wawasannya tentang luasnya pencemaran mikroplastik.

Saya senang sekali karena melalui acara ini saya jadi tahu bahwa mikroplastik sudah tersebar di sekitar kita, bahkan di udara, kulit, dan air minum kita. Setelah kegiatan ini saya ingin mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengajak teman-teman melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Program Microplastic Journey menjadi bukti bahwa pelajar memiliki peran penting dalam menghadapi krisis lingkungan. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, siswa tidak hanya belajar menjadi peneliti muda, tetapi juga menjadi agen perubahan yang aktif menyuarakan solusi bagi masa depan bumi yang lebih sehat dan bebas mikroplastik

Related Posts

Leave a Reply

About Us

Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

Recent Articles

BPA dan Ftalat dalam Plastik Ancam Sistem Hormon Manusia, Ahli Dorong Regulasi Lebih Ketat di Indonesia
May 30, 2026
Festival Raksha Loka di Jakarta Sukses Tekan Timbulan Sampah Melalui Gerakan Reuse-Refill
May 30, 2026
SD Muhammadiyah 1 Wringinanom Raih Penghargaan Sekolah Ekologis
May 12, 2026