
Gresik, 9 Mei 2026 — SD Muhammadiyah 1 Wringinanom resmi menerima Piagam Penghargaan Program Sekolah Ekologis dari Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation). Penghargaan ini bukan seremoni biasa. Ia adalah pengakuan atas hampir satu dekade kerja konsisten — membangun budaya hidup berkelanjutan yang mengakar kuat di ruang kelas, kantin, lapangan, hingga tepi sungai yang berbatasan langsung dengan halaman sekolah. Penyerahan penghargaan berlangsung bertepatan dengan Milad ke-21 SD Muhammadiyah 1 Wringinanom.
Bersama penghargaan tersebut, Ecoton juga menyerahkan Modul Sekolah Ekologis — panduan pembelajaran lingkungan bagi guru dan siswa yang disusun dalam empat tema: pengelolaan sampah, energi terbarukan, konservasi keanekaragaman hayati, dan pangan sehat. Modul ini bukan buku teks tambahan. Ia adalah peta jalan bagi sekolah yang ingin menjadikan kepedulian lingkungan bukan sekadar topik pelajaran, melainkan cara hidup.
Perwakilan Ecoton, Tonis Arianto, S.I.Kom., menegaskan bahwa Program Sekolah Ekologis sejak awal dirancang bukan untuk menghasilkan siswa yang hafal teori daur ulang, melainkan untuk membentuk generasi yang secara sadar dan mandiri menjaga lingkungannya.
“Program Sekolah Ekologis hadir bukan sekadar mengajarkan teori, namun membentuk budaya peduli lingkungan di sekolah dan kehidupan sehari-hari. Manfaatnya diharapkan dapat kembali ke masyarakat melalui kebiasaan baik yang dibawa siswa ke rumah dan lingkungannya.”
Pernyataan itu bukan retorika. Di SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, ia telah dibuktikan selama bertahun-tahun. Gagasan menjadikan sekolah ini sebagai sekolah ekologis sudah tumbuh sejak 2016, kemudian dijalankan dengan lebih serius mulai 2018. Kepala Sekolah Kholiq Idris, S.Pd., mengisahkan perjalanan itu dengan nada yang tidak dibuat-buat.
“Sejak dulu sebenarnya kami sudah memiliki komitmen menjadikan sekolah ini sebagai sekolah ekologis. Banyak usaha yang kami lakukan bersama seluruh warga sekolah dan para mitra lingkungan.”
Komitmen itu menghasilkan rekam jejak yang berbicara sendiri: penghargaan Adiwiyata tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga puncaknya — Adiwiyata Mandiri pada 2025. Perjalanan ini tidak ditempuh sendiri. Ecoton, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), guru, siswa, wali murid, dan masyarakat sekitar sekolah menjadi bagian dari ekosistem kolaborasi yang menopang setiap langkahnya.
Yang membedakan SD Muhammadiyah 1 Wringinanom dari sekolah-sekolah lain yang mengklaim peduli lingkungan adalah cara mereka menempatkan isu ini. Lingkungan bukan mata pelajaran tambahan yang bisa dilewati. Koordinator Adiwiyata sekolah, Khoirun Nisa’, S.Si., menjelaskan bahwa pendidikan lingkungan diintegrasikan langsung ke dalam pembelajaran di setiap kelas.
“Misi sekolah kami salah satunya adalah membentuk perilaku peduli lingkungan dan budaya lingkungan. Karena itu, program sekolah ekologis dan Adiwiyata kami kaitkan langsung dengan pembelajaran di kelas.”

Pendekatan ini terlihat nyata dalam keseharian sekolah. Kantin beroperasi tanpa plastik sekali pakai. Refill store tersedia sebagai alternatif kemasan sachet. Di setiap kelas, galon isi ulang menggantikan air minum kemasan. Sampah organik tidak dibuang — ia diolah menggunakan bata terawang menjadi pupuk kompos. Prinsip reduce dan reuse dipraktikkan bersama TPS 3R Wringinanom, yang mengajak siswa terlibat langsung dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Sekolah juga membentuk kader lingkungan yang diberi nama Eco Warrior — siswa yang setiap minggu melakukan inspeksi sampah plastik di kelas, dan setiap tahun menerbitkan buku bertema lingkungan. Posisi geografis sekolah yang berbatasan langsung dengan sungai dimanfaatkan sebagai laboratorium hidup: bersama Ecoton, para siswa melakukan biomonitoring sungai melalui metode biotilik, belajar membaca kesehatan ekosistem perairan dari biota yang hidup di dalamnya.
“Anak-anak belajar mengamati biota sungai sebagai indikator apakah sungai masih bersih atau sudah tercemar.” — Khoirun Nisa’

Perubahan paling nyata justru datang dari para siswa itu sendiri. Zahrotul Azizah dan Erlen Gladys Hermanu, dua anggota Eco Warrior, menjadi cermin dari apa yang bisa terjadi ketika pendidikan lingkungan benar-benar meresap.
“Kami belajar banyak tentang cara mengolah sampah, membuat kompos, dan eco-enzyme. Kegiatan ini membuat kami lebih peduli agar lingkungan menjadi lebih baik dan lebih bersih.” — Zahrotul Azizah
Keduanya sudah membawa kebiasaan itu keluar dari gerbang sekolah — mengajak keluarga memilah sampah organik dan anorganik, meninggalkan plastik sekali pakai, dan mulai membangun rutinitas kecil yang punya dampak besar.
“Dulu saya juga sering menggunakan plastik sekali pakai, tetapi sekarang sudah mulai membawa tumbler, tempat makan sendiri, dan tas belanja agar mengurangi sampah plastik.” — Erlen Gladys Hermanu
Bagi mereka, sungai bukan sekadar latar belakang sekolah. Ia adalah ekosistem yang harus dijaga.
“Jangan buang sampah sembarangan, apalagi di sungai. Sungai adalah tempat hidup ikan dan banyak makhluk lainnya. Kalau sungai tercemar, kehidupan mereka juga terancam.” — Zahrotul Azizah
Tentu saja, perjalanan ini tidak bebas hambatan. Khoirun Nisa’ tidak menyembunyikan kenyataan bahwa mempertahankan konsistensi adalah ujian yang tidak pernah benar-benar selesai.
“Kalau sosialisasi tidak dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan baik itu bisa hilang. Karena itu kami terus menanamkan karakter peduli lingkungan agar anak-anak memiliki kesadaran sendiri tanpa harus disuruh.”
Sampah kemasan plastik yang masih masuk dari luar lingkungan sekolah juga menjadi tantangan yang terus dihadapi. Jawabannya bukan larangan, melainkan edukasi yang tidak berhenti — memastikan setiap siswa tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi memahami mengapa itu penting.
Penghargaan Sekolah Ekologis Nasional dari Ecoton menjadi penanda resmi bahwa SD Muhammadiyah 1 Wringinanom telah membuktikan sesuatu yang selama ini sering diragukan: bahwa pendidikan lingkungan yang serius, konsisten, dan membumi bisa benar-benar tumbuh di sekolah dasar. Bahwa siswa berusia sepuluh tahun bisa menjadi agen perubahan yang nyata — bukan karena dipaksa, melainkan karena mereka mengerti.
Ecoton berharap langkah yang telah ditempuh SD Muhammadiyah 1 Wringinanom dapat menjadi preseden dan inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia — bahwa menjadikan pendidikan lingkungan sebagai fondasi karakter generasi penerus bukan cita-cita yang terlalu jauh, melainkan pilihan yang bisa dimulai hari ini.



Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

