HASIL INVESTIGASI WALHI JATIM, ECOTON DAN PPLH BALI MENGUNGKAP KEGAGALAN SKEMA PLASTIK KREDIT ATASI AKAR MASALAH POLUSI PLASTIK DI INDONESIA

Surabaya, 22 April 2026 – Koalisi organisasi masyarakat sipil yang terdiri dari WALHI Jawa Timur, ECOTON, dan PPLH Bali merilis hasil investigasi mendalam terhadap sejumlah proyek plastic credit di Indonesia. Investigasi ini mengungkap bahwa skema yang diklaim sebagai solusi inovatif untuk krisis plastik justru menyimpan berbagai persoalan mendasar, mulai dari kegagalan operasional hingga dampak lingkungan dan kesehatan.

Plastic credit adalah skema kompensasi (offset) sampah plastik, di mana perusahaan memberikan pendanaan kepada proyek pengumpulan, pengelolaan, atau daur ulang sampah plastik untuk “mengimbangi” jumlah plastik yang mereka hasilkan.

“Skema Plastik kredit merupakan solusi semu dalam penyelesaian persoalan pengelolaan sampah, khususnya plastik. Skema ini tidak menyentuh akar permasalahan utama dalam sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Produsen masih memiliki keleluasaan untuk terus memproduksi tanpa pengawasan ketat dari pemerintah yang pada akhirnya mendorong pengabaian tanggungjawab atas dampak produk yang dihasilkan.” ujar Pradipta Indra Ariono – Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Timur

fasilitas TPST Samtaku di Jimbaran yang menjadi bagian dari proyek Reciki justru memicu protes warga akibat bau menyengat, pencemaran lingkungan, serta dugaan gangguan kesehatan

Tiga Proyek Besar dalam Sorotan

Dalam investigasi ini, koalisi menelusuri tiga proyek besar yang terdaftar dalam Standar Pengurangan Sampah Plastik Verra, yakni Project STOP di Banyuwangi, proyek Danone-AQUA/Reciki di TPST Samtaku Jimbaran, Bali, serta proyek SEArcular–Greencore di wilayah Gresik dan Surabaya. Ketiga proyek ini menjual kredit plastik kepada korporasi global sebagai bentuk kompensasi atas produksi plastik mereka, sekaligus membangun narasi bahwa polusi plastik dapat “dinetralkan” melalui mekanisme pasar.

Namun temuan di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda. Di Banyuwangi, Project STOP yang sejak awal dipromosikan sebagai model ekonomi sirkular justru mengalami penurunan drastis setelah pendanaan eksternal berakhir. Fasilitas pengelolaan sampah yang sebelumnya dibangun tidak lagi beroperasi optimal, infrastruktur rusak dan tidak terawat, serta kapasitas layanan menurun signifikan. Proyek yang menargetkan perluasan layanan hingga ratusan ribu penduduk ini tidak memiliki skema pembiayaan berkelanjutan dan tidak terintegrasi dalam anggaran pemerintah daerah.

Potret pemilah sampah pada project STOP di Banyuwangi yang saat ini sudah berhenti total (Istimewa)

“Skema ini mencerminkan keberhasilan yang bersifat semu, karena indikator keberhasilannya lebih bersifat administratif daripada ekologis. Perusahaan dapat mengklaim keberhasilan tanpa benar-benar mengurangi produksi plastik. Dengan demikian, sumber utama permasalahan – yakni tingginya produksi plastik – tidak tersentuh dalam skema ini” ujar Pradipta Indra Ariono – Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Timur

Dampak Nyata di Lapangan: Lingkungan dan Kesehatan

Situasi serupa juga ditemukan di lokasi lain. Di Bali, fasilitas TPST Samtaku di Jimbaran yang menjadi bagian dari proyek Reciki justru memicu protes warga akibat bau menyengat, pencemaran lingkungan, serta dugaan gangguan kesehatan. Fasilitas tersebut bahkan akhirnya ditutup setelah mendapat penolakan dari masyarakat. Sementara di Gresik dan Surabaya, praktik pengelolaan plastik yang tidak memiliki nilai ekonomi cenderung berujung pada pembakaran terbuka atau diolah menjadi bahan bakar seperti RDF (Refuse-Derived Fuel), yang berpotensi menghasilkan emisi berbahaya seperti dioksin dan furan.

“Kasus TPST Samtaku harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah bahwa pengelolaan sampah yang tidak matang berisiko gagal serta mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat. Peristiwa ini perlu dijadikan pembelajaran agar tidak terulang di daerah lain. Praktik pembakaran dan RDF yang berpotensi menghasilkan emisi berbahaya harus segera dievaluasi dan dihentikan, dengan beralih pada sistem pengelolaan yang lebih aman dan berkelanjutan” ujar Catur Yuda Hariyani – Direktur PPLH Bali.

Pola Masalah yang Berulang

Secara umum, investigasi ini menemukan bahwa proyek-proyek plastic credit memiliki pola yang sama, yaitu sangat bergantung pada pendanaan eksternal, tidak dirancang untuk berkelanjutan secara finansial, serta hanya berfokus pada pengelolaan sampah di hilir tanpa menyentuh akar masalah produksi plastik yang terus meningkat. Plastik bernilai rendah seperti sachet dan multilayer tetap tidak tertangani secara memadai, sehingga pada akhirnya dibakar atau dibuang ke lingkungan.

Plastik low value yang tidak terkelola berakhir di bakar di tempat terbuka berpotensi menambah polusi di udara (Istimewa)

Selain itu, koalisi juga menyoroti terbatasnya transparansi dalam skema ini. Data terkait aliran dana, pembagian keuntungan dari penjualan kredit plastik, hingga dampak lingkungan dari proyek tidak tersedia secara terbuka untuk publik. Di sisi lain, para pekerja di sektor persampahan tetap berada dalam kondisi kerja yang rentan, dengan upah rendah dan minim perlindungan.

“Transparansi data dalam skema plastik kredit masih sangat terbatas. Data terkait aliran dana, volume plastik yang diklaim dikelola, hingga dampak lingkungan seharusnya dibuka secara penuh kepada publik agar dapat diawasi secara independen. Tanpa transparansi, klaim keberhasilan proyek tidak dapat diverifikasi,” ujar Daru Setyorini, Direktur Eksekutif ECOTON.

Skema Plastic Credit Membuka Potensi Greenwashing

Skema “Plastic Credit” berisiko besar menjadi praktik greenwashing, karena memungkinkan perusahaan mengklaim telah bertanggung jawab terhadap polusi plastik tanpa benar-benar mengurangi produksinya. Melalui mekanisme ini, perusahaan cukup membayar proyek pengelolaan sampah untuk “mengimbangi” jejak plastik mereka, sementara dampak nyata di lapangan sulit diverifikasi. Keterbatasan data publik terkait jumlah plastik yang benar-benar dikumpulkan, diolah, dan dicegah mencemari lingkungan membuat klaim tersebut tidak dapat diuji secara transparan dan independen.

Selain itu, tidak semua jenis sampah plastik benar-benar dapat didaur ulang. Plastik bernilai rendah seperti multilayer dan sachet yang justru paling banyak ditemukan sering kali tidak tertangani dan berakhir dibakar, ditimbun, atau diolah menjadi bahan bakar seperti RDF yang berisiko menghasilkan emisi berbahaya. Kondisi ini menunjukkan bahwa klaim “pengelolaan” dalam skema plastic credit sering kali tidak mencerminkan realitas, sehingga berpotensi menyesatkan publik dan memperkuat ilusi bahwa krisis plastik telah ditangani.

Project SEArcular by Greencore yang mengambil sampah dari pengepul (Istimewa)

 

“Skema plastik kredit membuka celah besar bagi perusahaan untuk terlihat bertanggung jawab tanpa perubahan nyata, sementara dampak pengelolaan plastiknya sendiri sulit diverifikasi. Ini sangat rentan menjadi praktik greenwashing. Kasus di Proyek SEArcular di Gresik juga terbukti, tidak semua plastik bisa dikelola dengan aman, apalagi plastik sachet berujung pada pembakaran menggunakan teknologi termal yang melepaskan racun udara dan potensi dampak kesehatan akibat paparan senyawa hasil pembakaran sampah plastik” ujar Daru Setyorini, Direktur Eksekutif ECOTON.

Rekomendasi dan Solusi

Berdasarkan temuan investigasi di berbagai wilayah, koalisi menegaskan perlunya perubahan pendekatan dalam penanganan krisis plastik di Indonesia. Skema plastic credit yang selama ini dipromosikan sebagai solusi terbukti tidak menyentuh akar masalah dan berisiko memperparah ketimpangan serta dampak lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan langkah tegas yang berfokus pada pengurangan dari sumber, penguatan tanggung jawab produsen, transparansi, serta perlindungan terhadap masyarakat dan pekerja di sektor persampahan.

  • Fokus penyelesaian sejak dari sumber, dengan membatasi produksi plastik
    Tinjau ulang proyek plastic credit dan beralih ke kebijakan solusi hulu, seperti membatasi plastik sekali pakai serta melarang jenis plastik bermasalah.
  • Prioritaskan EPR untuk menanggung seluruh biaya sampah yang telah diproduksi
    Menerapkan prinsip polluter pays (pencemar harus membayar) dengan mendorong skema Extended Producer Responsibility (EPR) yang bersifat wajib, sehingga produsen bertanggung jawab atas seluruh biaya pengelolaan sampah.
  • Pemerintah perlu mewajibkan produsen untuk transparan dalam seluruh proyek pengelolaan sampah
    Transparansi data, aliran dana, dan dampak harus terbuka dan dapat diawasi oleh publik.
  • Lindungi pekerja sampah dan evaluasi proyek plastic credit
    Pastikan pekerja mendapatkan upah layak, alat pelindung, dan jaminan keselamatan kerja. Hentikan praktik eksploitasi dalam skema plastic credit, serta evaluasi dan cabut izin proyek yang terbukti merusak lingkungan dan membahayakan masyarakat

Narahubung:
Admin, Walhi Jatim (+6287870534304)
Admin, ECOTON (+6282226655636)
Admin, PPLH Bali (+6281237567798)

Tentang Walhi Jawa Timur

WALHI Jawa Timur adalah organisasi lingkungan hidup yang menjadi bagian dari jaringan nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. WALHI Jatim berfokus pada advokasi kebijakan, pendampingan masyarakat, serta kampanye lingkungan untuk melindungi ruang hidup rakyat dari ancaman pencemaran, eksploitasi sumber daya alam, dan ketidakadilan ekologis.

Tentang ECOTON

ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation) adalah organisasi lingkungan yang berbasis di Jawa Timur dan berfokus pada perlindungan sungai dan lahan basah. ECOTON aktif melakukan riset ilmiah, edukasi publik, advokasi kebijakan, serta kampanye untuk menghentikan pencemaran air, termasuk isu mikroplastik dan limbah industri.

Tentang PPLH Bali

PPLH Bali (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali) adalah lembaga yang bergerak dalam pendidikan, penelitian, dan penguatan kapasitas masyarakat di bidang lingkungan hidup. PPLH Bali mendorong praktik pengelolaan sampah berkelanjutan, konservasi alam, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan di Bali.

 

Download Full Policy Brief (bit.ly/PBkreditplastik)

 

Related Posts

Leave a Reply

About Us

Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

Recent Articles

PERINGATAN HARI BUMI 2026 MENOLEH PENGELOLAAN SAMPAH DARI HULU KE HILIR DAN MENUNTUT SEADIL ADILNYA PERLINDUNGAN SUNGAI JAWA TIMUR
April 22, 2026
INVESTIGATION RESULTS BY WALHI EAST JAVA, ECOTON, AND PPLH BALI REVEAL THE FAILURE OF PLASTIC CREDIT SCHEMES TO ADDRESS THE ROOT CAUSES OF PLASTIC POLLUTION IN INDONESIA
April 22, 2026
PUPUK ORGANIK CAIR JADI HARAPAN BARU PETANI KOTA BATU DI HARI BUMI 2026
April 22, 2026