Waspadai Jantung Bayi Terbungkus Plastik

Surabaya (16/7) –  Komunitas MARAPAIMA dan Yayasan ECOTON telah melakukan penelitian mikroplastik dalam darah, urin, dan amnion dalam tubuh manusia. Muhammad Alvin Alvianto, mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang selaku peneliti dalam penelitian ini menyebutkan bahwa “dalam darah ditemukan 76 partikel dari 26 sampel, lalu pada amnion sebanyak 117 partikel/ 11 sampel, serta pada urin sebanyak 52 partikel/ 9 sampel”.

Aksi teatrikal bayi terbungkus plastik oleh Aktivis Lingkungan (Foto: Ecoton, 2025)

Penelitian ini dilakukan karena pada saat ini dunia plastik kini menghadapi krisis serius. Lebih dari 16.000 bahan kimia menyusun produk plastik, termasuk 5.776 zat aditif, 3.498 bahan pembantu proses, 1.975 bahan awal, dan 1.788 zat yang tidak sengaja ditambahkan lebih dari 4.200 di antaranya tergolong berbahaya karena bersifat toksik, persisten, mudah berpindah, dan bioakumulatif (Monclus et al., 2025). Ironisnya, sebagian besar dari bahan kimia ini belum diatur secara ketat, padahal umum digunakan dalam kemasan makanan dan produk sehari-hari. Mikroplastik, partikel plastik berukuran <5 mm, terbentuk dari degradasi plastik dan masuk ke tubuh manusia melalui tiga jalur utama: inhalasi, konsumsi, dan kontak kulit (Nawab et al, 2024). Partikel plastik dari udara yang tercemar pembakaran sampah dan emisi industri bahkan bisa masuk hingga paru-paru, dengan estimasi 53.700 partikel terhirup per orang per tahun (Roslan et al, 2024). Setelah masuk ke tubuh, mikroplastik dapat menyebabkan iritasi saluran cerna, kerusakan sel dan DNA, gangguan hormon, penurunan fungsi saraf, bahkan membahayakan janin karena sudah ditemukan dalam plasenta dan cairan amnion.

Sampah Impor

Sampah plastik dari negara-negara maju seperti Australia (2,7  juta ton), USA (2,3 juta ton), Italia (1,9 juta ton), UK (1,6 juta ton), dan Belanda (1,6 juta ton) masih terus masuk ke Indonesia melalui jalur impor. Volume limbah plastik yang diterima pun terus meningkat, padahal banyak di antaranya tidak layak daur ulang dan mencemari lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia semakin diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah oleh negara-negara maju. Ketimpangan tanggung jawab dalam mengatasi krisis plastik global pun makin terlihat jelas.

Dampak Mikroplastik Dalam Tubuh Manusia

Mikroplastik menimbulkan dampak serius pada berbagai organ manusia: di paru-paru, ia memicu inflamasi, kerusakan epitel, menumpuk akibat gravitasi, meningkatkan risiko asma, bronkitis kronis, emfisema, hingga kanker paru-paru; pada otak dan sistem saraf, partikel seperti PE dan PET menembus sawar darah-otak, menurunkan daya ingat dan konsentrasi, meningkatkan risiko demensia, serta memicu gejala depresi dan kecemasan.

Aktivis lingkungan ecoton kampanyekan bayi terlilit plastik saat aksi teatrikal di depan gedung grahadi Surabaya (Foto: Ecoton, 2025)

Dalam sistem reproduksi, mikroplastik yang terdeteksi di air mani, testis, cairan folikel, dan endometrium menurunkan jumlah serta motilitas sperma, mengganggu hormon FSH, dan mengancam kesuburan serta perkembangan embrio. Kualitas air mani pada pria di seluruh dunia telah menurun secara signifikan selama 50 tahun terakhir, sementara mikroplastik terbukti merusak fungsi ovarium, menurunkan tingkat kesuburan, mengganggu keseimbangan hormon, serta berdampak negatif pada perkembangan embrio dan kesehatan anak.

Paksi Samudro mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang menjelaskan bahwa, “pada organ ekskresi dan selama kehamilan, mikroplastik ditemukan di plasenta, urin, dan cairan ketuban, menyebabkan stres oksidatif, kerusakan DNA janin, dan gangguan hormonal”

Seruan aktivis untuk stop produksi plastik sachet dan botol plastik di bawah 1 liter (Foto: Ecoton, 2025)

Pada saluran pencernaan, mikroplastik masuk melalui makanan, menetap di usus, hati, pankreas, dan lambung, memicu inflamasi, kerusakan mukosa, resistensi insulin, serta berkaitan dengan kanker pankreas; sedangkan dalam darah dan sistem kardiovaskular, mikroplastik meningkatkan inflamasi sistemik, mengganggu pembekuan darah, menyebabkan aritmia, apoptosis sel jantung, fibrosis, serta meningkatkan risiko gagal jantung dan stroke, dengan bayi bahkan berpotensi menelan 660.000 partikel mikroplastik per tahun melalui botol plastik.

Seruan Aksi

Melalui aksi damai Plastic Free July 2025 yang bertajuk “Waspadai Jantung Bayi Terbungkus Plastik” Komunitas MARAPAIMA dan Yayasan ECOTON menyerukan tindakan tegas dari seluruh pihak untuk menghentikan krisis mikroplastik yang kini telah ditemukan dalam darah, paru-paru, plasenta, hingga otak manusia. Mikroplastik bukan lagi sekadar persoalan lingkungan ini adalah darurat kesehatan publik global. Kami menuntuk pihak-pihak berikut:

  1. Kepada pemerintah, kami mendesak pemerintah untuk segera menghentikan produksi dan peredaran plastik sekali pakai, mewajibkan pelabelan bahaya kesehatan pada produk plastik, serta memperkuat penegakkan regulasi terhadap bahan kimia berbahaya dalam plastik. Pemerintah harus mengatur dan menghentikan kegiatan impor sampah plastik. Selain itu juga mendorong sistem isi ulang dan mendukung transisi menuju ekosistem tanpa plastik melalui kebijakan yang berpihak pada kesehatan dan keberlanjutan.
  2. Kepada produsen penghasil plastik, kami menuntut tanggung jawab penuh atas limbah yang dihasilkan, penghentian produksi kemasan berlebih dan sekali pakai, serta pengembangan produk yang aman, transparan, dan dapat digunakan kembali.
  3. Kepada masyarakat, kami mengajak untuk mulai beralih ke gaya hidup bebas plastik, mendukung sistem isi ulang, menolak produk berkemasan plastik berlebih khususnya jenis plastik PET (botol plastik minum sekali pakai) dan Polystyrene (styrofoam, tutup gelas kertas, wadah makan plastik) yang paling banyak ditemukan pada tubuh manusia, dan secara aktif menyuarakan hak atas lingkungan dan tubuh yang sehat.

Related Posts

Leave a Reply

About Us

Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

Recent Articles

A female researcher wearing a white lab coat and a brown hijab sits at a laboratory desk with a microscope and Petri dish.
The Body Is the New Battlefield: ECOTON’s Blood Tests Find Microplastics in 100% of Human Samples Tested
April 1, 2026
Dari Sungai hingga Darah: Membaca Jejak Mikroplastik dan Akar Krisis Industri Plastik
March 29, 2026
Laksamana Pertama TNI Purn. Dr. Herjunianto SpPD, MMRS, the Dean of the Faculty of Medicine at UKWMS, stands at the front of a hall speaking into a microphone. Behind him is a presentation slide titled "Pencegahan Bahaya Kesehatan" (Health Hazard Prevention). Three panelists sit at a draped table to his right in a formal setting featuring the Indonesian national emblem.
Microplastics in Our Blood: A Systemic Health Crisis That Demands Immediate Action
March 11, 2026