Malang (18/10) — ECOTON bersama Aliansi Zero Waste Indonesia, BRIN PRKP, dan UNESCO menggelar Final Youth IMPACT 2025 di Malang Creative Center, Kota Malang. Kegiatan ini menjadi puncak dari kompetisi karya tulis ilmiah yang menantang anak muda menghadirkan solusi inovatif untuk mengatasi persoalan mikroplastik dan mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Selama satu bulan, lebih dari 400 karya dikirim dari berbagai daerah di Indonesia, dan diseleksi hingga terpilih 9 finalis terbaik. Acara yang dihadiri lebih dari 200 peserta dan pengunjung ini juga menampilkan pameran edukasi mikroplastik, hasil riset mikroplastik, serta prototype karya ilmiah hasil riset para finalis.
Acara dibuka oleh Ir. Sugik Edy Sartono, S.T., M.T., Vice President Perencanaan, Teknologi Informasi dan Infrastruktur SDA Perum Jasa Tirta I, yang menegaskan pentingnya sinergi antara pengelolaan sungai dan keterlibatan masyarakat.
“Perum Jasa Tirta I memiliki tanggung jawab menjaga Sungai Brantas, termasuk di wilayah Malang. Keterlibatan generasi muda melalui inovasi seperti ini sangat relevan untuk mengurangi pencemaran mikroplastik dan mendukung pengelolaan air yang berkelanjutan,” ujarnya.

Selanjutnya, Rafika Aprilianti dari ECOTON memaparkan bahaya mikroplastik terhadap tubuh manusia serta pentingnya riset kolaboratif masyarakat.
“Citizen science membuka ruang bagi siapa saja untuk menjadi peneliti. Ketika masyarakat ikut meneliti, mereka tidak hanya memahami bahaya mikroplastik, tetapi juga menjadi bagian dari solusi,” jelas Rafika.
Kegiatan berlanjut dengan deklarasi komunitas JEJAK (Jaringan Pemuda Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai) oleh Alex ECOTON, yang mengajak generasi muda untuk bergerak bersama mengurangi plastik sekali pakai, melakukan riset mikroplastik berbasis citizen science dan memperkuat gerakan zero waste.
Dalam sesi pameran, sembilan karya finalis SMA dan mahasiswa menampilkan berbagai inovasi ramah lingkungan. Dari tingkat SMA, muncul SALIA dari SMAN 1 Patianrowo – saringan limbah cair berbahan jerami, eceng gondok, dan serabut kelapa yang mampu menahan hingga 99% partikel mikroplastik; BASTEFIA BAG dari SMAN 1 Bulukumba — kantong teh bebas mikroplastik dari serat pelepah pisang yang terurai dalam tujuh hari; MyOcean dari SMAN 1 Sidayu — aplikasi edukatif berbasis IoT; Jaring Ikan Organik dari SMA Unggulan Rushd – jaring biodegradable dari serat daun nanas; dan Sistem Deteksi Mikroplastik YOLOv12 dari SMA Progresif Bumi Shalawat – pendeteksi mikroplastik berbasis AI.

Sementara di tingkat mahasiswa, EcoThin Bioplastik dari Universitas Airlangga menghadirkan kemasan biodegradable dari pati singkong dan limbah pisang; Ocean WaveTrap dari ITB memanfaatkan gelombang ultrasonik dan IoT untuk memisahkan partikel mikroplastik dengan efisiensi tinggi; Filter Mikroplastik Vortex-Screw Surya dari ITS menyaring hingga 82% mikroplastik dengan energi surya; dan ChitoZen Filter dari UI mengombinasikan biochar tempurung kelapa, ZnO, dan kitosan untuk menurunkan kadar mikroplastik hingga 64,9% dalam lima menit.
Setelah presentasi dan penilaian, diumumkan pemenang Youth IMPACT 2025.
Kategori SMA dimenangkan oleh SMAN 1 Bulukumba (Juara 1), SMAN 1 Sidayu (Juara 2), dan SMAN 1 Patianrowo (Juara 3), dengan SMA Unggulan Rushd (Harapan 1) dan SMA Progresif Bumi Shalawat (Harapan 2).
Kategori mahasiswa dimenangkan oleh Universitas Airlangga (Juara 1), Institut Teknologi Bandung (Juara 2), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (Juara 3), dan Universitas Indonesia (Harapan 1).

Dr. Daru Setyorini, M.Si, Direktur Eksekutif ECOTON, menegaskan bahwa Youth IMPACT bukan sekadar lomba, melainkan gerakan perubahan berbasis ilmu pengetahuan warga.
“Youth IMPACT menjadi ruang bagi generasi muda untuk berinovasi demi lingkungan yang lebih sehat. Kegiatan ini sejalan dengan semangat ECOTON dan SDGs untuk menciptakan masa depan bebas plastik,” ujarnya.
Dr. Sunarti, S.T., M.Pd dari BRIN Pusat Riset Kebijakan Publik sekaligus juri lomba menilai karya-karya peserta menunjukkan kemampuan riset yang matang dan relevan.
“Karya-karya ini membuktikan bahwa riset mikroplastik tidak hanya bisa dilakukan di laboratorium besar. Anak SMA dan mahasiswa pun mampu berkontribusi nyata dalam mendukung pencapaian SDGs.”
Hal senada disampaikan Dr. Ihsanuddin, M.P, dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember sekaligus juri lomba.
“Inovasi yang lahir hari ini bisa menjadi fondasi riset masa depan. Diperlukan keberlanjutan dan dukungan lintas lembaga agar ide-ide ini tidak berhenti di panggung kompetisi,” ujarnya.
Melalui Youth IMPACT 2025, ECOTON dan para mitra memperkuat pesan bahwa upaya mencapai SDGs tidak bisa dilepaskan dari peran masyarakat dan generasi muda melalui citizen science. Dengan riset, kolaborasi, dan semangat berbagi ilmu, anak muda Indonesia siap menjadi agen perubahan menuju lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (*)



Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

