TIMBULAN SACHET MENGKHAWATIRKAN, BRAND AUDIT ARAHKAN PERUBAHAN KE POLA ISI ULANG REFILL SYSTEM

Kota Batu, 2 April 2026 — Sebanyak 30 relawan yang terdiri dari anggota TPS3R Jalibar Berseri, kader PKK Desa Oro-Oro Ombo, Tim Percepatan Pengelolaan Sampah DLH Kota Batu turut berpartisipasi dalam kegiatan brand audit yang dilaksanakan pada Kamis (2/4) lalu di halaman TPS3R Jalibar Berseri. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan merek sampah, khususnya kemasan sekali pakai, sebagai dasar penyusunan strategi pengurangan sampah yang lebih efektif.

Foto : Relawan Melakukan Brand Audit di TPS3R Jalibar Berseri

 

Brand audit dilakukan terhadap sampah yang dihasilkan dari aktivitas AKSA yang telah terlebih dahulu dilaksanakan sebelumnya. Dari hasil pemilahan dan pencatatan, ditemukan bahwa sampah didominasi oleh kemasan sachet dari berbagai produk kebutuhan sehari-hari seperti sabun, sampo, deterjen, dan minuman instan. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan kemasan sekali pakai masih menjadi penyumbang signifikan dalam timbulan sampah rumah tangga.

Kegiatan berlangsung secara partisipatif, di mana para relawan memilah sampah berdasarkan kategori, menghitung jumlah kemasan berdasarkan merek, serta mendokumentasikan hasilnya. Proses ini tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga meningkatkan kesadaran peserta terhadap dampak konsumsi produk berkemasan sachet terhadap lingkungan.

Ony Dwi Setyowati Pokja 4 PKK Desa Oro-Oro Omboh mengatakan ini kali pertama dirinya mengikuti brand audit.

“ini pertama kali saya mengikuti kegiatan Brand Audit, saya belajar mengenali dan mendata merk-merk dari kemasan plastic sekali pakai, tidak disangka ternaya sampah bermerk itu banyak sekali yaa”, tuturnya.

Dari hasil brand audit terhadap sampah yang terkumpul, ditemukan bahwa kemasan sachet masih mendominasi timbulan sampah. 10 besar produsen penyumbang sampah kemasan antara lain, Tanobel menjadi penyumbang terbesar dengan total 774 kemasan. Disusul oleh Mayora sebanyak 300 kemasan, Wings 274 kemasan, dan Danone 273 kemasan. Sementara itu, Indofood tercatat sebanyak 212 kemasan, Santos Jaya Abadi 143 kemasan, serta P&G sebanyak 132 kemasan. Merek lainnya seperti Unilever (63 kemasan), Ultrajaya (61 kemasan), dan Ajinomoto (51 kemasan) juga turut berkontribusi terhadap timbulan sampah, meskipun dalam jumlah lebih kecil.

Diagram : 10 Besar Brand Audit Desa Oro-Oro Ombo Kota Batu

 

Temuan ini memperlihatkan bahwa produk-produk kebutuhan sehari-hari yang dikemas dalam bentuk sachet masih menjadi pilihan utama masyarakat, namun di sisi lain memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan volume sampah yang sulit didaur ulang.

Titik Setyowati ketua TPS3R Jalibar Berseri berpendapat kegiatan brand audit ini berdampak positif sekaligus dapat menyumbang data riset timbulan sampah.

“kegiatan Brand Audit sangat bagus dan bermanfaa, kita jadi mengetahui brand produk apa yang paling banyak digunakan masyarakat dan memang yang paling banyak adalah jenis sachet yang sulit didaur ulang, jual juga tidak laku dan menjadi Residu”, jelasnya.

Titik menambahkan bahwa sachet harusnya dihilangkan karena sulit didaur ulang.

“harapan saya sih kalau bisa kemasan sachet itu ditiadakan, jadi menggunakan wadah alternatif yang bisa pakai ulang atau didaur ulang, mungkin seperti wadah botol yaa..”, tambahkanya

Berdasarkan hasil brand audit, terdapat beberapa rekomendasi yang diusulkan sebagai langkah strategis untuk mengurangi timbulan sampah sachet :

  1. Mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk beralih dari produk sachet ke kemasan isi ulang atau ukuran besar yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
  2. Membangun system layanan isi ulang (refill) di tingkat local/desa, sehingga masyarakat memiliki alternatif yang mudah dijangkau.
  3. Mendorong produsen untuk bertanggung jawab melalui inovasi kemasan yang dapat digunakan kembali atau mudah didaur ulang, serta mengurangi produksi kemasan sekali pakai.

Selain itu, diperlukan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah untuk membatasi peredaran produk sachet secara bertahap, sekaligus memperkuat edukasi publik terkait pengurangan sampah dari sumbernya. Kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Eni Maulidiyah dari DLH Kota Batu berpendapat bahwa masyarakat dihimbau untuk mulai lepas dari ketergantungan kemasan sachet.

“kegiatan Brand Audit ini menjadi momentum agar masyarakat faham, ternyata banyak sekali sampah anorganik dengan berbagai merk yang digunakan masyarakat. Terutama produk-produk kemasan sachet yang bisa dikurangi dengan membeli dalam kapasitas besar atau bisa dibeli secara curah atau refill sehingga sampah pembungkusnya tidak jadi residu”, himbaunya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan data yang dihasilkan tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga menjadi dasar advokasi untuk mendorong perubahan yang lebih luas dalam pengurangan sampah, khususnya sampah sachet di Kota Batu.

Related Posts

Leave a Reply

About Us

Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

Recent Articles

PAMERAN CSO PESTA MEDIA 2026, AZWI LAKUKAN UJI MIKROPLASTIK DI KULIT : Edukasi Ancaman Kesehatan Mikroplastik Untuk Kesehatan Manusia
April 14, 2026
No Longer Science Fiction: Ecoton Finds Nanoplastics in Human Blood and Sperm
April 13, 2026
BRAND AUDIT UNGKAP DOMINASI SAMPAH SACHET DI KOTA KEDIRI, REFILL SYSTEM JADI SOLUSI STRATEGIS
April 8, 2026