
GRESIK – Kali Surabaya masih menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan. Hal tersebut terlihat dari hasil sensus ikan Kali Surabaya 2026 yang dilakukan ECOTON bersama PT. Petrokimia Gresik (Persero) pada 12–13 September 2026.
Sensus dilakukan pada empat segmen, yaitu Perning–Sumberame, Sumberame–Wringinanom, Wringinanom–Lebaniwaras, dan Lebaniwaras–Legundi.
Dari pengamatan tersebut, tim mencatat 71 ekor ikan yang terdiri dari tujuh jenis, yaitu Jendil, Bader Merah, Bader Putih, Rengkik, Palung, Nilem atau Muntho, dan Muraganting.

Jendil menjadi ikan yang paling banyak ditemukan. Sebanyak 44 ekor Jendil tercatat dalam sensus atau sekitar 65 persen dari seluruh ikan yang ditemukan.
Selain menghitung jumlah ikan, tim juga mencatat panjang total, panjang standar, lebar tubuh, berat, dan jenis kelamin. Data tersebut memberikan gambaran awal mengenai ikan yang masih ditemukan di Kali Surabaya.

Jendil Paling Banyak Ditemukan
Dari 71 ikan yang tercatat, Jendil menjadi jenis yang paling banyak ditemukan. Ukuran Jendil cukup beragam, dengan panjang total sekitar 20–60 sentimeter dan rata-rata berat sekitar 0,623 kilogram.

Sementara itu, tim menemukan Rengkik dengan panjang total 46–56 sentimeter. Rata-rata panjang Rengkik sekitar 51 sentimeter dengan rata-rata berat sekitar 1,398 kilogram.
Jenis ikan lainnya adalah Bader Merah, Bader Putih, Palung, Nilem atau Muntho, dan Muraganting.
Data ukuran dan berat tersebut dapat menjadi pembanding ketika pengamatan dilakukan kembali. Dengan begitu, perubahan ukuran ikan di lokasi yang sama dapat dilihat dari waktu ke waktu.
Lebih Banyak Ikan Betina yang Ditemukan

Dari 71 ikan yang ditemukan, data jenis kelamin berhasil dicatat pada 67 ekor. Sebanyak 52 ekor atau 77,6 persen merupakan ikan betina, sedangkan 15 ekor atau 22,4 persen merupakan ikan jantan.
Pada Jendil, tercatat 35 ekor betina dan delapan ekor jantan.
Namun, angka tersebut belum dapat menggambarkan kondisi populasi ikan Kali Surabaya secara keseluruhan. Sensus dilakukan pada waktu dan lokasi tertentu sehingga hasilnya perlu dilihat bersama pengamatan berikutnya.
Karena itu, pengukuran yang dilakukan kembali akan membantu melihat apakah komposisi jenis kelamin, jumlah, ukuran, dan jenis ikan menunjukkan pola yang sama.
Di Tengah Catatan Ikan yang Hilang

Keberadaan ikan di Kali Surabaya tidak dapat dilepaskan dari catatan mengenai perubahan keanekaragaman ikan di sungai tersebut.
Sebelumnya, penelitian dan pemberitaan mengenai Kali Surabaya telah mencatat adanya jenis ikan yang semakin jarang ditemukan. Sejumlah jenis bahkan pernah dilaporkan hilang dari sungai akibat perubahan kondisi habitat dan pencemaran.
Catatan tersebut menjadi salah satu alasan untuk kembali melihat jenis ikan apa saja yang masih ditemukan di Kali Surabaya.
Dalam sensus September 2026, ECOTON menemukan tujuh jenis ikan, yaitu Jendil, Bader Merah, Bader Putih, Rengkik, Palung, Nilem atau Muntho, dan Muraganting.
Namun, hasil sensus ini tidak dapat langsung diartikan bahwa jenis ikan yang sebelumnya dilaporkan hilang telah kembali. Waktu, lokasi, metode penangkapan, dan cakupan pengamatan berbeda sehingga hasilnya perlu dibaca secara hati-hati.
Sebaliknya, jika suatu jenis ikan tidak ditemukan dalam satu kali sensus, kondisi tersebut juga belum cukup untuk menyatakan bahwa ikan tersebut telah punah.
Empat Segmen Memberi Gambaran Awal

Sensus kali ini dilakukan pada empat segmen Kali Surabaya. Pengamatan tersebut memberikan gambaran mengenai jenis ikan yang ditemukan pada bagian sungai yang disusuri tim.
Kali Surabaya sendiri membentang sekitar 42 kilometer, dari Dam Mlirip hingga Dam Jagir. Karena itu, masih ada bagian sungai lain yang menarik untuk dilihat dan dibandingkan.
Pada pengamatan ikan, suatu jenis dapat tidak tertangkap meskipun masih berada di lokasi. Kondisi habitat, musim, waktu pengamatan, perilaku ikan, alat, dan metode pengambilan sampel dapat memengaruhi peluang ikan ditemukan.
Untuk itu, pengamatan pada segmen lain dan pengulangan sensus pada waktu yang berbeda akan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai sebaran ikan di Kali Surabaya.
Mencari Kembali Ikan yang Pernah Dilaporkan Hilang
Catatan mengenai ikan yang pernah dilaporkan hilang dari Kali Surabaya juga perlu dilihat kembali melalui pengamatan lapangan.
Pencarian tidak cukup dilakukan pada satu titik atau satu waktu. Pengamatan pada beberapa bagian sungai dapat membantu mengetahui apakah jenis tertentu masih ditemukan di lokasi lain.
Selanjutnya, hasil pengamatan dapat dibandingkan dengan data sensus sebelumnya. Cara ini dapat membantu membedakan ikan yang memang sudah tidak ditemukan dengan ikan yang belum terdeteksi pada pengamatan tertentu.
Menurut Amalia Fibrianty, Koordinator Program PETRO-TIRTA, pendataan ikan perlu dilakukan secara berulang agar perubahan yang terjadi di Kali Surabaya dapat terlihat dengan lebih jelas.
Data dari sensus September 2026 dapat menjadi titik awal untuk pengamatan berikutnya. Dengan pencatatan yang konsisten, perubahan jenis dan jumlah ikan akan lebih mudah dibandingkan.
Penelitian Terbaru Menambah Catatan tentang Ikan Kali Surabaya
Sementara itu, penelitian mengenai ikan asli Kali Surabaya yang diterbitkan dalam jurnal Biodiversitas pada 2026 mencatat 35 spesies ikan dari 31 genus dan 17 famili. Penelitian tersebut dilakukan pada Desember 2025 hingga Januari 2026 di tiga stasiun Kali Surabaya.
Penelitian tersebut memperbarui informasi mengenai jenis ikan yang masih ditemukan di Kali Surabaya. Hasilnya juga menunjukkan adanya perbedaan jumlah jenis ikan pada lokasi pengamatan yang berbeda.
Hasil penelitian tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan sensus September 2026. Waktu, lokasi, metode, dan upaya pengambilan sampel berbeda.
Meski demikian, kedua hasil pengamatan tersebut sama-sama menunjukkan bahwa pencatatan ikan Kali Surabaya masih penting dilakukan. Pengamatan secara berkala akan memberikan data yang lebih lengkap mengenai perubahan komunitas ikan di sepanjang sungai.
Dari Sensus Awal Menuju Pemantauan Berikutnya
Sensus ikan Kali Surabaya 2026 mencatat 71 ekor ikan dari tujuh jenis pada empat segmen sungai. Jendil menjadi jenis yang paling banyak ditemukan.
Data tersebut menjadi catatan awal mengenai ikan yang masih ditemukan di Kali Surabaya. Berikutnya, hasil sensus dapat dibandingkan dengan pengamatan pada segmen lain dan periode yang berbeda.
Dengan pencatatan yang dilakukan secara konsisten, perubahan jenis, jumlah, ukuran, dan sebaran ikan dapat dilihat dengan lebih jelas.
Bagi ECOTON bersama PT. Petrokimia Gresik (Persero), pendataan ini menjadi bagian dari upaya melihat kondisi Kali Surabaya melalui kehidupan yang ada di dalam sungai.
Kondisi sungai tidak hanya dilihat dari kualitas air. Keberadaan ikan dan perubahan komunitasnya juga memberikan informasi tentang kondisi ekosistem Kali Surabaya.



Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

