
SURABAYA, 4 Oktober 2026 — Ikan yang masih bertahan di Kali Surabaya ternyata membawa jejak plastik di dalam tubuhnya.
Pada September 2026, ECOTON menganalisis lima jenis ikan lokal yang ditemukan dalam kegiatan sensus ikan. Hasilnya, kelima jenis ikan tersebut mengandung mikroplastik dengan total 159 partikel.
Temuan ini muncul tidak lama setelah Jawa Pos memberitakan riset Veryl Hasan, peneliti Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, yang menyebut sedikitnya 12 spesies ikan Kali Surabaya telah dinyatakan punah dan sekitar 35 spesies masih tersisa.
159 Partikel Mikroplastik Ditemukan pada Lima Jenis Ikan

Dari lima jenis ikan yang ditemukan dalam sensus dan kemudian dianalisis, seluruhnya mengandung mikroplastik.
Jumlahnya mencapai 159 partikel, terdiri atas 78,61 persen fragmen, 20,12 persen fiber, dan 1,25 persen film. Fragmen merupakan serpihan plastik, fiber berupa serat, sedangkan film berbentuk lembaran plastik tipis.
Jendil memiliki jumlah partikel paling banyak, yaitu 50 partikel. Tetapi jumlah tersebut tidak bisa langsung dijadikan ukuran bahwa Jendil memiliki paparan paling tinggi. Sampel Jendil juga memiliki berat paling besar, yaitu 500 gram.
Ketika jumlah partikel dihitung berdasarkan berat sampel, Palung memiliki angka tertinggi, yaitu 0,257 partikel per gram, disusul Bader Merah sebesar 0,245 partikel per gram.
Perhitungan berdasarkan berat membantu melihat perbedaan antar sampel dengan ukuran yang berbeda. Namun angka tersebut belum dapat digunakan untuk menyatakan tingkat risiko biologis pada ikan. Untuk mengetahuinya, masih diperlukan informasi lebih lanjut mengenai bagian tubuh yang dianalisis, ukuran partikel, jenis polimer, jalur paparan, dan lama paparan.
Dari Mana Mikroplastik Datang?

Mikroplastik tidak muncul begitu saja di sungai.
Partikel plastik berukuran sangat kecil ini dapat terbentuk ketika plastik mengalami pelapukan, terbakar, atau bergesekan. Gesekan ban kendaraan juga dapat menghasilkan partikel, sementara pakaian berbahan sintetis dapat melepaskan serat saat dicuci.
Partikel-partikel tersebut kemudian dapat berpindah melalui udara, debu, air hujan, aliran air di permukaan tanah, dan air limbah hingga masuk ke sungai.
Di Kali Surabaya, ECOTON menemukan mikroplastik pada beberapa media lingkungan.
Di udara sekitar pabrik daur ulang plastik di Balongbendo dan timbunan sampah di Kedunganyar tercatat 630,5 partikel per jam.
Pada air Kali Surabaya ditemukan 0,73–3,6 partikel per liter, sedangkan pada sedimen tercatat 0,22–0,54 partikel per gram.
Sementara itu, pada limbah cair pabrik daur ulang plastik di aliran Brantas ditemukan 4,46–9,18 partikel per liter.
Yang semula terlihat sebagai sampah di daratan atau partikel di udara pada akhirnya dapat berpindah dan masuk ke perairan.
Ketika Mikroplastik Disebut sebagai Epidemi

Persoalan ini tidak hanya terjadi di Kali Surabaya.
The New York Times edisi 28 September 2026 melalui artikel “An Epidemic Spreads Across Indonesia” menggambarkan mikroplastik sebagai persoalan yang semakin meluas di Indonesia. Laporan tersebut juga mengutip penelitian ECOTON mengenai mikroplastik di udara 18 kota dan temuan serat sintetis pada 68 sungai yang diteliti.
Dalam laporan yang sama, pembakaran sampah, debu, pakaian sintetis, ban kendaraan, dan limbah cair industri disebut sebagai bagian dari sumber pencemaran mikroplastik.
Survei Kementerian Kesehatan 2023 yang dikutip The New York Times juga mencatat sekitar 57 persen rumah tangga di Indonesia membakar sampahnya.
Bagi ECOTON, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan mikroplastik tidak bisa hanya dilihat dari apa yang terlihat di sungai. Sumber pencemarnya berada jauh sebelum partikel itu sampai ke air.
Sungai Bukan Hanya Tempat Hidup

Kualitas sungai penting bukan hanya untuk ikan yang hidup di dalamnya. Sungai juga menjadi tempat berlangsungnya proses reproduksi sejumlah jenis ikan.
Pada banyak ikan bertulang sejati yang melakukan pembuahan eksternal, sperma dan sel telur bertemu di air. Kondisi lingkungan seperti suhu, tingkat keasaman, kandungan ion, dan kepekatan air dapat memengaruhi aktivitas sperma dan proses pembuahan.
Karena itu, yang dibutuhkan ikan bukan air yang steril, melainkan kondisi perairan yang sesuai untuk pertumbuhan, pembuahan, dan perkembangan awal.
Mikroplastik sendiri perlu dibedakan dari bahan kimia pengganggu sistem hormon atau endocrine-disrupting chemicals (EDC). Tidak semua mikroplastik merupakan EDC. Namun plastik dapat mengandung bahan tambahan tertentu yang memiliki aktivitas pengganggu endokrin, dan partikel mikroplastik dapat berinteraksi dengan pencemar lain di lingkungan.
Sejumlah penelitian eksperimental telah melaporkan perubahan pada sistem hormon dan parameter reproduksi ikan setelah terpapar mikroplastik maupun bahan kimia terkait plastik.
Namun, temuan laboratorium tersebut belum dapat digunakan untuk menyatakan bahwa mikroplastik telah menyebabkan gangguan reproduksi pada ikan Kali Surabaya.
Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat kondisi gonad, hormon reproduksi, kualitas sperma atau sel telur, serta proses pembuahan dan perkembangan embrio pada ikan lokal.
71 Ikan Masih Ditemukan dalam Sensus 2026

Di tengah laporan tentang hilangnya sejumlah spesies ikan, ECOTON bersama PT Petrokimia Gresik (Persero) melakukan sensus ikan pada 12–13 September 2026.
Sensus tersebut menemukan 71 ekor ikan dari tujuh jenis, yaitu Jendil, Bader Merah, Bader Putih, Rengkik, Palung, Nilem/Muntho, dan Muraganting.
Jendil menjadi jenis yang paling banyak ditemukan, sebanyak 44 ekor atau sekitar 65 persen dari seluruh tangkapan sensus.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah komposisi jenis kelamin. Sekitar 80 persen ikan yang tertangkap teridentifikasi berkelamin betina.
Data tersebut menarik untuk diteliti lebih lanjut karena rasio jantan dan betina dapat menjadi salah satu informasi dalam melihat kondisi populasi. Namun, hasil sensus ini belum cukup untuk menyimpulkan adanya gangguan hormonal atau reproduksi.
12 Spesies Ikan Hilang

Jawa Pos pada 12 September 2026 memberitakan hasil penelitian Veryl Hasan yang menyebut sedikitnya 12 spesies ikan Kali Surabaya telah dinyatakan punah dan sekitar 35 spesies masih tersisa.
Pemberitaan tersebut mengaitkan hilangnya spesies dengan kualitas air dan pencemaran limbah.
Temuan tersebut perlu dibaca bersama dengan kondisi Kali Surabaya saat ini. Sensus ECOTON masih menemukan ikan di sungai, tetapi pada saat yang sama mikroplastik juga ditemukan di tubuh lima jenis ikan yang dianalisis.
Dua informasi ini berasal dari penelitian dengan waktu dan metode yang berbeda. Karena itu, tidak tepat menyatakan bahwa mikroplastik telah terbukti menjadi penyebab hilangnya 12 spesies ikan tersebut.
Yang terlihat jelas adalah tekanan terhadap ekosistem sungai semakin membutuhkan perhatian.
“Percuma Melepas Ikan ke Rumah yang Masih Kotor”
Bagi ECOTON, konservasi ikan tidak cukup dilakukan dengan menambah jumlah ikan.
“Untuk pelestarian ikan di Kali Surabaya dibutuhkan langkah serius pengelolaan sampah dan monitoring limbah cair di DAS Kali Surabaya.”
— Prigi Arisandi, Peneliti ECOTON
Pesan yang sama juga disampaikan dalam program konservasi ikan. Penebaran benih memang dapat menambah jumlah ikan, tetapi ikan tetap membutuhkan habitat yang mendukung untuk mencari makan, tumbuh, dan berkembang biak.
Karena itu, sungai harus dipulihkan bersama dengan upaya konservasinya.
Yang Harus Dibenahi dari Hulu
ECOTON mendorong pengendalian pencemaran dilakukan sejak sumbernya.
Pertama, menghentikan pembakaran sampah terbuka. Layanan pengangkutan dan pemilahan sampah perlu diperluas hingga tingkat desa.
Kedua, memperkuat pengawasan limbah industri. Aktivitas industri, terutama daur ulang plastik, perlu diawasi agar tidak menjadi sumber kebocoran mikroplastik ke perairan.
Ketiga, memasukkan mikroplastik dalam pemantauan Kali Surabaya. Pemantauan kualitas air perlu melihat bukan hanya pencemar konvensional, tetapi juga mikroplastik.
Keempat, memperkuat penelitian. Identifikasi jenis polimer, pemeriksaan air dan sedimen, kajian plankton dan pakan alami, serta penelitian parameter reproduksi ikan perlu dilakukan untuk mengetahui risiko secara lebih menyeluruh.
Kelima, memulihkan habitat ikan. Perlindungan suaka ikan, pemulihan vegetasi bantaran, dan pemantauan bersama masyarakat harus menjadi bagian dari upaya konservasi Kali Surabaya.
Pencemaran mikroplastik tidak datang dari satu sumber. Penanganannya juga tidak bisa hanya mengandalkan satu program.
Ikan yang masih hidup di Kali Surabaya memberi tanda bahwa sungai ini masih punya kehidupan yang harus dipertahankan. Tetapi kehidupan itu membutuhkan sungai yang sehat.



Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

