
Gresik, 11 September 2026 — Puluhan ribu benih ikan lokal Kali Surabaya dilepas ke sungai, Jumat (11/9), di kawasan bantaran Kali Surabaya, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Penebaran ikan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan konservasi yang mempertemukan ECOTON, PT Petrokimia Gresik (Persero), Perum Jasa Tirta I (PJT I), BBWS Brantas, pemerintah, perusahaan, komunitas, sekolah, dan masyarakat.
Selain penebaran benih, kegiatan bertajuk “Launching Kolam Budidaya Ikan Lokal dan Penebaran Benih Ikan Endemik Kali Surabaya” tersebut merupakan bagian dari program PETRO-TIRTA. Selain penebaran benih, kegiatan diisi dengan edukasi lingkungan untuk pelajar, lomba mewarnai, lomba video, wisata perahu, serta sensus ikan.
Sejak pagi, kawasan bantaran Kali Surabaya mulai ramai oleh siswa dan masyarakat. Lebih dari 200 peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengenalkan kondisi sungai sekaligus mengajak peserta melihat secara langsung kehidupan di dalamnya.
Sementara itu, siswa sekolah dasar mengikuti lomba mewarnai dengan tema menjaga Kali Surabaya dari sampah. Adapun pelajar SMA dan sederajat membuat video mengenai sungai dan pentingnya menjaga ikan lokal. Peserta juga mengikuti wisata perahu sebelum kemudian terlibat dalam kegiatan penebaran ikan.
Menambah Keanekaragaman Ikan
Tenaga Ahli Sipil PJT I, Bayu Sasmita, mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari monitoring dan evaluasi kualitas air serta upaya meningkatkan keanekaragaman hayati di Kali Surabaya.
“Monitoring dan evaluasi kualitas air salah satunya masuk dalam kegiatan hari ini. Tujuannya untuk menambah keanekaragaman hayati. Penebaran bibit ikan ini juga sudah mendapatkan rekomendasi dari Dinas Perikanan. Ikan lokal yang ditebar antara lain tawes, tombro, dan gabus,” jelas Bayu.
Selain itu, ia berharap ikan yang ditebar dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi ekosistem sungai maupun masyarakat di sekitar Wringinanom.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Yudi Abrianto dari BBWS Brantas. Menurutnya, menjaga sungai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk dalam mempertahankan fungsi sempadan sungai.
“Kami selalu mendukung dan membantu upaya kepedulian terhadap lingkungan dan sempadan sungai sesuai dengan peruntukannya. Kami mendukung semangat masyarakat, ECOTON, dan Jasa Tirta dalam menjaga lingkungan sungai,” ujar Yudi.
Kolam Budidaya untuk Mengenalkan Ikan Lokal Kali Surabaya
Program PETRO TIRTA juga diwujudkan melalui pembangunan kolam budidaya ikan lokal di kawasan bantaran Kali Surabaya.

Koordinator kegiatan, Amalia Fibrianty, mengatakan kolam tersebut diharapkan dapat menjadi tempat belajar bagi masyarakat dan pelajar untuk mengenal ikan lokal serta memahami kondisi habitatnya.
“Kolam budidaya ini kami harapkan bisa menjadi sarana edukasi. Anak-anak dan masyarakat dapat mengenal ikan lokal dan melihat bagaimana proses pemeliharaannya,” kata Amalia.
Setelah itu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama atau ruwatan yang melibatkan unsur PJT, BBWS, sekolah, komunitas, dan perusahaan di sekitar bantaran Kali Surabaya.
Dalam ruwatan tersebut, peserta membawa berbagai jajanan pasar dan kue lokal yang menggunakan pembungkus organik dan menghindari plastik sekali pakai. Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan penebaran benih ikan ke Kali Surabaya.

Kali Surabaya Masih Menjadi Habitat Ikan Lokal
Founder ECOTON, Prigi Arisandi, mengatakan Kali Surabaya masih memiliki keanekaragaman ikan yang perlu dijaga.
“Di Kali Surabaya terdapat sekitar 35 jenis ikan. Kami sangat berterima kasih kepada PJT, BBWS, dan perusahaan yang turut mendukung pelepasan ikan-ikan lokal di Kali Surabaya,” ujarnya.
Menurut Prigi, penebaran ikan perlu diikuti dengan upaya menjaga kualitas air dan habitatnya. Karena itu, penebaran ikan perlu diikuti dengan upaya menjaga kualitas air dan habitatnya. Tanpa kondisi sungai yang baik, ikan yang ditebar akan sulit bertahan dan berkembang.
“Kalau ingin ikan-ikan tetap hidup, kita tidak boleh membuang sampah ke sungai. Industri juga kami harapkan tidak membuang limbah tanpa diolah ke sungai. Mari bersama-sama menjaga ikan dan Kali Surabaya agar tetap panjang umur, karena sungai mendukung kehidupan masyarakat, sawah, dan industri yang membutuhkan air,” tambahnya.
Sensus Ikan Menjadi Bagian dari Pemantauan
Setelah kegiatan penebaran ikan, ECOTON bersama komunitas WIWO (Wader Pari dan Wader Cakul) dan nelayan Sekar Mulyo, Desa Turi, Kecamatan Megaluh, Jombang, melakukan sensus ikan di Kali Surabaya.
Sensus dilakukan untuk mencatat keberadaan dan keanekaragaman ikan air tawar yang masih ditemukan di sungai. Pengambilan ikan dilakukan menggunakan jaring dari atas perahu.
Dalam kegiatan tersebut, ditemukan beberapa ikan lokal, di antaranya montho dan rengkik dengan ukuran yang cukup besar.
Priyo, salah satu nelayan yang terlibat dalam sensus, mengatakan kondisi sungai turut memengaruhi proses pencarian ikan.
“Di area Kali Surabaya depan kantor ECOTON, tadi kami mendapatkan ikan montho dan rengkik dengan ukuran lumayan besar. Agak sulit mencari ikan karena banyak kotoran atau limbah dari aliran atas yang membuat jaring kotor dan licin, sehingga ikan lebih sulit tertangkap,” ungkap Priyo.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa ikan lokal masih ditemukan di Kali Surabaya. Namun, kondisi jaring yang kotor akibat material dari aliran sungai juga menjadi pengingat bahwa keberadaan ikan tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan tempat mereka hidup.
Bagi ECOTON dan komunitas WIWO, pencatatan jenis dan kondisi ikan penting dilakukan secara berkala untuk melihat perubahan keanekaragaman hayati Kali Surabaya.
Pelajar Belajar dari Sungai

Kegiatan konservasi juga melibatkan pelajar. Salah satunya Atlafanda Nausyad Pasya, siswa kelas 3 UPT SDN 192 Gresik, yang mengikuti lomba mewarnai bertema menjaga Kali Surabaya dari sampah.
“Tadi aku mewarnai gambar dengan judul ‘Ayo Jaga Kali Surabaya dari Sampah’. Aku suka bermain di sungai yang ada di depan rumahku di Kandangasin. Aku suka bermain di sungai yang bersih dari sampah. Kalau ada sampah, nanti bisa dimakan ikan di sungai. Kasihan ikannya nanti bisa mati,” tuturnya.
Abhi dan Krishna, siswa kelas 2 SMAN 1 Driyorejo, memilih membuat video mengenai pentingnya menjaga ikan lokal Kali Surabaya. Keduanya juga mengikuti wisata perahu dan penebaran ikan.
Melalui kegiatan tersebut, mereka mendapat kesempatan untuk melihat kondisi sungai secara langsung, bukan hanya melalui materi pembelajaran di sekolah.
Guru SD Muhammadiyah Wringinanom, Khairunnisa, juga mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pengenalan lingkungan secara langsung membuat siswa lebih mudah memahami pentingnya menjaga sungai dan ikan yang hidup di dalamnya.
“Anak-anak bisa belajar langsung tentang sungai dan ikan. Apalagi sekolah kami lokasinya tidak jauh dari Kali Surabaya,” ujarnya.
Menjaga Ikan Tidak Bisa Dipisahkan dari Menjaga Sungai
Keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam kegiatan konservasi Kali Surabaya. Perusahaan, pemerintah, pengelola sumber daya air, komunitas, sekolah, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga sungai.
Bambang dari PT Milan mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan ruang bagi perusahaan untuk ikut terlibat dalam pelestarian ikan lokal.
“Kami senang sekali dapat ikut dalam kegiatan untuk melestarikan ikan di Kali Surabaya agar dapat berkembang biak dan membantu menjaga ekosistem sungai,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang lomba mewarnai tingkat SD/sederajat dan lomba video tingkat SMA/sederajat.
Bagi ECOTON, penebaran benih dan pembangunan kolam budidaya merupakan bagian dari upaya konservasi ikan lokal. Namun, keberhasilan upaya tersebut tetap bergantung pada kondisi sungai.
Ikan membutuhkan air yang layak, habitat yang sesuai, dan sungai yang bebas dari pencemaran. Karena itu, menjaga keberadaan ikan lokal pada akhirnya juga berarti menjaga Kali Surabaya sebagai ruang hidup bagi berbagai makhluk sekaligus sumber air bagi masyarakat di sepanjang alirannya.



Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

