KEDIRI, (2/2) – Warga RT 02/ RW 03 Kelurahan Mrican, Kota Kediri, merilis data strategis profil timbulan sampah rumah tangga hasil kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) 2026. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini merupakan kolaborasi erat antara warga setempat, DLHKP Kota Kediri, Mahasiswa KKN UNP Kota Kediri, dan ECOTON, dengan melibatkan 26 responden rumah tangga yang secara sukarela menyetorkan sampahnya untuk diteliti.
Edukasi Door-to-Door dan Temuan Lapangan
Kegiatan AKSA tidak sekadar menimbang sampah, tetapi juga menjadi sarana edukasi langsung kepada masyarakat. Para relawan dari Mahasiswa KKN UNP turun langsung ke rumah-rumah warga untuk memastikan proses pemilahan berjalan benar sejak dari sumbernya.

“Kegiatan AKSA dimulai dengan edukasi door-to-door, kemudian dilakukan pengambilan sampah terpilah ke rumah-rumah. Sampah tersebut ditimbang dan dicatat. Jika masih ada sampah yang tercampur, kami membantu memilah di depan pemilik rumah sekaligus mengedukasinya agar warga paham kategori sampah yang mereka hasilkan,” ujar Riska Dwi Rohmatika, salah satu mahasiswa KKN UNP yang menjadi relawan peneliti.
Dominasi Sampah Organik dan Bahaya Gas Metan
Hasil analisis menunjukkan komposisi sampah didominasi oleh sampah organik sebesar 53,9%. Temuan ini menjadi alarm penting bagi lingkungan. Sampah organik yang tidak terkelola dan berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akan mengalami dekomposisi anaerob yang menghasilkan gas metan (CH4).
Tonis Afrianto Koordinator Program Zero Waste Cities ECOTON mengatakan kegiatan ini adalah bagian penting mengenali komposisi jenis sampah kawasan.

“Dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah diperlukan data sampah disebuah kawasan, jika data komposisi sampah sudah diketahui maka penanganannnya juga jelas, misalnya timbulan sampah organik mendominasi maka perlu dikembangkan upaya khusus penanganan sampah jenis ini, jika organik paling mendominasi artinya juga ada upaya menanangani gas metan”, jelasnya.
Gas metan merupakan gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2). Selain memicu perubahan iklim, akumulasi gas metan di TPA berisiko tinggi menyebabkan ledakan dan kebakaran hebat. Oleh karena itu, warga berkomitmen memperbanyak titik komposter guna memproses sampah organik di pemukiman.
Kepatuhan terhadap Regulasi Nasional
Langkah ini sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menuju Indonesia Zero Waste 2050. Pemerintah menargetkan bahwa mulai tahun 2030 tidak ada lagi pembangunan TPA baru, dan secara bertahap sampah organik dilarang masuk ke TPA guna memenuhi komitmen nasional dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (E.NDC) untuk menekan emisi sektor limbah.
Potensi Ekonomi dan Tantangan Residu
Selain organik, data AKSA 2026 mencatatkan potensi ekonomi melalui sampah daur ulang sebesar 26%, dengan kontribusi terbesar dari kardus duplex (13,015 kg) dan botol kaca (9,069 kg). Sementara itu, sampah residu mencatatkan angka 20,2%, yang didominasi oleh barang bekas seperti tas/sepatu (5,17 kg) serta kategori sanitasi seperti popok dan tisu (4,28 kg).

“Memperbanyak komposter di lingkungan kami adalah langkah nyata mematuhi aturan nasional sekaligus melindungi bumi. Kami tidak ingin sampah kami menjadi bom waktu gas metan di TPA,” tegas Riyadi, Ketua Bank Sampah Pringgodani.
Program ini diharapkan menjadi model bagi wilayah lain di Kota Kediri dalam mewujudkan tata kelola sampah berbasis data dan partisipasi aktif masyarakat secara langsung.
Sebelumnya RT.02/RW.03 Kelurahan Mrican ini mendapatkan juara 1 lomba Kota Kediri Bebas Sampah (KEBAS) 2025 tingkat perkotaan. (*)



Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) is a foundation focused on the conservation of river ecosystems and wetlands in Indonesia. We conduct scientific research, environmental education, and awareness campaigns to improve water quality and protect biodiversity.

