Nina Si Aktivis Cilik Lingkungan Suruh Walikota Risma Bersihkan Kali Surabaya

+
3 Views

Surabaya – Aeshnina Azzahra Aqilani atau yang kerap disapa Nina, pada sabtu (10/10) bertemu dengan bu Risma, di kediamannya di Jl. Sedap Malam. Setelah beberapa waktu lalu ia diundang ke Kedutaan Besar Jerman di Indonesia karena surat yang ia buat terkait sampah plastik, kali ini ia kembali menyuarakan kegelisahannya terkait banyaknya tumpukan sampah di Kali Surabaya.

Seorang pelajar asal Gresik berusia 13 tahun ini dalam suratnya mengatakan bahwa, pada Agustus lalu ia bersama komunitas Perempuan Pejuang Kali Surabaya melakukan susur sungai dari Mlirip (Mojokerto) hingga Joyoboyo (Surabaya). Dalam aksi susur sungai tersebut ia menemukan sebanyak 60 tumpukan sampah dari wilayah Waru Gunung hingga Joyoboyo.

(Dok: ECOTON) Nina Memberikan Surat Ke bu Risma, Walikota Surabaya

Sampah plastik memang menjadi persoalan yang serius, dampaknya terhadap lingkungan sangatlah penting untuk diperhatikan demi kembalinya lingkungan yang sehat. Disinyalir dari laman National Geographic. Id, berdasarkan statistik dari Our World in Data, produksi tahunan plastik di dunia meningkat hampir 200 kali lipat sejak 1950. Pada 1950, diketahui dunia hanya memproduksi dua juta ton plastik per tahunnya. Namun sejak, saat itu, produksi meningkat drastis.( http://nationalgeographic.grid.id/read/132284960/membicarakan-masalah-sampah-plastik-semangat-kolaborasi-menuju-kehidupan-lestari?page=all )

(Dok: ECOTON) Kegiatan Susur Sungai Oleh Perempuan Pejuang Kali Surabaya

Sayangnya, dari banyaknya plastik, hanya sekitar 20% yang didaur ulang. Pada akhirnya, sekitar delapan juta ton berakhir di lautan setiap tahunnya. Plastik, seperti yang kita tahu, dapat bertahan lama di Bumi hingga 60-70 tahun. Dan plastik yang dibuat pada masa awal pun, kemungkinan masih ada hingga saat ini.

berikut isi surat tersebut:

“Surabaya, sabtu 10 oktober 2020

Kepada Yang Terhormat

Dr Ir Tri Rismaharini, MT

Walikota Surabaya

Di Tempat

Salam Lestari,

Perkenalkan saya Aesnina Azzahra aqilani pada  agustus 2020 saya Bersama komunitas Perempuan Pejuang Kali Surabaya melakukan susur sungai dari Mlirip Mojokerto hingga Joyoboyo Surabaya dan menemukan banyak timbunan sampah disepanjang Bantaran kali Surabaya, saya menemukan 60 tumpukan sampah dari wilayah warugunung hingga Joyoboyo.

Padahal kali Surabaya adalah bahan baku PDAM Kota Surabaya dan menjadi rumah bagi 20 lebih spesies ikan. Untuk itu Saya mohon kepada Bu Risma untuk

  1. Menasehati warga Warugunung, Karangpilang, Karah hingga Sawunggaling untuk tidak membuang sampah plastik ke kali Surabaya, sampah plastik akan berubah menjadi remah-remah plastik,yang namanya mikroplastik, mikroplastik bisa menyerap polutan-polutan yang ada di sungai seperti limbah cair, pestisida, logam berat, dll. remah2 plastik akan dimakan ikan, bahkan ikan-ikan banyak ditemukan terjerat tali plastik. ikan tak bisa membedakan antara plastik dengan makanan. Saat ini banyak ditemukan ikan kali Surabaya dalam lambungnya terdapat mikroplastik, mikoplastik akan melepas polutan polutan ke dalam tubuh ikan, lalu ikan akan dimakan oleh manusia. Jadi mikroplastik sangatlah berbahaya.
  2. Mengimbau warga Surabaya agar tidak lagi  mendirikan bangunan rumah di bantaran/tepian kali Surabaya
  3. Mengawasi pabrik-pabrik yang membuang limbahnya ke sungai. Banyak juga industri yang dibangun di bantaran Kali Surabaya. Biasanya pabrik-pabrik yang tidak bertanggung jawab kan membuang limbahnya pada saat malam hari, ketika semua orang tidur. Padahal itu sudah sangat. Seharusnya pabrik-pabrik tersebut diberi sanksi atau denda agar tidak mengulangi lagi.

Demikian surat dari saya, saya ingin surat ini dibaca langsung oleh bu Risma, dan saya berharap bu Risma bisa mewujudkan permohonan saya, terimakasih sudah menggunakan waktunya untuk membaca surat dari saya.

Dengan hormat,

Aeshnina Azzahra Aqilani”

Pertemuan Nina sabtu lalu direspon baik oleh emak’e arek-arek Suroboyo.  Bu Risma menjawab akan mengutus bu Erna selaku Dinas Kebersihan, untuk membersihkan timbunan sampah di wilayah bantaran Sawunggaling, Karangpilang dan Waru Gunung Kali Surabaya. (Ano/ECOTON)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *