Publikasi

Home Publikasi
+
Press Release Sidoarjo Darurat Sampah Plastik

ECOTON bersama River Warriors Indonesia melakukan susur sungai  Mangetan, temukan 283 titik timbulan sampah di bantaran. Terkait masalah lingkungan di bantaran sungai/kanal Mangatan, sehingga perlu adanya pengolahan sampah yang terpadu di […]

+
BRAND AUDIT

Brand audit adalah kegiatan pendataan dan pengelompokan sampah plastik menurut merek perusahaan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui merek yang paling diminati masyarakat dan sampah plastik yang paling banyak dihasilkan, baik […]

JURNAL : MIKROPLASTIK PADA FESES MANUSIA

Mikroplastik adalah masalah baru di lingkungan akibat dari penggunaan plastik yang massive serta kelalaian limbahnya yang dapat mencemari lingkungan darat hingga ke perairan. Penelitian terkini sudah banyak melaporkan keberadaannya yang […]

+
Publik Khawatirkan Tiga Persoalan Lingkungan

Publik Khawatirkan 3 Persoalan Lingkungan  Jajak pendapat kompas pada akhir Desember lalu merekam ada 3 masalah lingkungan yang paling di khawatirkan oleh publik saat ini, yakni penanganan sampah, pencemaran air, kebakaran hutan. Masalah sampah paling banyak di sebutkan oleh responder sebagai persoalan lingkungan yang paling mendesak unuk diselesaikan dan dianggap paling meresahkan masyarakat. Hal ini di nyatakan oleh 38,9% responder. Timbunan sampah di indonesia saat ini mencapai 68 juta TON pertahun sehingga menjadi beban nyata bagi lingkungan. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) baru akan memenuhi target pengelolahan sampah hingga 100% pada 2025. Dimasa pandemi, timbulan sampah meningkat terutama sampah medis karena penggunaan masker sekali pakai, Alat Pelindung Diri (APD) dan limbah medis lainnya bertambah secara eksposional. Harian ini memberikan, hingga 2019 ada 12 perusahaan pengelolah sampah medis dengan kapasitas 301,7 TON per hari, namun masih belum cukup memadai pengelolah limbah medis yang perharinya mencapai 340 TON. Tujuh dari sepuluh responder menunjukan aksi nyata dalam bentuk pengolahan sampah, dengan melakukan pemilahan sampah (37,3%) dan mengurangi konsumsi plastik (27,4%).   Polusi Air Atau pencemaran air yang dinyatakan oleh 24,2 % rensponder. IKHL (Indeks Kwalitas Hidup Lingkungan) yang terakhir melaporkan 2018 kualitas air Indonesia 72,77 dari sekala 0,100. Kwalitas Air di ukur dan 10 Parameter, yakni DO, Fecal Caliform, COD, pH, BODO, NH3-N, TP, TSS, NO3-N, dan TDS. Kualitas air diukur pada G29 titik di 97 sungai di 34 provinsi. 3 provinsi yang memiliki kualitas air yang kurang baik, DKI JAKARTA, Riau, Nusa Tenggara Timur ( NTT ). Jakarta nilai indeksnya ( 51,93 ), Disusul Riau ( 57,58 ), dan NTT ( 58,09 ) sementara itu, 31 provinsi berada di level aman. 8 provinsi kondisi baik dan 23 provinsi ber predikat Sangat baik. 3 provinsi air yang terbaik adalah Sumatra Selatan ( 88,15 ), Maluku utara ( 88,01 ), dan Kalimatan timur ( 86,19 ). Organisasi nirlaba global water.org melaporkan sekitar 24 juta penduduk indonesia atau 9% dari populasi kekurangan ari bersih dan 38 juta penduduk kekurangan fasilitas sanitasi.   Kinerja Pemerintah  Sebanyak 49,3% berpendapat pemerintah telah memprioritaskan isu lingkungan, sedangkan 45,6% nya berpandangan sebaliknya generasi muda dibawah usia 30 tahun dan rensponder dari kategori pendidikan tinggi cenderung menganggap pemerintah abai pada persoalan lingkungan Ketidakpuasan tertinggi terekam pada kinerja di pengolahan sampah (62,4%). Menyusul kerusakan hutan (59,1%), pencemaran sungai (55,4%), kerusakan ekosistem laut (50,9%), dan pencemaran udara (46,7%). Sejumlah aksi sempat terekam di penghujung tahun 2020 terkait isu lingkungan, diantaranya aksi tolak limbah di depan Pengadilan Negeri Surabaya,Jawa Timur yang dilakukan bersamaan dengan gugutan kelompok (class action) oleh “Lima Perempuan Pejuang Kali Surabaya Menggugat” pada pabrik penghasil sampah kemasan (Kompas,6/10/2020).

+
Riwayat Pengelolaan Sampah di Kabupaten Gresik

Sampah Tak Terangkut Karena Minimnya Infrastruktur Fenomena sampah yang dibuang disembarang tempat dan menimbulkan bau busuk saat ini menjadi pemandangan yang sering dilihat. Baru-baru ini sampah menggunung di kawasan desa Yosowilangun tepatnya di TPS Dekat Exit Portal KIG serta Sekolah, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Menurut pemilik Facebook Heri Susilo, sampah menggunung hingga meluber ke bahu jalan paving desa, terlihat terdiri dari sampah domestik, limbah tanaman, plastik, serta ada beberapa kardus menumpuk. Juga di gunungan sampah itu, ada juga semacam limbah kayu, maupun potongan logam industri. Ditemui beberapa hari yang lalu, bapak Roziq Kepala Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten Gresik menjelaskan bahwa saat ini pelayanan sampah di Gresik diangka 30%, “saat ini pelayanan sampah yang dilakukan DLH kab. Gresik kepada masyarakat sekitar 30%, artinya masih ada masyarakat yang tidak menerima pengangkutan atau pelayanan sampah dari DLH Gresik”, ungkapnya. Menurut Tonis Afrianto Koordinator Zero Waste Cities di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), sampah yang tidak mendapatkan layanan pengangkutan akan mengotori lingkungan, “sekitar 70% sampah di kab.Gresik yang tidak mendapatkan layanan angkutan akan dibakar dilahan terbuka dan dibuang ke perairan seperti ke sungai dan laut, ini ironi” tegas Tonis pria lulusan Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammdiyah Sidoarjo. TPA Ngipik Overload Dibalik permasalahan sampah yang menumpuk dan cakupan pelayanan sampah hanya 30%, kab.Gresik menghadapi masalah lain yaitu Overloadnya TPA Ngipik. Kabupaten Gresik sebenarnya sudah mempunyai TPA untuk mengakomodir sampah warganya, yaitu di TPA Ngipik. TPA ini berada di kelurahan Ngipik, kecamatan Gresik, beroperasi sejak tahun 1991 dan mempunyai luas 9 hektar, namun saat ini hanya 1,5 hektar tersisa. Menurut Ibu Siti Kepala TPA Ngipik dalam sehari menerima 170 ton sampah, “data ditahun 2020 kami bisa menerima 165 ton sampah yang masuk TPA Ngipik dalam sehari”, jelasnya. Tahun ini DLH Gresik berencana membangun TPA di Gresik Selatan dan Gresik Utara, selama ini TPA Ngipik lah yang dijadikan satu-satu tempat pembuangan sampah akhir masyarakat di Gresik dan saat ini sudah penuh. Masyarakat Enggan Memilah Seharusnya penumpukan sampah bisa dicegah jika masyarakat mempunyai kesadaran untuk mengurangi produksi sampah dan memilah sampah. Menurut Jurnal Indeks Perilaku Peduli Lingkungan Universitas Indonesia 2017, kepedulian masyarakat Indonesia terhadap lingkungan masih rendah yaitu diangka 0,57% dan salah satunya 76% tak memilah sampah. Padahal dengan memilah sampah sejak dari rumah akan mengurangi beban sampah yang dibuang ke TPA sebesar 40%. Lagi-lagi kontribusi masyarakat terhadap pengelolaan sampah masih minim, hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menunjukkan Indeks Ketidakpedulian Masyarakat Indonesia terhadap sampah 72%. Ini menjadi PR bagi negara untuk segera menerapkan sistem pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan. Di Desa Tak Ada TPS Yang Bisa Kurangi Volume Sampah Ke TPA Diawali dari desa, proses pengelolaan sampah sudah bisa dimulai dengan menyediakan TPST 3R. Ini sesuai dengan surat edaran Bupati Gresik No : 660/III/437.75/2019 tentang Penangan Sampah dilevel RT/RW/Dusun/Kelurahan/Desa. Namun sejauh ini tidak banyak desa yang memiliki TPST 3R di desa-desa di kabupaten Gresik, sehingga sampah tidak terkelolah dari lingkup terkecil. Tidak Adanya Regulasi Yang Batasi Plastik Dengan gaya hidup masyarakat saat ini yang bergantung pada plastik sekali pakai membuat produksi sampah di Gresik semakin meningkat. Tidak adanya regulasi yang mengatur pembatasan penggunaan plastik sekali pakai menjadi penyebabnya. Kabupaten Gresik sendiri hanya mempunyai surat edaran Bupati Gresik Nomor : 660/1282/437.75/2019 tentang Pengurangan dan Penanganan Sampah. Surat edaran ini tidak begitu signifikan mengurangi produksi sampah, masih banyak kita temui sampah-sampah liar dibuang sembarangan di sepanjang jalan. “ECOTON mendorong kebijakan pemerintah untuk melarang penggunaan plastik sekali pakai karena selama ini plastik sekali pakai seperti tas kresek, sachet, styrofoam, sedotan, popok, botol minum jumlahnya semakin meningkat dan tidak bisa didaur ulang, ditambah lagi dengan tidak adanya TPST 3R di tiap desa membuat masyarakat membuang sampahnya ke Sungai” Ungkap Tonis Afrianto Koordinator Zero Waste Cities ECOTON, lebih lanjut Tonis juga mendorong masyarakat untuk mengurangi dan menghentikan pemakaian plastik sekai pakai agar sampah plastik tidak membunuh biota laut dan mengganggu kesehatan manusia.

+
7 Kimia Berbahaya Dalam Plastik

1.BISPHENOLS Siapa mereka : Bisphenols, seperti bisphenol A (BPA), adalah kimia yang merupakan kerangka pembangun plastik polikarbonat dan resin epoksi serta digunakan dalam kontainer-kontainer makanan dan minuman pakai ulang, botol-botol […]

PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI DI KALI SURABAYA
PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI DI KALI SURABAYA Pemantauan Kualitas Air Sungai di Desa Driyorejo Seiring perkembangan industri dan pemukiman di sepanjang Kali Surabaya terjadi perubahan kualitas air yang cukup signifikan. [...]
BAN THE BIG 5 – LARANG SI LIMA BESAR
BAN THE BIG 5 – LARANG SI LIMA BESAR RISKA DARMAWANTI, M.Si Bagi sebagian orang, plastik (apapun bentuk dan macamnya) disebut sebagai sebuah ‘kebutuhan’, dan bagian dari perekonomian. ‘Kebutuhan’ ini [...]
PENCEMARAN KALI BRANTAS
PENCEMARAN KALI BRANTAS MENGEVALUASI KASUS PENCEMARAN DARI MEDIA MASSA DAN RISET PADA 5 TAHUN TERAKHIR Riska Darmawanti, S.Pi., M.Si KOMPAS menyebutkan bahwa Kali Brantas merupakan satu dari tujuh sungai di [...]
Penelitian Mikroplastik

Study of Potential Microplastics on Surabaya River Fishes Studi Potensial Fragmen Plastik di Lambung Ikan Kali Surabaya Andreas Agus Kristanto Nugroho, S.Si., M.Si * Background Surabaya River is downstream tributary […]