PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI DI KALI SURABAYA

2 Views

PENELITIAN KUALITAS AIR SUNGAI DI KALI SURABAYA

Pemantauan Kualitas Air Sungai di Desa Driyorejo

Seiring perkembangan industri dan pemukiman di sepanjang Kali Surabaya terjadi perubahan kualitas air yang cukup signifikan. Pengalihan fungsi bantaran dari yang sebelumnya merupakan kawasan konservasi berubah menjadi pemukiman dan perindustri menyebabkan pencemaran meningkat. Pasukan Kodok SMKN 1 Driyorejo melakukan pemantauan kualitas air pada Sabtu (27 Januari 2018) di Kali Surabaya (Desa Cangkir, Kecamatan Driyorejo). Tujuannya adalah untuk mengetahui kualitas air dan aktivitas manusia yang mempengaruhinya. Kali Surabaya memiliki fungsi yang penting karena merupakan menjadi sumber bahan baku PDAM Surabaya. Kondisi ini yang mendorong Pasukan Kodok untuk melakukan pemantauan kualitas air. Pemantauan kualitas air dengan menggunakan makroinvertebrata merupakan salah satu bentuk edukasi lingkungan, dimana pelajar dapat belajar dan berinteraksi langsung dengan masyarakat dan sungai sehingga menumbuhkan rasa peduli untuk menjaga lingkungan sekitar.

Dalam pemantauan kualitas air atau disebut dengan biomonitoring, menggunakan dua metode sampling: (1) sweeping: mulut jaring diletakkan menempel pada dinding sungai dan disapukan melawan arus. Teknik ini digunakan pada sungai-sungai dengan kedalaman diatas 60 cm; (2) Jabbing:  mulut jaring diletakkan berhadapan dengan tebing sungai dan bergerak perlahan-lahan menuju tebing sungai. Teknik ini digunakan pada lokasi penelitian yang mana terdapat vegetasi air. Untuk masing-masing teknik sampling dilakukan pengambilan selama 3 menit.

Dari hasil sampling didapatkan 5 famili makroinvertebrata yang terdiri atas atyidae (werus); parathelpusidae (yuyu/kepiting sungai); tubificidae (cacing merah); nepidae (anggang-anggang), corixidae (kumbang penyelam). Untuk mengetahui kualitas air dilakukan perhitungan dengan 4 parameter (lihat tabel 1). Atyidae merupakan salah satu jenis makroinvertebrata yang dapat hidup pada berbagai kondisi perairan, dan cenderung menyukai bagian sungai yang arusnya lambat. Karena sifatnya yang omnivora atau pemakan segala membuat atyidae mudah untuk beradaptasi pada berbagai lokasi.

 

Tabel Hasil sampling makroinvertebrata dan perhitungan 4 parameter kualitas air

 

Dari perhitungan diatas diketahui bahwa kondisi Kali Surabaya Sudah tercemar berat.  Hal ini juga diakibatkan karena perubahan fungsi bantaran dan kurangnya kesadaran masyarakat. Jarak antara bantaran dengan pemukiman warga, tempat berdagang (warung) dan kandang ternak warga berkisar antara 50 – 600 meter. Bantaran tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal, tetapi juga pembuangan sampah. Selain itu kotoran ternak juga langsung masuk ke sungai.

 

No. Nama Famili Skor Biotilik (ti) Jumlah individu (ni) ti x ni
Non-EPT
1 Atyidae 2 96 192
2 Parathelphusidae 2 1 2
3 Corixidae 2 15 30
4 Tubificidae 1 6 6
5 Nepidae 1 2 2
Jumlah N=120 X=232
Presentase kelipatan EPT 0/120 x 100% = 0%

 

No. Nama Famili Skor Biotilik (ti) Jumlah individu (ni) ti x ni
Non-EPT
1 Atyidae 2 96 192
2 Parathelphusidae 2 1 2
3 Corixidae 2 15 30
4 Tubificidae 1 6 6
5 Nepidae 1 2 2
Jumlah N=120 X=232
Presentase kelipatan EPT 0/120 x 100% = 0%
INDEKS Biotilik 232/120 = 1,9
Parameter Skor Skor Penilaian
Keragaman Jenis Famili 5 1
Keragaman Jenis Famili EPT 0 1
% Kelipatan EPT 0% 1
INDEKS Biotilik 1,9 2
Jumlah =      5
Skor rata – rata 5 : 4 = 1,25 (Tercemar Berat)

Dari perhitungan diatas diketahui bahwa kondisi Kali Surabaya Sudah tercemar berat.  Hal ini juga diakibatkan karena perubahan fungsi bantaran dan kurangnya kesadaran masyarakat. Jarak antara bantaran dengan pemukiman warga, tempat berdagang (warung) dan kandang ternak warga berkisar antara 50 – 600 meter. Bantaran tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal, tetapi juga pembuangan sampah. Selain itu kotoran ternak juga langsung masuk ke sungai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *