Mikroplastik dan tumpukan plastik ancam bahan baku PDAM

3 Views

Hasil 2 Hari Penyusuran 5 Perempuan di Kali Surabaya
Mikroplastik dan tumpukan plastik ancam bahan baku PDAM

Mikroplastik merupakan material yang berbahaya bagi perairan, di Air Kali Surabaya ditemukan mikroplastik yang terapung diperairan selain bersumber dari serpihan-serpihan sampah plastic yang lapuk dan hancur, mikroplastik juga ditemukan berasal dari outlet-outlet perusahaan sepanjang Kali Surabaya. Kondisi ini mengkhawatirkan mengingat Air Kali Surabaya di gunakan sebagai bahan baku utama PDAM.

Aeshnina Azzahra (12), sofi Azilan (19), Cendy Claudia (22) Thara Bening (16) dan Daru Rini(42) melakukan kegiatan tidak biasa, mereka berempat menggunakan perahu plastik menyusuri Kali surabaya dari Pasinan Gresik mulai Sabtu (20/10) dan akan melanjutkan hari ini minggu (21/10). Sepanjang perjalanan mereka menghitung, 1. Timbulan sampah dipinggir sungai, 2. Pohon-pohon yang ditemukan plastik nyangsang, 3. Saluran limbah domestik dan 4. Mengukur kualitas air.

“sungai brantas adalah sungai yang teridentifikasi menjadi penyumbang terbesar sampah plastik dikawasan perairan laut ASEAN, setiap tahun lebih dari 28 ribu metrik ton sampah plastik bersumber dari aliran brantas ke laut Jawa,” ungkap Daru Setyo Rini lebih lanjut Daru Rini menyatakan bahwa sungai adalah jalur utama yang dilalui sampah plastik sampai kelaut, 15 dari dari 20 sungai pencemar terbesar didunia ada di Asia, selain Brantas di Jatim ada sungai Gangga di India, Pasig di philippina, Mekong di Thailland dan Yangtze di China.

Sepanjang penyusuran puluhan timbulan sampah ditemukan di wilayah sidoarjo dan Gresik. “masyarakat menjadikan sungai menjadi tempat sampah, terutama jenis sampah bungkus snack, popok dan tas kresek,” ungkap Thara Bening Sandrina siswi SMAN 1 Driyorejo, lebih lanjut Thara Menyatakan bahwa di salah satu timbulan sampah teridentifikasi 5 Jenis sampah terbanyak adalah
1. Bungkus Snack (16%)
2. Popok (11%)
3. Sedotan (9%)
4. Tas Kresek (8%)
5. Bungkus Mie instan (6%)
Sisa sampah lainnya berupa Botol air minum kemasan, tas plastic es, sachet permen, sachet kopi, sachet sampho, bungkus detergen, bungkus pembalut, bungkus popok,

Mikroplastik
Selain temuan sampah plastik diperairan Kali Surabaya di daerah Pasinan hingga Legundi ditemukan serpihan-serpihan plastik ukuran 5 mm yang disebut mikroplastik. Mikroplastik adalah potongan plastic < dari 4,8 milimeter, mikroplastik bersifat sangat berbahaya karena memiliki bahan kimia seperti PCB yang menyebabkan keracunan, Sumber mikroplastik primer berasal produk kosmetik dan alat mandi seperti odol, sabun, bahan scrub/butiran mikro atau mikrobeads pada pelembut kulit muka. Sedangkan sumber sekunder adalah: serpihan plastic kresek yang hancur berkeping setelah terpapar panas dan tergenang air yang akhirnya kresek ini hancur berkeping-keping, serat yang berasal dari pencucian pakaian dan sumber remahan plastic lainnya. Kontaminasi mikroplastik dalam perairan Kali Surabaya sangat berbahaya karena apabila masuk kedalam tubuh maka mikroplastik akan tertahan dalam organ tubuh dan sulit disekresikan selanjutnya akan mengganggu kerja dan fungsi organ tubuh seperti ginjal dan hati.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah mikroplastik ini dapat membawa logam berat dan juga beberapa mikroorganisme pathogen yang menempel pada mikroplastik yang dimungkinkan akan masuk kedalam peredaran darah dan menginfeksi tubuh. Mikroplastik selain berasal dari protolan, atau remah-remah sampah plastic yang lapuk karena waktu dan cuaca diketahui juga berasal dari limbah cair industri disepanjang Kali Surabaya salah satunya adalah pabrik pencacah/penghancur plastic. Di Kecamatan Krian terdapat 3 perusahaan penghancur plastic yang limbah cairnya langsung di buang di Kali Surabaya tanpa di olah, diantaranya adalah CV Cahaya Plastik dan PT Mulya Jaya Plastik keduanya di Kecamatan Krian selain pabrik pencacah plastic juga terdapat perusahan-perusahaan besar yang mengolah sampah impor dan membuang limbah cairnya ke Kali Surabaya.

Pemukiman Sungai Memasuki wilayah Surabaya di Kelurahan Warugunung dan Karangpilang banyak dijumpai timbulan-timbulan sampah. Kondisi ini disebabkan oleh banyaknya pemukiman liar di bantaran Kali Surabaya, kawasan bantaran sungai seharusnya bebas dari bangunan namun sejak 2010 terdapat 7000an bangunan yang menempati ruang sungai sehingga aktivitas mereka cenderung menimbulkan kerusakan sungai seperti buangan limbah domestic dan buangan sampah plastic yang dibuang langsung di sungai. Kondisi ini berdampak pada peningkatan jumlah sampah plastic dan limbah domestic di perairan dan menyebabkan turunnya kandungan oksigen dalam air.

Penelitian Mahasiswa T. R. H. Lamers & F. C. Holzhaus TU DELFT Belanda tentang Water Quality of Surabaya River Oktober 2018 (dalam lingkarang Hitam adalah Wilayah kota Surabaya) Penelitian dua mahasiswa ini menunjukkan penurunan kualitas air di Wilayah Warugunung dan karang Pilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *