ECOTON Dukung Penetapan KEEMU (Kawasan Ekosistem Esensial Mangrove Ujungpangkah) Gresik

+
6 Views

Kemarin (2/6), ECOTON (Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah) menghadiri peringatan Hari Lahan Basah Sedunia (WWD) tahun 2021 di Kawasan Ekosistem Esensial Mangrove Ujung Pangkah (KEEMU) Gresik. Perayaan ini diselenggarakan oleh Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial (BPEE), Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bersama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, serta beberapa pihak lainnya.

Berdasarkan SK Gubernur Jawa Timur No : 188/233/KPTS/013/2020 tanggal 12 Mei 2020, di wilayah Ujung Pangkah Gresik seluas 1.554,27 hektar; meliputi Desa Banyu Urip, Desa Pangkah Wetan dan Desa Pangkah Kulon ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial. Ujung Pangkah Gresik ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) karena wilayah ini memiliki karakteristik dan tipe yang sesuai dengan syarat suatu wilayah ditetapkan sebagai ekosistem esensial.

Penetapan suatu wilayah menjadi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) dikenal dengan beberapa tipe yaitu :

  • Tipe ekologis penting atau nilai konservasi tinggi didalamnya termasuk kawasan mangrove, karst, gambut dan perairan darat/lahan basah (danau, sungai, rawa, payau, dan wilayah pasang surut yang tidak lebih dari 6 meter),
  • Tipe landscape didalamnya termasuk habitat endemik dan lintasan satwa liar dan,
  • Tipe pencadangan sumberdaya alam didalamnya termasuk taman keanekaragaman hayati (Kehati).

KEEMU Gresik memiliki potensi yang luar biasa. Selain terdapat ekosistem mangrove yang penting. Lokasi tersebut juga menjadi tempat migrasi puluhan jenis burung migran. Dengan potensi kawasan Ujung Pangkah tersebut, oleh pemerintah terus dikembangkan. Salah satunya dengan mengusulkan kawasan tersebut menjadi Ramsar Site. Situs Ramsar merupakan situs lahan basah yang dirancang untuk kepentingan internasional di bawah konvensi Ramsar.

Pelepasan Burung Sebagai Simbol Pengembalian ke Habitat Aslinya

Berdasarkan catatan, sekitar 72 jenis burung laut yang memenuhi lokasi tersebut. 50 di antaranya adalah burung migran yang melakukan migrasi dari Benua Australia. “Migrasi burung laut biasanya terjadi di bulan Juni dan Juli. Ini yang terlihat adalah burung jenis Dara Laut,” ujar Polhut BKSDA Jatim Adnan Wibowo. Jika air pasang burung-burung migrasi itu bersembunyi di balik pepohonan mangrove. Jika air sudah surut, biasanya akan keluar secara bergerombol dan mencari makanan ikan-ikan kecil. Selain jadi jujukan jenis burung migrasi burung, KEE Ujungpangkah juga memiliki 19 jenis pohon mangrove. 17 di antaranya jenis mangrove sejati dan 2 lainnya jenis asosiasi. “Satu jenis mangrove asosiasi yakni jenis Nipah yang tidak ada di tempat lain. Hanya di sini,” tukasnya.

Selain itu, “Di sini menjadi jujukan migrasi dari puluhan jenis burung migran. Salah satunya burung Pelikan dari Benua Australia,” ujarnya Direktur Bina Kawasan Ekosistem Esensial Ditjen KLHK, Asep Sugiharta. KEE Ujungpangkah ke depan akan menjadi destinasi berbagai sektor. Bisa untuk edukasi, wisata yang bisa mendongkrak perekonomian masyarakat. Pengelolaannya pun akan terus dikembangkan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik M Najikh mengatakan kehadiran KEE Ujungpangkah ini mengeliminir polusi Kota Pudak sebagai Kota Industri. Meski aktivitas pabrik yang menghasilkan karbondioksida tinggi, KEE ini menjadi penyeimbang.

ECOTON sangat mengapresiasi dan mendukung adanya KEEMU Gresik karena hal ini dapat dijadikan sebagai sarana edukasi ekosistem mangrove, mitigasi perubahan iklim dan oase ditengah polusi udara yang mengepung Kota Gresik, ujar Prigi Arisandi selaku Direktur Eksekutif ECOTON. Pada acara ini juga dilakukan pelepasan dan pengembalian beberapa jenis burung air ke habitatnya yang dimiliki oleh BKSDA propinsi Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *