BAN THE BIG 5 – LARANG SI LIMA BESAR

3 Views

BAN THE BIG 5 – LARANG SI LIMA BESAR
RISKA DARMAWANTI, M.Si

Bagi sebagian orang, plastik (apapun bentuk dan macamnya) disebut sebagai sebuah ‘kebutuhan’, dan bagian dari perekonomian. ‘Kebutuhan’ ini masih dibumbui dengan ‘mitos’ seperti perempuan yang belum menikah bila membeli sayuran tanpa dibungkus plastik tidak akan mendapatkan mas kawin/ peningset. Sementara bagi sebagian lainnya, plastik merupakan masalah besar bagi lingkungan dan kesehatan.

Permasalahan pengelolaan sampah plastik sudah lama menjadi ‘momok’ pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) baru kebakaran jenggot dan tertampar ketika Indonesia ‘dituduh’ sebagai penghasil terbesar kedua sampah plastik di dunia yang merupakan hasil penelitian Jenna Jambeck dan peneliti lainnya pada tahun 2015 dan ditambah dengan angka
10.95 juta lembar sampah kantong plastik/tahun ‘hanya’ dari 100 toko APRINDO (Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia) dimana diperkirakan tahun depan (2019) terdapat 9.52 juta ton sampah plastik.

Setelah tamparan tersebut, KLHK melakukan uji coba kantong plastik berbayar yang dituangkan melalui surat edaran KLHK Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) No. S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang harga dan mekanisme penerapan kantong plastik berbayar. Baik KLHK maupun organisasi masyarakat sipil (OMS) mengklaim uji coba ini berjalan dengan baik1 dan menyodorkan bukti penurunan konsumsi kantong plastik pada pusat-pusat perbelanjaan semacam Transmart dan Carrefour terjadi hingga 82.90%. Penurunan ini menunjukkan dukungan positif masyarakat terhadap kebijakan kantong plastik berbayar2. Meskipun masyarakat mendukung kebijakan ini, tetapi KLHK melempem dengan menghentikan uji coba plastik berbayar ini setelah 4 bulan dengan menunggu payung hukum. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) berpendapat bahwa KLHK tidak memiliki konsistensi untuk mengatasi permasalahan sampah plastik, hal ini terlihat dengan lambannya penyiapan regulasi pendukung program kantong plastik berbayar, tidak jelasnya roadmap dan pengelolaan dana plastik berbayar3.

Sampah kantong plastik hanyalah puncak gunung es dari permasalahan sampah plastik di Indonesia. Sampah plastik lainnya yang juga menjadi masalah adalah sedotan, popok sekali pakai (pospak), dan styrofoam. Berdasarkan data Divers Clean Action (DVA) selama setahun di Kepulauan Seribu, berat rata-rata sampah sedotan plastik yang dikumpulkan 7.98 kg. DVA memperkirakan pemakaian sedotan di Indonesia mencapai 93,244,847 batang sedotan yang berasal dari restoran, minuman kemasan dan sumber lainnya. Sampah sedotan plastik yang dihasilkan setiap minggunya, bila direntangkan dapat digunakan untuk mengelilingi bumi tiga kali4.  Salah satu waralaba makanan, KFC, mengambil langkah untuk tidak lagi menyediakan dispenser sedotan dan hanya memberikan sedotan ketika konsumen meminta pada kasir. Adanya itikad baik dari salah satu waralaba ini harusnya segera didukung oleh pemerintah melalui peraturan yang mewajibkan seluruh waralaba dan warung makanan dan/ minuman untuk melarang penyediaan sedotan plastik.

Styrofoam, salah satu produk plastik yang banyak digunakan hingga menyebabkan beban pengelolaan sampah yang besar. Salah satu contohnya di Kota Bandung. Penelitian yang dilakukan oleh ITB pada tahun 2011 diketahui bahwa beban sampah styrofoam di kota Bandung mencapai 27 ton/bulan yang berasal mayoritas berasal dari non-rumah tangga. Styrofoam tidak hanya berbahaya bagi lingkungan karena tidak dapat didaur ulang, tetapi juga terhadap kesehatan manusia. Styrofoam mengandung benzena yang termasuk dalam 100 zat beracun dan terbukti menyebabkan kanker. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah lama melarang penggunaan styrofoam karena dampaknya terhadap kesehatan manusia. Kemasan styrofoam yang digunakan sebagai kemasan makanan rawan terkena makanan/ minuman yang bersifat asam, lemak dan/ asam yang menyebabkan benzena terlepas dari kemasan dan masuk dalam makanan/ minuman5.

Popok Sekali Pakai (POSPAK) merupakan sampah plastik yang paling terlupakan, namun berkontribusi besar terhadap pencemaran plastik. Laporan Bank Dunia (World Bank) menyebutkan 21% sampah di lautan adalah POSPAK6.  Hal ini tidak mengejutkan karena berdasarkan survei Nielsen Consumer Panel Services (Nielsen Homepanel) terhadap konsumen Indonesia yang memiliki anak batita menunjukkan bahwa 20% belanja barang konsumsi untuk keperluan batita. POSPAK merupakan salah produk bayi yang memiliki pasar terbesar kedua setelah susu bayi. Data MIX (2017), nilai bisnis produk POSPAK sebesar Rp 9,8 triiliun dengan pertumbuhan 26.2%/tahun7. Hasil survei yang dilakukan oleh ECOTON selama 3 hari di daerah Wringinanom (Gresik) hingga Jambangan (Surabaya) dengan narasumber sebanyak 100 orang menunjukkan bahwa 61% narasumber menggunakan lebih dari 4 POSPAK /hari dan 36% menggunakan 2-4 POSPAK /hari. Tingginya penggunaan POSPAK yang tidak diikuti dengan tersedianya sarana penampungan dan pengelolaannya menambah beban lingkungan yang sudah ada. Meskipun 89% responden yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka membuang limbah POSPAK ke tempat sampah. Namun setelah dicermati selama dilakukan evakuasi, tempat sampah yang dimaksud berada di tepian sungai, sehingga apabila meleset saat melempar dan atau banjir, limbah POSPAK akan tetap masuk ke dalam sungai. Berdasarkan data BPS Jatim (2013), populasi anak di bawah usia 5 tahun adalah sebesar 1,592,525 anak yang merupakan pasar potensial bagi POSPAK Jatim. Dengan asumsi bahwa setidaknya 42.16% populasi penduduk Jatim tinggal di wilayah sungai (WS) Brantas (BBWS Brantas, 2011), dan penggunaan minimal 4 popok/hari maka setidaknya ada 2,685,634 popok bekas pakai/ hari. Bila dikalikan 365 hari dan berat diaper bekas pakai 10 gr/popok maka POSPAK pakai di WS Brantas sebesar 9,802 ton POSPAK/tahun. Tidak ada data yang jelas terkait besaran POSPAK yang masuk ke TPA dan sisanya yang masuk ke sungai. Namun dari hasil evakuasi POSPAK selama 3 hari yang dilakukan oleh ECOTON, terdapat 2.5 kuintal POSPAK yang berhasil diangkat dari sungai.

Rahmad, 24 tahun, pencari cacing sutra yang lokasi kerjanya berada di Kali Surabaya, tepatnya di sekitar Jembatan Karang Pilang 1 bercerita bahwa dasar sungai tertutup oleh POSPAK. Perlu diingat bahwa POSPAK pakai membutuhkan waktu untuk terurai selama 400 tahun. Selain permasalahan lama waktu terurai, bahan kimia yang digunakan dalam popok sekali pakai juga turut menambah permasalahan pencemaran air di Kali Surabaya. Klorin yang digunakan sebagai pemutih pulp menghasilkan bahan kimia sampingan, DIOKSIN dan banyak penelitian di AS terdeteksi pada popok sekali pakai. Pencegah bau menggunakan ptalat, dikenal sebagai salah satu penyebab iritasi. Satu lagi yang tidak kalah, penting terdeteksinya tributiltin (TBT). Ketiga senyawa: DIOKSIN, PTALAT, TRIBUTILTIN merupakan senyawa pengganggu hormon yang menyerupai hormon estrogen. Lepasnya ketiga senyawa ini ke air, menjadi salah satu penyebab 20% ikan bader jantan yang hidup di Kali Mas berubah menjadi bencong.

Sampah plastik yang terakhir yang menjadi masalah adalah botol air kemasan. Indonesia kembali menjadi juara empat dalam penggunaan botol air kemasan. Penggunaan botol air kemasan mencapai 4.82 miliar/tahun dengan hampir setengahnya berasal dari DANONE AQUA. Sedangkan asosiasi produsen minuman botol melaporkan penjualan produk botol minuman mencapai 23.1 miliar di tahun 20148.  DANONE AQUA hanya mampu mendaur ulang 62% botol plastik PET yang merupakan limbah produknya9, yang berarti hanya 25% dari total penggunaan botol air kemasan dan 6,47% dari total penjualan produk botol minuman.

Dalam kajian yang dilakukan Sustainable Waste Indonesia (SWI), dari total sampah plastik yang dihasilkan: 69% masuk ke TPA, 7% terdaur ulang dan 24% sisanya mencemari lingkungan. Sampah plastik yang terlepas di lingkungan menyebabkan permasalahan kesehatan bagi hewan dan manusia. TPA Piyungan yang terletak di Bantul, menjadi tempat bagi banyak sapi dan kambing mencari makanan (organik dan anorganik). Hewan yang pemakan sampah rawan atas berbagai penyakit. Berdasarkan penelitian, hewan yang mengkonsumsi sampah memiliki kadar logam berat (timbal – Pb) yang tinggi sehingga tidak layak konsumsi10.

Mengkonsumsi daging yang mengandung logam berat tinggi dapat menyebabkan kanker. Bagi hewan air, memakan sampah plastik menyebabkan gangguan serius hingga kematian. Terdamparnya paus sperma berukuran 9.5 meter yang mana di dalam perutnya terdapat 5.9 kg sampah plastik (terpal, tutup galon, botol, sandal jepit, kantong plastik, piring dan gelas plastik dan jaring)11 menunjukkan bahwa hewan tidak dapat membedakan antara sampah plastik dengan makanan. Selain itu, sampah plastik memenuhi perut hewan air tanpa bisa dicerna dan menyebabkan hewan mati kelaparan.

Mayoritas TPA merupakan open dumping, dimana lindi yang dihasilkan akan mencemari lingkungan (tanah, air, dan udara). Plastik akan terdegradasi menjadi bagian yang lebih kecil melalui proses fisik dan kimia (sinar matahari, hujan, dsb) yang bila berukuran >5 mm disebut sebagai mesoplastik dan < 500 m disebut sebagai mikroplastik. Mikroplastik menjadi salah satu kontaminan yang menjadi perhatian dunia.

Ditemukannya (93%) mikroplastik dalam air kemasan pada 259 botol air minum dari 11 merek air kemasan menunjukkan bahkan air minum kemasan tidak lagi menjadi sumber air bersih yang aman. AQUA yang merupakan merek popular di Indonesia mengandung (rata-rata) 382 MP/liter12.  Selain air kemasan, mikroplastik juga ditemukan pada berbagai merek garam. Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Kim Seung-Kyu menunjukkan bahwa kandungan tertinggi mikroplastik pada garam terdapat pada garam Indonesia bila dibandingkan dengan 20 negara lainnya13.  Pencemaran mikroplastik tidak hanya berasal dari air, garam, daging sapi/ kambing, tetapi juga ikan dan kerang. Penelitian yang dilakukan Oleh Andreas Kristanto, peneliti senior ECOTON, menemukan bahwa 72% ikan (103 sampel) Kali Surabaya mengandung mikroplastik14. Pada penelitian lainnya (Fakultas Perikanan Unhas dan Universitas Kalifornia)menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukanpada ikan teri dan ikan laut lainnya dengan prosentase 58-89% sampel ikan yangdiambil dari 10 lokasi penelitian15, dengan konsentrasi tertinggi ditemukan di Bitung dan Makasar.

Mikroplastik yang terdapat pada sumber pangan berpindah ke dalam tubuh manusia saat dikonsumsi. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya mikroplastik pada tinja manusia. Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Kedokteran Wina dan Badan Lingkungan Austria, mengamati sampel tinja dari delapan orang yang berasal dari delapan negara berbeda, yakni Finlandia, Italia, Jepang, Belanda, Polandia, Rusia, Inggris, dan Austria. Setiap sampel tinja diuji positif hingga sembilan jenis plastik yang berbeda, dengan rata-rata 20 partikel plastik per 10 gram tinja. Produsen menambahkan zat tambahan pada plastik untuk memberikan nilai tambah yang mengganggu sistem hormon. Menurut Herbert Tilg, presiden dari Austrian Society of Gastroenterology dan ketua Komite Ilmiah UEG, mikroplastik menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap sindrom radang usus atau bahkan kanker usus besar, yang sedang meningkat di kalangan orang dewasa muda16.

Berdasarkan data-data yang telah disebutkan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa:

1) Kantong plastik, sedotan, botol kemasan, popok sekali pakai (POSPAK), dan styrofoam merupakan lima jenis plastik yang paling banyak digunakan dengan kemampuan daur ulang 0 – <10%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas sampah jenis ini berakhir di TPA dan mencemari udara, air, dan tanah.
2) Sampah plastik yang tidak terkelola, terdapat di perairan dan TPA berubah menjadi meso dan mikro-plastik yang menyebabkan gangguan kesehatan hingga kematian bagi hewan terestrial (daratan) dan perairan dan memberikan dampak kesehatan pada manusia.
3) Pemerintah terlalu sibuk dengan program-program bersifat ceremonial, dan tidak mengambil langkah yang esensial dan jelas untuk mengatasi permasalahan sampah plastik.
4) Diperlukan peran penting lembaga keagamaan untuk membangun kesadaran umat untuk tidak menggunakan 5 jenis plastik yang disebutkan diatas melalui sebuah peraturan/ fatwa larangan penggunaan plastik yang menyebabkan kerusakan di bumi dan penyakit bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *