Wadulink, Sahabat Kali Surabaya Hadapi Perubahan Iklim

Nur Hamidah, Koordinator Wadulink memegang alat multiparameter pada kegiatan pemantauan kualitas air Kali Surabaya. Foto: Firly MJ

 

Sabtu siang akhir November tahun lalu, Nur Hamidah (49) menenteng tas putih besar ke pinggir Kali Surabaya. Debit air Kali Surabaya siang itu cukup tinggi dan arusnya deras. Kemarin sore hingga malam turun hujan. Warna air tampak berwarna coklat pekat. Tak jarang alirannya membawa batang-batang pohon, rerumputan hingga segepok sampah.

Perempuan itu berhenti di tempat teduh, mengeluarkan kotak hitam seperti koper dan botol putih. Kotak hitam tersebut berisi alat multiparameter.

“Kami rutin melakukan kegiatan ini, setiap dua minggu sekali nang pinggir Kali Surabaya,” kata Nur.

Beberapa menit kemudian, layar pada alat yang dicelupkan ke dalam air sungai menampilkan angka. Dengan sigap, Nur mengambil buku catatan dan menulisnya. Tidak lupa ia juga memfoto layar tersebut. Nur kembali mengeluarkan alat lain dari tas, sebuah botol dan kotak putih. Ia mencelupkan strip dari botol putih ke dalam air sungai dan memasukkan air sungai ke dalam alat dari kotak putih. Perlu 5 menit, angka dari alat tersebut muncul.

Nur mencatat Total Dissolved Solid (TDS) 242 ppm, suhu 29,1◦ C, Dissolved Oxygen (DO) 2,1 ppm, PH 6,64, Nitrat 2 ppm, Nitrit 0,3 ppm dan Fosfat 1,2 ppm. Nur bilang, dibandingkan 2 minggu yang lalu, fosfat hari itu lebih tinggi.

“Kalau fosfatnya tinggi itu pencemarannya dari limbah industri dan limbah cair domestik yang mengadung bahan kimia,” jelasnya.

Nur Hamidah sedang menunjukkan hasil pemantauan kualitas air Kali Surabaya dari parameter fosfat. Foto: Firly MJ

 

Setelah itu ia sibuk mengirimkan foto-foto hasil kegiatannya kepada seseorang, lantas merapikan alat-alat yang ia pakai tadi ke dalam tas. Nur Hamidah adalah  koordinator kelompok Wanita Peduli Lingkungan (Wadulink) Desa Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Ia lahir dan besar di Sumengko. Setelah menikah ia tetap tinggal di desanya bersama suami dan dua orang anak perempuannya. Anak sulung telah bekerja dan si bungsu masih kuliah.

Setiap hari Senin, Rabu dan Jumat, ia mengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di balai desa. Ia juga anggota PKK dan aktif ikut kegiatan keagaaman di desanya.

Nur Hamidah sedang mengajar anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini Desa Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Foto: Firly MJ

 

Saat kecil, ruang bermainnya adalah Kali Surabaya, berenang dan mencari kerang. Jarak antara rumahnya dengan Kali Surabaya sekitar 200 meter. Pada masa-masa sekolah, Nur ikut kelompok pecinta alam. Ia senang mendaki gunung dan berkemah di alam terbuka bersama teman-temannya.

Tumbuh besar di Desa Sumengko, membuatnya sangat mengenali kondisi kampung halamannya. Ditambah kecintaan terhadap lingkungan yang telah terbangun sejak muda, membuat Nur kemudian mempelopori gerakan lingkungan di kampungnya.

Beberapa tahun belakangan Nur merasa bahwa penimbunan sampah impor di bantaran Kali Surabaya di Desa Sumengko kian banyak. Penimbunan ini dilakukan oleh sebuah pabrik kertas di dekat rumahnya. Bersama warga lainnya Nur protes ke pabrik kertas, namun tidak berhasil. Di sisi lain masyarakat sekitar juga turut memanfaatkan bantaran sebagai tempat membuang sampah mereka.

“Sampah harusnya gak dibuang ke situ. Saya kangen dengan area sungai yang bersih,” katanya seraya menegaskan alasannya memulai gerakan.

Nur Hamidah kemudian mengajak teman-temannya di PKK untuk melakukan penghijauan bantaran yang tersisa. Lahan bantaran mereka tanami sayur-sayuran yang kemudian mereka jual. Tak jarang ketika mereka panen, pembeli datang langsung ke bantaran. Sekali panen, mereka bisa mendapatkan uang Rp150 ribu.

Hampir setiap dua minggu, ia dan ibu-ibu lainnya berkumpul di bantaran. Mereka rutin menyapu bantaran, merapikan tanaman, mencabut rerumputan yang menghalangi tanaman dan menyiram tanaman. “Airnya ambil ke bawah ke sungai, naik turun,” katanya.

Membangun Wadulink

Nur Hamidah dan Gotri, dua anggota komunitas Wadulink sedang melakukan pertemuan dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Foto: Kurnia Rahmawati

 

Tahun 2016, Nur Hamidah dan ibu-ibu PKK Desa Sumengko lainnya diundang dalam sebuah pertemuan oleh Yayasan Ecological Conservation and Wetland Observation (ECOTON). Pertemuan itu juga dihadiri oleh ibu-ibu PKK dari 3 desa pinggir Kali Surabaya lainnya.

Saat itu, ECOTON memiliki program penyelamatan bantaran sungai dan suaka ikan.  ECOTON ingin membentuk komunitas perempuan pelindung Kali Surabaya untuk mempertahankan kawasan sungai. Di sinilah sebetulnya komunitas Wadulink terbentuk. Ada kelompok Wadulink dari masing-masing desa yakni Wringinanom, Lebani Warah, Penambangan, dan Sumengko.

Setahun kemudian Wadulink Sumengko mendapatkan dana dari nilever. Dana ini mereka alokasikan untuk perawatan bantaran dan pengadaan droppo (drop point) sampah popok, agar tidak dibuang ke sungai. Namun droppo itu tidak bertahan lama. Ada komplain dari warga sekitar karena bau dan sampahnya berceceran.

“Sebetulnya itu juga kesalahan dari para pembuang sampahnya karena mereka tidak memasukkan ke dalam droppo,’ kata Nur.

Kemudian Wadulink Sumengko kembali sibuk pada penghijauan bantaran meski tidak selalu berjalan mulus. Tanaman sering kali dirusak dan dicabut. Selain itu, kawasan lahan yang dikelola Wadulink juga dibangun pondasi. Sehingga membuat lahan yang dikelola tersisa 150 m, dari semula 500 m.

Tahun 2021, Wadulink menulis surat pengaduan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas terkait kasus alih fungsi lahan bantaran. Namun menurut Nur tak ada tanggapan dari BBWS.

Berjalannya waktu, semangat para komunitas Wadulink tidak selalu dalam keadaan di puncak. Satu persatu mereka terhenti, tersisa Wadulink Sumengko.

Produksi Kerupuk Kelor

 Ibu-ibu membeli produk kerupuk kelor (pulor) hasil dari produksi komunitas Wadulink. Foto: Kurnia Rahmawati

 

Tahun 2019, Wadulink terinspirasi membuat produk dari daun kelor yang awalnya terinspirasi dari isu stunting di desa mereka. Beberapa produk yang mereka olah dari tanaman kelor yakni kerupuk kelor, teh kelor, dan cookies kelor. Mereka menitipkan dagangan di kegiatan pameran, kegiatan pertemuan seperti sosialisasi, dan lain-lain.

Satu bungkus krupuk kelor, berisi 250 gram dihargai sebesar Rp15 ribu. Untuk cookies kelor 1 toples dihargai dengan Rp42 ribu. Sementara untuk teh kelor belum diperjual belikan.

Melihat potensi ini, Wadulink berencana mengembangkan penghijauan bantaran dengan tanaman kelor. Mereka mulai melakukan pembibitan tanaman kelor dan menanamnya di bantaran yang mereka kelola. Bulan Oktober 2023, mereka memperkenalkan kegiatan Green Belt Moringa Park di balai desa Sumengko. Mereka mulai melibatkan anak muda yang tergabung di IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) Desa Sumengko dalam kegiatan pembibitan dan penanaman kelor.

Melindungi Bantaran Sungai

Anak muda sedang melakukan pembibitan tanaman kelor di lahan bantaran yang dikelola oleh Wadulink. Foto: Firly MJ

 

Menurut ECOTON, tahun 2022 terdapat sekitar 1152 bangunan liar di sepanjang Kali Surabaya dari Mliriprowo sampai dengan wilayah Surabaya.

Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat no 28 tahun 2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau, bantaran sungai boleh dimanfaatkan untuk menanam sayuran namun tidak boleh mendirikan bangunan dan mengurangi dimensi tanggul.

Tonis Afrianto dari ECOTON, menerangkan bahwa bangunan permanen di sepanjang bantaran di Sumengko mengalami peningkatan tiap tahunnya. Sepanjang 2023 pembangunan di bantaran makin masif.

Pengelolaan sungai juga termuat dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 (PP RI No. 38 Tahun 2011) yang menyatakan bahwa perlindungan sungai meliputi daerah palung sungai, sempadan sungai, danau paparan banjir, dan dataran banjir.

Sungai dan Perubahan Iklim

Sebuah perahu yang disediakan oleh warga sekitar untuk jasa penyeberangan sungai di Desa Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Foto: Firly MJ

 

 Laporan IPCC 2023 telah menyampaikan bahwa titik pemanasan global yang mencapai 1,1 derajat celsius telah memicu perubahan iklim yang belum pernah tejadi semula dalam sejarah manusia. Tingkat pemanasan seperti itu membuat masyarakat mengalami kekeringan, tekanan panas, bencana banjir yang meningkat 24%.

Kegentingan ini memaksa segera mengambil langkah adaptasi untuk mengurangi resiko ancaman yang ditimbulkan dari perubahan iklim. Langkah adaptasi yang bisa diambil bahkan bisa bersifat sangat lokal. Seperti halnya yang dilakukan oleh komunitas Wadulink dalam upaya mempertahankan ekosistem sungai.

Tonis mengatakan inisiatif komunitas Wadulink penting, sebab mereka terlibat dalam pemantauan kualitas air sungai dan penghijauan bantaran. Aktivitas pembuangan limbah ke sungai dan alih fungsi bantaran sungai perlu dikontrol, sebab hal itu turut berkonstribusi pada pemanasan global.

Penelitian yang dilakukan Long Ho dkk, yang berjudul Effects of land use and water quality on greenhouse gas emissions from an urban river system menunjukan bahwa sungai yang tercemar dapat melepaskan emisi gas rumah kaca yang dapat berkonstribusi pada pemanasan global.

Long Ho menjelaskan bahwa Dissolved Oxygen (DO) atau kadar oksigen terlarut berkonstribusi pada produksi CO2 dan CH4 melalui proses Anaerobik. Anaerobik terjadi ketika kadar oksigen terlarut rendah. Di Kali Surabaya, penurunan kadar oksigen terlarut paling mudah dilihat pada kasus ikan mati massal.

Kasus Ikan Mati dari Tahun ke tahun di Kali Surabaya

Tanggal Kasus di Kali Surabaya Link Berita Nama Media
23 Mei 2022 Ikan Mati Massal Kali Surabaya. Titik lokasinya di Desa Bambe, Kecamatan Driyorejo https://www.mongabay.co.id/2022/05/27/ikan-mati-massal-di-sungai-surabaya-darurat-pencemaran/ Mongabay
23 Juli 2019 Ribuan Ikan Kali Surabaya Mati, Diduga Terpapar Limbah Pabrik https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190723063947-20-414559/ribuan-ikan-kali-surabaya-mati-diduga-terpapar-limbah-pabrik CNN Indonesia
09 Oktober 2018 Ikan-ikan di Kali Surabaya Driyorejo Mati Mengambang https://daerah.sindonews.com/artikel/jatim/2133/ikanikan-di-kali-surabaya-driyorejo-mati-mengambang Sindonews
03 September 2012 Ribuan Ikan Mati Mendadak di Kali Mas Surabaya https://nasional.tempo.co/read/427188/ribuan-ikan-mati-mendadak-di-kali-mas-surabaya Tempo

Sumber : Data primer diolah pribadi, 2023

 

Farikhah, Dosen Budidaya Perikanan Universitas Muhammadiyah Gresik menjelaskan bahwa terjadinya kasus ikan mati massal karena adanya lonjakan suhu di perairan dan deplesi oksigen (penurunan kadar oksigen terlarut).

Mariyono, salah satu nelayan sungai dari Jombang yang sedang mencari ikan di Kali Surabaya. Foto: Firly MJ

 

Kali Surabaya merupakan anak sungai Brantas yang berhulu di wilayah Mliriprowo – Mojokerto, ditetapkan sebagai sungai strategis nasional berdasarkan Permen PUPR No 04/PRT/M/2015.

Sebagai sungai yang banyak menopang kebutuhan manusia, Kali Surabaya menerima beban pencemaran dari pembuangan limbah industri, limbah domestik, dan limbah dari aktivitas pertanian. Industri yang berdiri di sepanjang Kali Surabaya beragam, mulai dari kertas, penyedap rasa, bahan pangan, dan lain-lain.

“Dari aktivitas pembuangan limbah industry maupun limbah domestik bisa memicu pertumbuhan mikroorganisme pengurai. Proses penguraian membutuhkan oksigen. Sehingga aktivitas itu menurunkan kadar oksigen terlarut,” kata Farikhah.

Long Ho pun turut menyinggung kawasan perkotaan menyumbang empat kali lipat pemanasan global. Ia menyoroti dampak tidak langsung dari perubahan penggunaan lahan pinggir sungai sebagai bangunan hunian. Rata-rata rumah sepanjang sungai mengalirkan limbah cair ke sungai.

Menurut data dari Databoks Katadata tahu 2021, lebih dari 50 persen rumah tangga di Indonesia membuang air limbah ke selokan yang mengalir ke sungai. Alih fungsi lahan bantaran berdampak terjadinya pengurangan ruang resapan air.

Rumah-rumah yang dibangun di atas lahan bantaran Kali Sarabaya, tepatnya di Desa Lebani Waras, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Foto: Firly MJ

 

Di sisi lain terjadinya pemanasan global dapat mempengaruhi pola curah hujan dan suhu yang pada gilirannya mempengaruhi debit sungai yang berujung pada ancaman kekeringan yang parah dan banjir yang sering terjadi.

“Disini tidak sampai terjadi banjir, ya jangan sampai kejadian. Memang ketika musim hujan air sungai sering meluap tapi masih di area bantaran. Tapi rumah-rumah yang dibangun di bantaran pun air sungai selalu masuk ke dapur mereka ketika air sungai meluap,” kata Nur Hamidah.

Setelah bertahun-tahun bergerak bersama ibu-ibu lainnya, tidak ada lagi yang mereka harapkan selain menghentikan alih guna lahan bantaran dan berharap ada generasi-generasi muda yang melanjutkan perjuangannya ini.

Related Posts

Leave a Reply