DonateVolunteer

PRESS RELEASE : PENANGANAN PENCEMARAN MIKROPLASTIK SUNGAI KAPUAS

KAPUAS CRISIS CENTRE – Pusat Informasi sebagai wadah edukasi dan Ruang partisipasi Publik untuk Ikut Menjaga Kesehatan Kapuas

Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) menemukan adanya kandungan Mikroplastik pada parit putat sebesar 54 partikel dalam 100 liter air yang bermuara Ke Sungai Kapuas, Sebelumnya pada studi awal Tahun Januari 2022 tim ESN telah melakukan penelitian mikroplastik di Sungai Kapuas dan menemukan bahwa Sungai Kapuas telah tercemar Mikroplastik sebesar 57,55 partikel  mikroplastik (PM) dalam 100 liter air. “ Kadar mikroplastik tertinggi ditemukan di Sungai Landak Ambawang di Jl Kemuning 129 partikel  mikroplastik dalam 100 liter air sedangkan kandungan mikroplastik paling sedikit sebesar 27 Partikel mikroplastik di Batu Ampar “Ungkap Eka Chlara Budiarti, lebih lanjut Peneliti Mikroplastik menyebutkan bahwa mikroplastik adalah serpihan atau pecahan plastik dengan ukura dibawah 0,5 cm atau setengah mm, Chlara juga menjelaskan bahwa keberadaan mikroplastik di Sungai Kapuas berasal dari lima sumber

  1. Limbah domestic (air cucian, air kamar mandi dan air dapur) warga Pontianak yang dibuang kedalam parit-parit tanpa diolah
  2. Sampah plastik (tas kresek, Styrofoam, sachet, botol plastik , popok dan pembungkus makanan/minuman dan produk rumah tangga)
  3. Industri manufaktur,limbah cair industri yang tidak diolah
  4. Udara, udara panas dan gesekan benda seperti ban roda mobil/motor menghasilkan serpihan mikroplastik ke udara, proses pembakaran sampah plastik juga menghasilkan partakel mikroplastik
  5. Pertanian/Perkebunan yang menggunakan campuran senyawa sintetis dan peralatan yang digunakan selama proses produksi

ada dua jenis mikroplastik yang ada di sungai yaitu Pertama jenis mikroplastik primer yang diproduksi untuk bahan kosmetik seperti pemutih, lulur dan bahan sintetis dalam sabun, pembersih muka atau personal care, bahan ini disebut Mikrobeads, Kedua adalah jenis mikroplastik sekunder yang pembentukkannya berasal dari proses fisik atau pelapukan oleh sinar matahar,” jenis mikroplastik sekunder ini awalnya adalah plastik ukuran besar seperti tas kresek, Styrofoam, tali rafiah, botol air minum, sachet, popok dan produk plastik lainnya kemudian karena panas matahari dan tempaan air sehingga plastik ini akan lapuk kemudian terfragmentasi atau terpecah menjadi serpihan plastik kecil yang disebut mikroplastik” ungkap Prigi Arisandi.

Penelitian  Mikroplastik ESN

Pada Awal 2022 tim ESN telah melakukan penelitian kandungan Mikroplastik di 9 lokasi yaitu di  Muara pertemuan sungai Landak dan sungai Kapuas (Kapuas 1), Sungai Malaya (Kapuas 2), Parit Lengkong (Kapuas 3), Mega Timur (Kapuas 4), Sungai Tempayan Laut (Kapuas 5) , Ambawang Jl. Kemuning (Kapuas 6), batu Ampar dan Pandan tikar. “semua lokasi penelitian menunjukkan adanya kandungan mikroplastik  jenis mikroplastik yang mendominasi adalah jenis fiber yang umumnya berasal dari benang penyusun tekstil yang terlepas dalam proses pencucian atau laundry, mikroplastik lainnya adalah fragmen atau cuilan yang berasal dari peralatan rumah tangga terbuat dari plastik, botol, sachet dan personal care,” ungkap Prigi Arisandi.

Grafik 1. Distribusi mikroplastik di Sungai Kapuas pada 2022

 

Grafik 2. Distribusi Mikroplastik di Sungai Kapuas pada Juni 2021 menunjukkan bahwa kadar mikroplastik tertinggi di Kapuas kecil sebesar 47 PM/100 Liter, sedangkan kadar terkecil ada pada sungai Landak sebesar 21 PM/100 liter.

Penelitian Mahasiswa Universitas Tanjung Pura Pontianak

Pada 2021 Mahasiswa Universitas tanjung pura  melakukan Identifikasi Jenis mikroplastik dan Logam berat di Air Sungai Kapuas Kota Pontianak,  yang dilakukan oleh Didiek Sugandi, Deri Agustiawan, Yulius Yudi dan Nelly Wahyuni dari Jurusan Kimia Fakultas Ilmu pengetahuan alam Universitas Tanjung Pura dan  Viana Febriyanti dari Jurusan Teknik lingkungan Universitas Tanjungpura menemukan bahwa mikroplastik di Sungai Kapuas sebesar 943,3 partikel/L dengan persentase  terbesar berbentuk filamen (33%) dan fragmen (33%). Karakterisasi gugus fungsi dengan FTIR menunjukkan adanya plastik jenis polietilena (PE) pada serapan 2918 cm-1, polipropilena (PP) pada  serapan 2917 cm-1, polistirena (PS).

Hasil Penelitian kadar mikroplastik di Kapuas mencapai 943 dalam satu liter menunjukkan bahwa kondisi Kapuas berfluktuatif karena dipengaruhi air pasang surut sehingga ada masa kadarnya meningkat dan ada masa kadarnya menurun” ujar Kiki Priyo Utomo, lebih lanjut Dosen Teknik Lingkungan Untan ini menjelaskan bahwa saat ini sedang dilakukan penelitian untuk mencari sumber-sumber mikroplastik di Kapuas.Hasil penelitian mahasiswa Untan menunjukkan ada 3 jenis polimer plastik yaitu polietilena (PE) polipropilena (PP) dan  polistirena (PS) ketiga polimer ini adalah senyawa tambahan dalam proses pembuatan plastik.

Senyawa tambahan seperti phtalat untuk membuat plastik jenis PE yang lentur seperti plastik bening untuk wadah sup atau cuko dan Botol Plastik, Bhispenil A untuk mengeraskan plastik jenis HDPE  sehingga bisa digunakan sebagai botol sampho  termasuk dalam kategori senyawa pengganggu hormon atau SPH, sehingga saat plastik terpecah-pecah menjadi material kecil dibawah 5 mm atau yang disebut mikroplastik maka senyawa SPH juga akan terlarut didalam media lingkungan dan masuk kedalam rantai makanan” Ujar Eka Chlara Budiarti, Lebih lanjut alumni kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton ini menjelaskan bahwa bahan tambahan dalam produk plastik akan masuk kedalam tubuh manusia melalui air, udara dan ikan yang dikonsumsi oleh manusia, bahkan Penelitian terbaru 22 Maret 2022 di Belanda menunjukkan bahwa mikroplastik telah masuk kedalam darah manusia. Pada tahun 2018 Ecoton meneliti dan menemukan 103 sampel kotoran manusia yang tinggal di tepi sungai di Pulau jawa 100% mengandung Mikroplastik.

Mikroplastik yang ada di sungai Kapuas akan membawa dampak pada kesehatan manusia karena polimer mikroplastik seperti polietilena (PE) polipropilena (PP) dan  polistirena (PS)  termasuk dalam kategori Endocrine disruption chemicals atau senyawa pengganggu hormone maka dampaknya adalah terjadinya gangguan atau bahkan kerusakan hormone apabila mikroplastik masuk kedalam system metabolism tubuh manusia. Bahkan dari penelitian pada tahun 2020 ditemukan fakta bahwa mikroplastik di air sungai mampu menyerap/mengikat logam berat dalam air seperti Cu dan Pb. “ mikroplastik dapat mengikat logam berat dalam air, di Sungai terdapat beragam jenis berat berbahaya seperti Merkuri, tembaga, Besi, cadmium dan Mangan. Temuan riset 2020 menunjukkan bahwa mikroplastik sungai Musi mengikat logam Cu dan Pb di air” ungkap Eka Chlara Budiarti, Alumnus Kimia Universitas Diponegoro Semarang ini menjelaskan jika terdapat banyak mikroplastik dalam sebuah perairan yang tercemar logam berat maka akan menimbulkan double efek karena mikroplastik akan menyerap logam berat dan kemudian pindah ke tubuh ikan lalu ke tubuh manusia maka tubuh manusia akan menerima efek bahaya mikroplastik sekaligus logam berat yang menempel di mikroplastik.

Faktor Pendorong Pencemaran Mikroplastik Kapuas

Setelah menyusuri Kapuas di Pontianak dan beberapa sungai di Kalimantan Barat dari 14-23 Agustus 2022 tim  ESN menemukan 5 Faktor pendorong timbunan sampah plastik di Sungai Kapuas

  1. Minim Jangkauan layanan sampah oleh Pemkot Pontianak, Kabupaten Sanggau, kabupaten Ketapang dan Pemkab Kubu Raya yang terbatas sehingga sebagian besar masyarakat yang tinggal di tepi sungai tidak punya akses pelayanan membuang sampahnya ke Badan air sungai Kapuas, Pawan dan Landak serta parit-parit di Pontianak
  2. Minimnya tempat sampah sementara yang ada di Pasar-pasar dan di kelurahan sehingga banyak ditemukan tempat sampah liar di tepi sungai
  3. Tidak adanya upaya penegakan hukum (patroli sungai) bagi pelaku pembuang sampah ke sungai sehingga masyarakat bebas membuang sampahnya ke sungai, hal ini juga disebabkan tidak adanya regulasi selevel Peraturan Daerah (PERDA), saat ini Kota Pontianak hanya memiliki Perwali pengurangan plastik sekali pakai namun karena tidak ada sanksi maka efektivitasnya masih kurang.
  4. Rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk memelihara Sungai Kapuas, meskipun saat ini banyak tumbuh komunitas-komunitas peduli Sungai di Kalimantan Barat
  5. Masif dan tidak terkontrolnya penggunaan plastik sekali pakai

Jika tidak ada upaya serius Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat dan Pemkab/Pemkot yang memiliki sungai tercemar mikroplastik maka akan menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan yang lebih parah dan mahal biaya pemulihannya. Ecoton pada 2018 telah meneliti tubuh 103 manusia di Pulau Jawa dan menemukan bahwa didalam lambung manusia telah terkontaminasi mikroplastik. Berikut daftar polimer yang sudah diketahui masuk dalam tubuh manusia dan efeknya pada kesehatan.

Rekomendasi ESN kepada Pengelola Sungai Kapuas (BWS I Kalimantan , Gubernur Kalimantan Barat dan Pemerintah Kota Pontianak, Pemkab Kubu raya, Pemkab Ketapang dan pemkab Sanggau) :

  1. Mendorong dilakukannya kajian sumber-sumber mikroplastik dan dampak mikroplastik dan logam berat pada ekosistem Kapuas, Pawan dan anak sungai Kapuas (air, ikan, sedimen dan dalam tubuh masyarakat Kalimantan Barat)
  2. Mengendalikan pencemaran mikroplastik di Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya dengan menghentikan sumber-sumber mikroplastik dari Limbah cair domestic, perkebunan/pertanian sampah plastik dan limbah cair industri
  3. Menyediakan sarana infrastruktur pengolahan sampah dan meningkatkan layanan sampah, salah satunya dengan menyediakan Perahu/kapal pengangkut sampah pada tiap kelurahan yang dilewati Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya, menyediakan sarana TPST 3R ditiap kelurahan
  4. Membuat dan menegakkan regulasi pengurangan plastik sekali pakai (tas kresek, sedotan, Styrofoam, popok bayi dan pembalut wanita, botol plastik sekali pakai dan packaging plastik sekali pakai). Perwali atau Perbup terbukti tidak efektif dalam mengendalikan sampah plastik
  5. Membersihkan sampah plastik di Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya
  6. Mendorong program Pemilahan sampah dari rumah, data dari dinas Lingkungan hidup Kota Pontianak menyebutkan bahwa sampah organic (sampah sisa makanan, sampah dapur, daun) warga Pontianak mencapai 80% sedangkan anorganik hanya 17% sisanya 2,6% adalah sampah residu dan sampah limbah B3. Sehingga apabila disetiap rumah memiliki tempat sampah terpilah kemudian di setiap RT atau kampong memiliki Sarana pengelolaan KOMPOS maka 80% problem sampah sudah terselesaikan.
  7. Patroli Sungai, kolaborasi antara pemerintah, industri, komunitas dan akademisi, kegiatan patrol rutin satu bulan sekali untuk melakukan identifikasi sumber sampah dan sumber pencemaran untuk selanjutkan dilaporkan kepada BWS 1, Pemprov Kalbar dan Pemkab/Pemkot. Di Singkawang telah ada contoh komunitas KOMPASS Komunitas Perempuan Peduli Sungai Singkawang yang aktif melakukan kegiatan patrol sungai
  8. Perahu pengangkut sampah, Keberadaan pemukiman dan rumah-rumah penduduk di tepi sungai akan memakan waktu jika harus membuang sampah ke daratan maka Pemerintah dan komunitas harus proaktif untuk menyediakan tempat sampah ditepi sungai dan system pengangkutan dengan menggunakan perahu pemungut sampah
  9. Edukasi dan penguatan kapasitas komunitas peduli sungai, di Kalimantan Barat memiliki banyak komunitas yang antusias dalam menjaga sungai Kapuas namun perlu didorong penguatan kapasistas berupa spesialisasi komunitas dalam menjawab problem kerusakan sungai. Penguatan bisa dilakukan dengan peningkatan kapasitas dalam melakukan penelitian pencemaran atau melakukan uji kualitas air dengan menggunakan bioindikator, parameter fisika kimia yang sesuai dengan Baku mutu PP 22/2021, Peningkatan kemampuan dalam melakukan edukasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat Kalbar untuk berpartisipasi menjaga sungai Kapuas, berkerjasama dengan sekolah, komunitas perempuan, pemerintah desa di tepian sungai Kapuas dan akademisi untuk menyusun strategi aksi penyelamatan sungai Kapuas.
  10. Mendirikan KAPUAS CRISIS CENTER/KCC, Sebagai sentral informasi pengelolaan sungai Kapuas untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan masuarakat tentang sungai kapuas, melalui KCC masyarakat bisa terlibat langsung menjadi relawan dan berpartisipasi ikut menjaga fungsi ekosistem Kapuas yang berkelanjutan dan berkeadilan antar Generasi

Related Posts

Leave a Reply