DonateVolunteer

388 Pohon Plastik dan 232 Timbulan Sampah Liar jadi Sumber Pencemaran Mikroplastik di Sungai Deli

Ecoton.or.idEkspedisi Sungai Nusantara (ESN) Berkolaborasi dengan Sangkala-Yayasan Leuser Lestari dan Telapak Badan teritoti Sumatera Utara melakukan ekspedisi Sungai Deli di Medan dimulai dari Taman Mercy di Deli Tua hingga Jembatan Belawan menemukan kontaminasi Mikroplastik  rata-rata 233 partikel/100 Liter, salah satu sumber mikroplastik adalah 388  Pohon terlilit sampah Plastik dan 232 timbulan sampah illegal ditepi sungai Deli. Minimnya sarana tempat sampah dan pelayanan sampah oleh Pemerintah Kota Medan mendorong masyarakat membuang sampahnya ke Sungai Deli.

Ancaman mikroplastik di Sungai Deli sangat berpengaruh pada kesehatan Peduduk Medan karena air sungai Deli dimanfaatkan sebagai bahan baku Perusahaan Daerah air Minum Tirtanadi, mikroplastik merupakan senyawa penganggu hormon yang telah ditemukan dalam darah dan lambung manusia, “ ungkap Prigi Arisandi, lebih lanjut peneliti ESN mendorong agar Pemkot Medan meningkatkan layanan  pengelolaan sampah dengan membangun sarana Tempat pengolahan sampah di tiap Kelurahan di tepi sungai Deli.

No Nama Lokasi Jenis Mikroplastik (dalam 100 liter air) Jumlah
Fiber/Benang Filamen (lembaran) Fragmen (cuilan)
1. Jembatan Panitera 148 62 26 236
2. Karang Berombak 100 114 16 230
248 176 42 466

 

Pengambilan sampel air dilakukan pada Senin-Rabu (21-23 Juni 2022) di lima lokasi yang mewakili Hulu, tengah dan hilir. Di  hulu sampel air diambil di Wilayah Taman Mercy Deli Tua kabupaten Deli Serdang, sedangkan wilayan Hilir diambil di jembatan Belawan. Wilayah tengah dengan kondisi padat pemukiman diambil samplenya di wilayah Jembatan panitera Tanjung Mulia, Gang Cimacan Jalan Karya kelurahan Karang Berombak dan Taman Beringin Kecamatan Medan Polonia. Saat ini data yang diolah meliputi wilayah Jembatan Panitera dan Karang berombak dengan metode rapid menunjukkan rata-rata kontaminasi mikroplastik 233 Partikel/100 Liter.

ESN Photograpy

sampel diuji dengan cara cepat dengan melihat fisik partikel, untuk selanjutnya sample akan dikirim ke laboratorium mikroplastik di Gresik Jawa Timur untuk mengetahui hasil lebih detail, karena akan melalui proses Kimia yaitu memisahkan material plastik dengan material organic,” ungkap Prigi Arisandi, lebih lanjut Prigi menjelaskan dengan metode kimia akan didapatkan jumlah partikel yang lebih banyak.

Penelitian sebelumnya pada tahun 2020 oleh Putri Ageng Yutriana, Mahasiswa Program Studi Teknik lingkungan fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara menemukan bahwa Sungai Deli terkontaminasi mikroplastik 8-152/Liter atau 800-15200 partikel mikroplasti dalam 100 liter. Tingginya kontaminasi mikroplastik karena banyaknya sumber mikroplastik dari limbah domestic, limbah industri dan sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik disepanjang Sungai Deli.

ESN Photography

Mikroplastik ancam kesehatan manusia

Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari hasil fragmentasi atau terpecahnya plastik-plastik ukuran besar seperti tas kresek, sedotan, sachet, popok dan bungkus plastik atau peralatan terbuat dari plastik yang menjadi sampah dan terbuang di media air atau media lingkungan lainnya. Proses pecahnya plastik ukuran besar menjadi ukuran kecil disebabkan oleh radiasi sinar matahari, pengaruh fisik gerakan atau arus air. Mikroplastik masuk kategori senyawa penganggu hormon karena dalam proses pembuatan plastik ada banyak bahan kimia sintetis tambahan dan sifat mikroplastik yang hidrofob atau mudah mengikat polutan dalam air. “ Mikroplastik yang masuk dalam air akan mengikat polutan di air seperti logam berat, pestisida, detergen dan bakteri patogen, jika mikroplastik tertelan manusia melalui ikan, kerang dan air maka bahan polutan beracun akan berpindah ke tubuh manusia dan menyebabkan gangguan hormon,” ungkap Prigi Arisandi, lebih lanjut Anggota Tim ESN ini menjelaskan bahwa Mikroplastik juga menjadi media tumbuh bagi bakteri pathogen.

Mikroplastik Sei Deli

Pengambilan Sample air Sei Deli dilakukan dengan menggunakan LST 1.0, jaring yang diikatkan pada tabung steinless steel dengan ukuran mesh 350 atau dalam satu inch terdapat 350 benang sehingga terlihat seperti kain. Alat LST 1.0 mampu menyaring partikel-pertikel kecil diatas 10 mikron atau 0,01 mm, sehingga ukuran mikroplastik sebesar 5 mm dipartikan akan tersangkut dalam jarring mesh 350. Air sample diambil dengan menggunakan ember steinless steel untuk menghindari kontaminasi bahan plastik, sebanyak 50 liter air diambil pada satu lokasi yang mewakili kondisi lingkungan sekitar. “partikel-partikel yang terjaring dalam LST 1.0 kemudian diamati dengan mikroskop portable dengan pembesaran 40-400 kali, metode yang digunakan adalah rapid test atau metode pengamatan cepat” ujar Prigi Arisandi, lebih lanjut tim ESN ini menjelaskan bahwa mikroplastik yang teramati di Sungai Deli adalah jenih fiber atau benang, filament atau lembaran, dan fragmen atau cuilan plastik.

ESN Photography

Pohon plastik = Sumber Mikroplastik

Ekspedisi sungai Deli pada segmen Kantor Walikota hingga Jembatan Panitera Tanjung Mulia sejauh 6,5 Km menemukan  sekitar 388 pohon yang terlilit sampah plastik dan 232 timbulan sampah liar. Plastik-plastik yang tersangkut di pohon berasal dari sampah-sampah plastik yang dibuang ditepi sungai dan terhanyut saat debit air tinggi dan terlilit di pohon loah (ficus racemose) dan pohon bamboo di tepi sungai, saat air surut sampah plastik berada di dahan tinggi dan tersangkut. “sampah plastik yang tersangkut diatas pohon akan terpapar matahari dan mempercepat proses hancurnya plastik menjadi mikroplastik” pungkas Hafifuddin Arief Koordinator Telapak Sumatera Utara.

Tim ESN mendorong Pemkot untuk menyediakan sarana TPS dan sarana pengangkutan sampah yang bisa menjangkau penduduk di kelurahan tepi sungai. “untuk sampah plastik yang terpendam didasar sungai dan tersangkut di pohon menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi untuk membersihkan dan membebaskan Sungai Deli dari sampah plastik karena sungai deli merupakan sungai lintas kabupaten/kota sehingga kewenangan pengendalian pencemaran dan pengelolaan nya ada pada Pemprov Sumatera Utara,” tutup Prigi Arisandi.

Related Posts

Leave a Reply