15 February 2010 17:09:51
SMAN 1 CERME kembangkan Hutan pelangi
Kegiatan pengembangan hutan pelangi ini menjadi bentuk partisipasi sekolah bagi masalah lingkungan yang sedang berkembang di kecamatan Cerme
Di wilayah kecamatan cerme banyak terdapat home industri tenun dan pencelupan kain. Namun sayangnya limbah cair yang dibuang belum terkelola dan membawa dampak pada lingkungan. Salah satu solusi yang saat ini ditawarkan olehSMAN 1 Cerme adalah mengembangkan pewarna alami dan membudidayalkan tanaman ini di hutan sekolah.
Maka berdasarkan pemikiran tersebut terbentuklah kelompok peduli lingkungan yang akan mengembangkan hutan Pelangi."Hutan pelangi yang akan kami kembangkan adalah hutan yang terdiri dari tanaman-tanaman yang mengandung pewarna alami," Ujar Firdaus M pelajar kelas XA SMAN 1 Cerme yang menggagas hutan Pelangi bersama 12 rekanya, lebih lanjut ia menjelaskan bahwa tanaman yang akan dikembangkan saat ini adalah Kesumba keling untuk warna merah, bunga mentega untuk warna ungu, akar mengkudu untuk warna kuning, kulit mangga untuk warna biru dan kulis pohon jambu.
Pada senin 15/2/2010, 12 pelajar SMAN 1 Cerme dengan didampingi guru PLH, Guru Biologi dan pembimbing kesiswaan melakukan kegiatan penanaman tanaman pewarna alami dilahan hutan seluas 1 ha yang memang dialokasikan untuk hutan tanaman pewarna alami.

Proyek Solusi Sekolah Untuk Masyarakat
Kegiatan pengembangan hutan pelangi ini menjadi bentuk partisipasi sekolah bagi masalah lingkungan yang sedang berkembang di kecamatan Cerme." Kami ingin sekolah kami menjadi bagian dari solusi masalah lingkungan di Cerme," ungkap Mustofa staff pengajar Biologi dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di SMAN 1 Cerme. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa saat ini sekolah mendukung 2 proyek pelajar terkait upaya partisipasi sekolah bagi lingkungansekolah, dua proyek tersebut adalah, Dokumentasi kegiatan home industri Tenun dikecamatan Cerme dan Pengembangan Hutan pelangi sebagai alternatif pewarna alami bagi kain tenun.
Di Kecamatan Cerme kini masih berkembang puluhan home industri tenun kain sarung yang menggunakan pewarna kimia dan sayangnya kegiatan pencelupan kainnya masih belum diolah sehingga apabila dibuang langsung ke media lingkungan akan membawa dampak buruk bagi lingkungan (air, tanah dan udara), maka muncul ide pemakaian pewarna alami dari tumbuhan sebagai pengganti pewarna kimia."Kegiatan ini dimulai dengan aktivitas eksplorasi tanaman pewarna alami di kecamatan Cerme, kemudian membudidayakan dilahan hutan Sekolah yang kita beri nama Hutan Pelangi," ujar Petronella pembimbing siswa, lebih lanjut ia menyatakan pemberian nama hutan pelangi karena di hutan ini terdapat tanaman yang menjadi sumber warna. "pada semester depan sekolah akan mengembangkan lab pencelupan kain sehingga kita berharap masyarakat juga bisa melihat dan mempraktekkannya," ungkap Deny Purinawati.

Saat ini dihutan pelangi seluas 1 ha sudah dibudidayakan jenis tanaman Kesumba keling, jati, mangga, nangka, sengon, jambu, buah mentega, jeruk nambangan dan cerme. Sedangkan kelompok lain yang mendukung kegiatan hutan pelangi adalah kelompok dokumentasi proses tenun kain. “Kegiatan dokumentasi ini nantinya akan dibentuk dalam sebuah buku proses tenun khas Cerme,” Ujar Firdaus M, lebih lanjut ia menyatakan bahwa tenun kain khas Cerme memiliki keunikan dan merupakan tradisi khas masyarakat Cerme maka harus dilestarikan oleh generasi muda, salah satu caranya adalah dengan mendokumentasikan dan mempublikasikannya pada masyarakat.” Dengan program ini kami berharap masyarakat lebih mengenal tenun Cerme sekaligus mengajak para pengrajin tenun untuk menerapkan proses pembuatan tenun yang ramah lingkungan dengan mengurangi dampak pencemaran limbah cair,” Ujar Mustofa.
 
Pemasuk tulisan: Prigi Arisandi
 

 

pemanfaatan air yang bijaksana harus mempertimbangkan keadilan antar generasi, jangan sampai eksploitasi terhadap air pada saat ini mengurangi hak generasi mendatang untuk mendapatkan air bersih
anak-anak bermain diair sungai yang tercemar, 80% anak-anak dikawasan pesisir mengalami gejalah idiot akibat tingginya tingkat pencemaran air
keberadaan capung jarum salah satu contoh indicator kualitas air yang masih layak digunakan sebagai bahan baku air minum

 

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah - ECOTON
Jl. Raya Bambe 115 Driyorejo - Gresik 61177 - Email: ecoton@ecoton.or.id