21 October 2009 16:29:49
Mutu Air Kali Surabaya Memburuk
Kualitas air Kali Surabaya sangat memprihatinkan. Kondisi ini terlihat jelas dari berkurangnya ragam ikan yang hidup di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Mlirip, Mojokerto ini
Surabaya - Kualitas air Kali Surabaya sangat memprihatinkan. Kondisi ini terlihat jelas dari berkurangnya ragam ikan yang hidup di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Mlirip, Mojokerto ini.

Pada tahun 1980-an, sepanjang Kali Surabaya (pecahan Sungai Brantas sejak Mlirip hingga Kalimas Surabaya) dipenuhi banyak ikan. Tiga jenis yang paling dominan adalah keting (arius caelatus), papar (notopterus chitala h.b) dan jendil (family ariidae). Di masa itu, ketiga ikan tersebut banyak dijumpai di sepanjang Kali Surabaya dari Mlirip hingga Karangpilang.

Namun survei yang dilakukan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah

(Ecoton) selama September–Oktober 2009 menunjukkan hasil berbeda. Ketiga jenis ikan ini hanya dapat dijumpai pada Kali Surabaya sektor hulu, yakni dari kawasan Mlirip (Mojokerto) hingga Sumengko (Gresik). Dari Sumengko hingga hilir, ketiga ikan itu tak bisa dijumpai lagi.

“Kesimpulannya, kondisi Kali Surabaya, terutama di bagian hilir, sudah memprihatinkan,“ kata Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton, Senin (19/10).

Kualitas air sungai ini terlihat dari kandungan oksigen terlarut (DO) dalam air. Makin tinggi kandungan DO, makin baik kualitas airnya. Dari penelitian Ecoton, terlihat DO di bagian hulu Kali Surabaya mencapai 6,7 ppm, bagian tengah 4,8 ppm dan bagian hilir hanya 2,9 ppm.

Keberadaan populasi binatang, dalam hal ini ikan, memang menjadi indikator mutu lingkungan suatu kawasan.

“Manusia, bila terganggu, akan melakukan antisipasi, modifikasi, dan menyesuaikan diri sehingga perubahan lingkungan tidak membawa dampak luar biasa pada manusia,” ujar Daru Setyo Rini, peneliti senior Ecoton. “Namun pada ikan, perubahan lingkungan bisa membunuh mereka,“ lanjutnya.

Daru mencontohkan, apabila suhu udara panas atau udara kotor, manusia akan mengantisipasinya dengan memasang AC. Hal ini berbeda dengan ikan atau biota air lainnya yang tidak bisa memodifikasi perubahan lingkungan mereka. Akibatnya, bila terjadi pencemaran, biota air sungai yang sensitif terhadap pencemaran akan punah atau pindah ke lingkungan yang masih bisa mendukung kehidupan mereka. Nah, inilah yang terjadi di Kali Surabaya

Dalam penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa semakin ke hilir, kualitas air Kali Surabaya semakin buruk dan berdampak pada berkurangnya keanekaragaman jenis dan menurunnya populasi ikan. Kali Surabaya bagian hulu masih bisa menunjang kehidupan beragam jenis ikan, kualitas airnya pun masih di atas baku mutu kelas1 berdasar PP No. 82/2001 tentang Pengelolaan Sumber Air dan Kualitas Air.

Daru prihatin karena pemerintah sangat lamban dan tidak memiliki program serius untuk memulihkan kualitas air Kali Surabaya. Menurut dia, peruntukan Kali Surabaya bukan hanya untuk bahan baku PDAM, namun juga sumber kehidupan dan cikal bakal peradaban sehingga perlu terus digali potensi dan dilindungi dari kerusakan.

Penelitian Ecoton ini dimulai September lalu dan berakhir 5 Oktober 2009. Penelitian Sungai Brantas secara keseluruan dimulai Juni 2009 di kawasan hulu dan Oktober ini akan diakhiri di kawasan Brantas tengah yang meliputi Kediri, Jombang, dan Mojokerto. spd



Jenis ikan yang Teridentifikasi di Kali Surabaya


1. Papar (notopterus chitala .b) V V -

2. keting (arius caelatus) V V -

3. Jendil (family ariidae) V V -

4. Brenjilan (ophiopcephalus gachua) V - -

5. Bader (puntius javanicus) V V V

6. Suckermouth (hypostamus punctatus) V - V

Sumber: Hasil Survei Ecoton September-Oktober 2009
 
Pemasuk tulisan: Prigi Arisandi
 

 

mengamati kualitas air denan indicator serangga air
pemanfaatan air yang bijaksana harus mempertimbangkan keadilan antar generasi, jangan sampai eksploitasi terhadap air pada saat ini mengurangi hak generasi mendatang untuk mendapatkan air bersih
anak-anak bermain diair sungai yang tercemar, 80% anak-anak dikawasan pesisir mengalami gejalah idiot akibat tingginya tingkat pencemaran air

 

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah - ECOTON
Jl. Raya Bambe 115 Driyorejo - Gresik 61177 - Email: ecoton@ecoton.or.id