29 September 2009 16:57:07
MEWASPADAI IKAN MATI MASSAL DI KALI SURABAYA
29 September-3 Oktober 2007 ribuan ikan mati di Kali Surabaya, 1 Oktober 2008 intake PDAM tersumbat Bangkai Ikan. Trus Oktober 2009 ada apa hayo???
Senin (28/9) siang warga di tiga desa Wilayah Kecamatan Wringinanom dikagetkan oleh berubahnya warna kali Surabaya menjadi lebih pekat dan berwarna coklat kemerahan. Kondisi ini diikuti dengan banyaknya ikan-ikan dan udang diKali Surabaya menjadi mabuk, maka tak ingin hilang kesempatan ratusan orang ditiga desa Wilayah Kecamatan Wringianom ini terjun untuk menangkapi ikan yang megap-megap mau mati.
“ Ikan mulai mengambang diwiayah perbatasan Wringinanom dengan Lebani waras, jenis ikan yang mabuk sebagian besar adalah Bader,” ungkap Ali Hasan (28) Warga Wringinanom yang enggan ikut menangkap ikan karena takut ikan yang ditangkap tercemar limbah. “Gak melok-melok ndolek iwak, takut keracunan limbah,” Lanjut Ali Hasan yang rumahnya berhadapan langsung dengan Kali Surabaya.
Ikan mati massal atau iwak munggut memang secara rutin terjadi setiap tahun pada puncak musim kemarau seperti saat ini, hal ini mengingatkan pada peristiwa ikan mati massal yang terjadi pada bulan September memasuki bulan Oktober pada tahun 2007 dan 2008, bahkan pada tahun 2007 PDAM Surabaya sempat tidak beroperasi selama seminggu karena intake (saluran pengambilan air bahan baku) di Karang Pilang tersumbat oleh bangkai ikan.
Pada hari senin (28/9) siang Kondisi air dari Wringinanom hingga Sumengko diketahui berbau amis dan banyak dijumpai sampah yang mengambang .” Kondisi air menjelang ikan mati massal didahului dengan berubahnya warga air menjadi coklat kemerahan dan menimbulkan bau amis,” ungkap Ponadi (50) Warga Desa Jeruklegi balongbendo yang berprofesi sebagai petugas perahu penyeberangan yang menghubungkan desa Sumengko (wringinanom) dengan Desa Jeruk Legi (Balongbendo), lebih lanjut Ponadi mengungkapkan bahwa pada saat peristiwa ikan mati terjadi penambahan ketinggian air sehingga menurut Ponadi ikan mati ini kemungkinan disebabkan oleh pengadukan air akibat penambahan volume air secara tiba-tiba sehingga menyebabkan ikan kaget dan mengalami mabuk.
Dari penelusuran yang dilakukan oleh tim investigasi ecoton pada sepanjang hari senin hingga selasa terpantau ikan yang mengalami kematian jumlahnya tidak sebanyak tahun-tahun lalu dan efek kontaminasi pada air tidak menjangkau wilayah yang luas yaitu hanya mengkontaminasii 3 desa.
Menurut Imam (30) warga Lebani Waras dan Zakaria (45) warga Sumengko ikan yang mati pada senin (28/9) hanya berupa ikan-ikan kecil dan jenis udang.
“Ikan yang ditangkap oleh warga umumnya berukuran tanggung sekitar 10-20 cm dan jumlahnya tidak banyak,” ujar Moch Arifin tim investigasi ecoton, lebih lanjut Arifin menyatakan bahwa ikan munggut yang terjadi pada hari senin (28/9) disebabkan oleh buangan limbah cair yang tidak begitu besar volumenya dan bisa disebabkan oleh buangan organik seperti buangan kotoran ternak atau pencucian bahan plastik, maklum hari ini banyak perusahaan yang mulai beroperasi.” Kalo buangan limbahnya banyak biasanya ikan yang mati bisa bermacam-macam dari jenis keting, rengkik, jendil dan bahkan ikan yang kecil-kecil dan yang indukkan dengan ukuran mencapai 60-80cm,”lanjut Arifin, hal ini dibenarkan oleh Supii (55) warga Desa Sumengko yang ikut memunguti ikan yang mati.” Ikannya tidak besar seperti ikan mati tahun lalu kemungkinan hanya karena adanya air kiriman dari Mlirip,” lanjut Supii.
Puncak Kemarau
Kondisi penurunan kualitas air Kali Surabaya petut mendapat pengawasan yang serius dari Pemprov Jawa Timur, Perum Jasa Tirta dan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas karena pada bulan Oktober saat ini debit air Kali Surabaya umumnya menyusut hingga 60%, yang biasanya mencapai 60 m3/s namun pada puncak kemarau hanya 18m3/s, kondisi penurunan debit ini otomatis mengurangi volume air Kali Surabaya sedangkan volume limbah yang dibuang kesungai tetap dan tidak mengalami penurunan. Kondisi ini bisa menyebabkan turunnya kadar Oksigen terlarut dalam air (KOT) , padahal KOT sangat dibutuhkan oleh ikan untuk bernafas, pada kondisi normal KOT mencapai 4-5 mg/l namun pada musim kemarau KOT bisa menurun hingga 1-2 mg/L bahkan pada saat suhu tinggio seperti saat ini yang mencapai 38 Derajat KOT diair kurang dari 1 mg/L.
Untuk itu Ecoton menyarankan Pemprov untuk lebih mengintensifkan pengawasan hingga pelaku pencemaran tidak bisa lolos dan seenaknya membuang limbah mematikan ke Kali Surabaya tanpa sanksi yang membuat pencemar jera.” Pemprov harus lebih awas dan cerdas sehingga tidak kejeblok pada lobang yang sama, selama ini Pemprov tidak mampu menangkan dalam pelaku ikan mati missal di Kali Surabaya.” Ungkap Moch Arifin
Dari investigasinya ecoton menemukan beberapa sumber buangan di Wiayah Wringinanom, Sumengko dan Dusun Mlati Desa Jeruk Legi diantaranya pabrik pengolahan sampah plastic yang membuang limbahnya tanpa diolah ke Kali Surabaya juga beberapa peternakan sapid an unggas yang membuang kotoran ke Kali Surabaya.
Sudah saatnya Pemprop Jatim membuat terobosan baru untuk mengentaskan Kali Surabaya dari pencemaran.” Dibutuhkan upaya yang extraordinary agar tidak ada lagi peristiwa ikan mati massal di Kali Surabaya,” ungkap Moch Arifin.
 
Pemasuk tulisan: Prigi Arisandi
 

 

pemanfaatan air yang bijaksana harus mempertimbangkan keadilan antar generasi, jangan sampai eksploitasi terhadap air pada saat ini mengurangi hak generasi mendatang untuk mendapatkan air bersih
anak-anak bermain diair sungai yang tercemar, 80% anak-anak dikawasan pesisir mengalami gejalah idiot akibat tingginya tingkat pencemaran air
keberadaan capung jarum salah satu contoh indicator kualitas air yang masih layak digunakan sebagai bahan baku air minum

 

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah - ECOTON
Jl. Raya Bambe 115 Driyorejo - Gresik 61177 - Email: ecoton@ecoton.or.id