|
| 07 September 2009 12:24:43 |
| Menakar Kualitas Sungai dari Habitat Serangga Air |
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/09/05/Berita_Utama_-_Jatim/krn.20090905.175871.id.html
|
SURABAYA -- Tim peneliti Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) mengembangkan teknik penggunaan serangga air untuk menentukan kualitas air Sungai Brantas, yang mengalir melintasi sejumlah daerah di Jawa Timur. Parameter fisika-kimia yang selama ini digunakan dianggap tak lagi akurat mengukur kesehatan sungai.
Direktur Ecoton Prigi Arisandi mengatakan penggunaan serangga air untuk mengukur kesehatan sungai terbukti lebih akurat. Bersama timnya, ia telah menggunakan serangga air untuk mengetahui kualitas air di lima gunung yang menjadi sumber mata air Sungai Brantas, yakni Gunung Kawi, Kelud, Wilis, Welirang, dan Arjuna. "Dari Juni hingga Agustus lalu (penelitiannya)," kata dia kemarin.
Ia menambahkan, pengukuran kualitas air dilakukan dengan melakukan sensus serangga air, seperti anggang-anggang, lalat batu, dan lalat sehari. Dalam hidupnya, hewan-hewan ini sangat bergantung pada kualitas air di sekitarnya. Pencemaran dan adanya senyawa kimia beracun praktis akan mengusir keberadaan serangga-serangga itu.
Serangga air, khususnya yang berasal dari kelompok Ephemeroptera, Plecoptera, dan Trichoptera, kata dia, adalah hewan yang sangat sensitif terhadap perubahan kondisi fisik kimia perairan. Prinsip hidup hewan semacam inilah yang kemudian digunakan untuk mengetahui indikasi kerusakan ekosistem sungai dan penurunan kualitas air.
Salah seorang anggota tim peneliti, Maritha Widya Rahesti, mengatakan pengukuran dengan menggunakan parameter fisika-kimia hanya menggambarkan kondisi perairan sesaat setelah pengukuran, di antaranya adalah parameter DO (oksigen terlarut), BOD (kandungan organik), COD (kadar pencemaran kimia), dan TSS (tingkat padatan terlarut). "Pengukuran tidak bisa hanya semacam itu," kata dia.
Ada sejumlah perbedaan hasil dalam menentukan kualitas air sungai melalui kedua metode ini. Pada air di sepanjang aliran Gunung Kelud hingga Kali Bladak, misalnya, kadar DO air tercatat di angka 8,4 miligram per liter. Kadar ini sebenarnya terhitung normal dan tidak tercemar. Sebab, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 disebutkan, air ini masuk kategori air kelas satu. Namun, dalam indeks serangga air, aliran air di sungai ini tercatat dalam kategori tercemar sedang.
Penilaian yang sama juga berlaku bagi air yang ada di aliran Gunung Arjuno hingga Krecek. Kadar DO dalam pengukuran menggunakan parameter fisika-kimia tercatat mencapai 8,5 miligram per liter. Namun, dalam indeks serangga air, diketahui tercemar ringan. ANANG ZAKARIA
|
| |
| Pemasuk tulisan: Prigi Arisandi |
| |
|
 |
 |
| contoh limbah dari industri electroplating (pelapisan logam) yang tidak memiliki IPAL (instalasi pengolahan air limbah) dibuang langsung pada badan air |
|  |
| setiap bulan ruwah dalampenanggalan jawa/sebulan sebelum bulan puasa) ecoton mengadakanacara ruwatan kali surabaya, berupa memanjatkan doa syukur atas lingkungan yang telah diberikan kepada manusia oleh Allah dan permohonan perlindungan dari bencana lingkungan diikuti dengan penebaran puluhan ribu bibit ikan khas kali surabaya. |
|  |
| keberadaan serangga sebagai indikasi kualitas lingkungan, sebagian besar siklus serangga ada didalam air,sehingga serangga dapat menggambarkan kualitas air suatu ekosistem |
|
|
|