Press Release : #2021STOPMAKANPLASTIK, Plastik Kita Buang Plastik Kita Makan!

+

“Harus ada regulasi pelarangan penggunaan Plastik sekali pakai di kota-kota/kabupaten yang dilewati sungai Brantas dan Bengawan Solo dan Produsen harus consumer good harus didorong untuk menyediakan container khusus sachet plastik yang tidak bisa didaurulang, jika tidak dilakukan maka pesisir Utara Jawa akan tergerus oleh mikroplastik,” Ungkap Tonis Afrianto Manager Kampanye Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan BasahECOTON

Lebih lanjut Tonis juga mendorong agar masyarakat untuk melakukan Diet Plastik sekali pakai. “dalam plastik mengandung 7 bahan berbahaya, setiap hari kita mengkonsumsi hamper 1 gram plastik yang berasal dari air, makanan dan udara yang kita hirup, maka kita harus menghentikan perilaku makan plastik,” Ungkap tonis afrianto. Untuk itu ECOTON mengkampanyekan #2021STOPMAKANPLASTIK.  Kondisi darurat Mikroplastik di Pesisir Utara Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Lamongan dan Tuban) ECOTON bersama komunitas mahasiswa di Malang, Surabaya, Lamongan dan Gresik menemukan Mikroplastik, serpihan/remah-remah plastik berukuran < 5mm hingga 0,3 mm pada Air sungai Brantas, Bengawan Solo dan Kali Surabaya. Mikroplastik juga ditemukan dalam air laut, biota laut (ikan, udang dan kerang) dan garam di pesisir Surabaya, Gresik dan Lamongan. Temuan mikroplastik dalam ekosistem perairan dan biota di dorong oleh banyaknya sampah plastik yang masuk kedalam perairan.

Kondisi ini dipicu oleh :

Pertama. Tidak tersedianya sarana pengelolaan sampah pada tingkat Desa/Kelurahan, Salah satu sarana yang dibutuhkan saat ini adalah keberadaan tempat sampah dan tempat sampah sementara pada tingkat Desa/kelurahan. World Economic Forum 2020 (dalam grafik disamping) menyebutkan hanya 39% masyarakat mendapatkan layanan pengumpulan sampah, 61% masyarakat tidak mendapatkan layanan pengumpulan sampah alias membiarkan masyarakat membuang sampah disembarang tempat. Dalam Undang-undang Pengelolaan Sampah 18/2008 setiap warga desa/kelurahan harus mendapatkan pelayanan pengumpulan sampah dan kewajiban Pemerintah Desa/kelurahan untuk menyediakan fasilitas Tempat pengolahan sampah Reduse, Reuse dan Recycle (TPS 3R).

ECOTON mengidentifikasikan bahwa Desa-Desa yang dilalui Kali Brantas masih belum memiliki fasilitas TPS 3 R di wilayah kecamatan Tembelang, Plandaan, Kudu, Kesamben(Jombang), kecamatan Kemlagi, Kecamatan Gedeg dan Kecamatan Jetis (Kab Mojokerto), Kecamatan Tarik, Krian, Taman (Sidoarjo), Kecamatan Wringinanom dan Driyorejo (Gresik) sehingga menyebabkan penduduk membuang sampahnya ke Kali Brantas atau ke anak-anak sungai Kali Brantas.

Kedua Buruknya pengelolaan sampah oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Hanya 30% sampah domestic terkelola dengan baik 70% tidak terkelola. Sampah yang dihasilkan masyarakat Sebagian besar masih dibakar secara terbuka 47% dan 23% dibuang sembarangan (di perairan, dipendam dan dipermukaan tanah).Khusus untuk sampah plastik tak kalah memprihatinkan, mengutip hasil riset Science Advance, 19 Juli 2017 sebanyak 59% sampah plastik yang dibuang akan berakhir di lingkungan perairan dan timbunan di darat. Aktivitas recycling atau daur ulang tak lebih hanya menyerap 9,6% sampah plastik.  

Penelitian Bank Dunia  2017 menyimpulkan sampah dilaut dipenuhi oleh sampah plastik. Dalam Laporan World Bank Juni 2019, Oceans Opportunity, Indonesia Economic Quarterly menyebutkan bahwa 52% sampah yang ada dilautan adalah sampah jenis Plastik dengan rincian (Sampah popok bayi 21%, Tas Kresek 16%, bungkus plastik 5%, botol plastik 1%, plastik lainya seperti Styrofoam, tali, senar dll mencapai 9%).  Dampaknya plastik-plastik ini menjadi santapan bagi biota-biota laut yang menganggap plastik sebagai makanan mereka. Berbagai penelitian juga menyebutkan bahwa plastik-plastik ini akan terurai menjadi mikroplastik yang melayang-layang menyerupai plankton. Penelitian Mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya pada November 2020 menemukan bahwa didalam Kerang hijau  yang ditangkap di kenjeran dan tambak wedi serta udang di wilayah Gunung anyar tambah telah terkontaminasi Mikroplastik, sebelumnya penelitian mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya juga menemukan mikroplastik yang berada dalam lambung 10 spesies ikan di muara pesisir utara Gresik. Ikan Gabus (Channa striata), ikan Bambangan (Lutjanus bitaeniatus), ikan Krapu batik (Epinephelus polyphekadion), ikan Selar (Selaroides leptolepis), ikan Billis (Thryssa mystaxs), ikan Payus (Elops hawaiensis) dan ikan Glodog (Periothalamuss sp), ikan Keting (Mystus nigriceps) dan ikan Keeper (Scatophagus argus) dan ikan belanak (Moolgarda seheli). Masing-masing mengandung 8,5 partikel mikroplastik.

Grafik Kandungan Mikroplastik dalam air laut, garam dan kerang di Pantai Timur Surabaya. Mikroplastik di Air laut mencapai 485 partikel/100 liter air sedangkan dalam garam mencapai rata-rata 85 partikel dalam tiap sample kerang

Sebagai material plastic yang berukuran mikro, mikroplastik berbahaya bagi tubuh manusia, selain itu bahan-bahan dalam proses pembuatan plastic juga memiliki dampak Kesehatan yang serius bagi tubuh manusia.

“Mikroplastik merupakan remah-remah atau serpihan plastik berukuran <5 mm hingga 330 mikron (0,33mm) sedangkan untuk plastik jenis nano ukurannya lebih kecil dari 330 mikron, jenis mikroplastik di perairan surabaya adalah Fiber yang berasal dari serat benang/polyester, Fragmen adalah cuilan/serpihan sedotan, botol airminum sekali pakai, , Filamen/lembaran asalnya dari tas kresek, Granula butiran-butiran sintetik bahan kosmetik (mikrobeads), pembersih wajah, scrub dan Foam yang berasal dari Styrofoam” Jelas Andreas Eka Chlara Budiarti Peneliti Mikroplastik Ecoton, lebih lanjut Alumni Kimia Universitas Diponegoro Semaranng ini menjelaskan dampah Kesehatan kontaminasi mikroplastik dalam tubuh manusia bisa berpindah melintasi usus dan memasuki system peredaran darah, Mikroplastik juga dapat terakumulasi dalam organ utama dan berkelana melalui getah bening yang berakhir di hati. Mikorplastik (tergantung ukuran dan bentuknya) dapat berjalan melalui system pernafasan, bersarang diparu-paru dan berpindah ke bagian lain dari tubuh.

Plastik mengandung 7 bahan berbahaya dalam proses pembuatannya, yaitu

  1. Bisphenol A (BPA) dalam bungkus makanan berfungsi agar plastik keras,
  2. Alkylphenols digunakan dalam berbagai aplikasi penghilang lemak (degreasers), adhesives, pengemulsi (emulsifiers), kosmetik, dan produk-produk perawatan tubuh,
  3. Phthalates adalah senyawa aditif yang banyak digunakan untuk memproduksi atau membuat plastic menjadi fleksibel dan untuk mengurangi tingkat kerapuhan plastik. Phthalates digunakan sebagai plasticizers dalam PVC,
  4. Senyawa-senyawa Perfluorinasi yang banyak digunakan dalam pakaian-pakaian tahan air dan anti-noda, dalam pembungkus yang kontak langsung dengan makanan,
  5. Penghambat nyala terbrominasi (Brominated flame retardants) atau BFRs merupakan kelas kimiawi yang digunakan untuk mengurangi sifat mudah terbakar dalam produk-produk plastic,
  6. Dioksin, yang dianggap zat paling beracun di dunia, adalah produk samping dari proses industri dan pembakaran yang terjadi saat manufaktur produk-produk plastik yang menggunakan BFRs dan saat plastik yang mengandung BFRs dibakar atau dipanaskan dalam proses daur yang mencetak produk baru.
  7. UV stabilizers adalah aditif yang digunakan untuk melindungi bahan bangunan yang terbuat dari plastik, suku cadang kendaraan, lilin (waxes), dan cat dari pelapukan akibat radiasi ultraviolet.

Plastik yang biasa kita gunakan mengandung dan melepaskan senyawa kimia berbahaya, yang mengancam kesehatan manusia, terutama sistem endokrin tubuh yaitu serangkaian kelenjar yang memproduksi dan mengeluarkan hormon mengontrol fungsi pernapasan, reproduksi, persepsi sensorik, pertumbuhan, pergerakan dan perkembangan seksual. Senyawa kimia pengganggu system endokrin atau Endocrine Disruption Chemical compound (EDC), berikut ancaman Kesehatan 7 bahan berbahaya dalam plastik :

  1. BPA dapat meningkatkan kecemasan, depresi, hiperaktivitas, menurunnya perhatian, masalah perilaku, dan juga berkaitan dengan kelainan-kelainan pada sistem reproduksi yang mempengaruhi sel-sel dalam telur. BPA juga diasosiasikan dengan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) — suatu kelainan hormonal yang kompleks yang diasosiasikan siklus menstruasi yang tak teratur, menurunnya kesuburan, dan meningkatnya risiko diabetes. Pada laki-laki, BPA mempengaruhi tingkat kesuburan dan diasosiasikan dengan disfungsi seksual diantara laki-laki yang mengalami pajanan di tempat kerja. BPA juga diasosiasikan dengan kanker payudara, prostat, kanker ovarium dan kanker endometrium.
  2. Alkylphenols ini meniru (mimic) estrogen dan mengganggu sistem reproduksi. Alkylphenols dihubungkan dengan infertilitas pada laki-laki, jumlah sperma rendah, dan mengganggu perkembangan prostat. Penelitian juga menunjukkan pajanan okupasi yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara pada laki-laki dan perempuan.
  3. Phthalates menurunkan tingkat testosteron dan estrogen, memblokir aksi hormon tiroid, dan telah diidentifikasi sebagai racun pencemar sistem reproduksi. Phthalates juga meningkatkan gangguan kehamilan dan angka keguguran, anemia, toksemia, preeklampsia, menopause dini, dan kelainan tingkat hormon seks steroid juga diasosiasikan dengan phthalates. Pajanan phthalate tidak hanya diasosiasikan dengan penurunan fertilitas tetapi juga mempengaruhi fertilitas antar generasi
  4. Senyawa-senyawa Perfluorinasi merupakan kimia pengganggu metabolisme tubuh yang berdampak pada sistem kekebalan tubuh, fungsi hati, dan tiroid. PFAS juga mengubah masa pubertas, meningkatkan risiko kanker payudara, dan diasosiasikan dengan kanker-kanker ginjal, testikel, prostat, kanker ovarium, dan limfoma non-Hodgkin
  5. Penghambat nyala terbrominasi mengganggu perkembangan reproduksi laki-laki dan perempuan, mengubah perkembangan tiroid, dan mengganggu perkembangan syaraf. Pajanan terhadap BFRs diasosiasikan dengan kinerja IQ terkait psikomotor dan atensi pada anak-anak.
  6. dioksin mempengaruhi perkembangan orak, mengganggu tiroid dan sistem imun tubuh dan diasosiasikan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, dan kerusakan system imunitas.
  7. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa UV stabilizers mengganggu fungsi endokrin, menghambat proses pertumbuhan yang normal dan memperkenalkan efek estrogenik.

Koordinator Kampanye #2021STOPMAKANPLASTIK

Tonis Afrianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *