Jelang PSBB Kualitas Kali Surabaya dan Kali Mas di Bawah Baku Mutu Kelas Air

+

Hasil observasi lapangan Paralegal Perempuan Kali Surabaya (PPKS) menemukan bahwa air Kali Surabaya dan Kali Mas tercemar mikroplastik di 7 lokasi penelitian, untuk detail jumlah partikel mikroplastik/liter akan dilakukan uji lanjutan dan hasilnya baru diketahui dalam dua minggu. Banyaknya buangan industri dan dijadikannya Kali Surabaya menjadi tempat sampat disinyalir menjadi penyebab Kali Surabaya dibanjiri Mikroplastik, data lain menunjukkan bahwa Oksigen Terlarut di Air berada dibawah standar baku mutu air kelas 2. Sebelumnya Peneliti ITS merelease data adanya pencemaran mikroplastik di Kali Surabaya yang di publish dalam jurnal ilmiah internasional Elsevier awal april 2020.

(https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0048969720320763)

Kali Surabaya yang mengalir dari Mojokerto bermuara di Tanjung Perak dan Pantai Timur Surabaya mengalami penurunan kualitas air. Pengukuran kualitas air yang dilakukan oleh Wanita Peduli Lingkungan (Wadulink) Gresik, River Warrior dan Lembaga Kajian ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menunjukkan bahwa baku mutu kualitas air dibawah standar baku mutu PP 82/2001 yang mengatur tentang Kelas Air sungai. Kali Surabaya yang digunakan sebagai bahan baku air minum dikategorikan dalam kelas 2.

Dari pengukuran yang dilakukan PPKS yang terdiri dari Wadulink, River Warrior dan Ecoton menunjukkan Kandungan Oksigen terlarut (KOT)di tujuh lokasi di Mlirip Mojokerto, Wringinanom, Sumengko, Karangpilang, Joyoboyo, Monkasel dan Petekan menunjukkan angka penurunan berturut-turut dari Mlirip ke Petekan adalah 4.7ppm, 3.25ppm, 3.34 ppm, 1.69 ppm, 2.51 ppm, 1.20 ppm. Di Wilayah Mlirip Mojokerto KOT masih diatas standar yaitu 4.7 ppm (standar KOT untuk sungai kelas 2 adalah 4 ppm), di wilayah Wringinanom hingga Petekan KOT berada dibawah standar

Grafik Kandungan Oksigen Terlarut dalam air Kali Surabaya dan Kali Mas 15-16 April 2020. Grafik diatas menunjukkan terjadinya penurunan kualitas air di Kali Surabaya dan Kali Mas. Kali Surabaya yang dimulai dari Mlirip Mojokerto hingga Pintu Air Jagir sedangkan Kali Mas dimulai dari Jagir hingga Tanjung Perak dalam penelitian ini sampling airnya diwakili daerah Monkasel dan Petekan.

Penyebab Penurunan Kualitas

Dalam Penelitian yang di Wadulink, River Warrior dan Ecoton juga melakukan pengukuran beberapa parameter fisika kimia yaitu  Klorin bebas dan ammonium, kedua parameter ini menjadi indikator adanya pencemaran domestik dan pencemaran industri.

Pencemaran Klorin

Klorin banyak dipakai oleh industri pemutih kertas dan sebagian juga digunakan untuk bahan baku pembersih kuman/bakteri yang digunakan dalam rumah tangga. Di Kali Surabaya terdapat industri kertas yang menggunakan pemutih kertas karena umumnya industri yang ada menggunakan bahan baku kertas bekas.

Grafik diatas menunjukkan adanya peningkatan kadar Klorin bebas di Sumengko dan Karangpilang.  kondisi ini bisa disebabkan oleh adanya Pabrik Kertas yang beroperasi di kedua wilayah tersebut. Klorin berbahaya bagi lingkungan karena akan membunuh biota perairan. Selain itu juga menjadi ancaman kesehatan manusia mengingat air Kali Surabaya dimanfaatkan untuk bahan baku PDAM

Pencemaran Amonium

Kadar ammonium yang tinggi dalam air menunjukkan tingginya pencemaran domestic yang berasal dari aktivitas rumah tangga mandi, cuci dan kakus (MCK).

Grafik diatas menunjukkan peningkatan kadar ammonium di Kali Mas hal ini disebabkan oleh tinggi tingkat hunian penduduk di Kota Surabaya, saluran air dari limbah domestic umumnya tidak diolah dibuang langsung ke Kali Mas. Kadar tertinggi di Petekan sebesar 4 ppm, beberapa PDAM mensyaratkan kadar ammonium untuk bahan baku air minum tidak boleh lebin dari 3 ppm.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *