DAMPAK PENCEMARAN LIMBAH B3 SLAG ALUMINIUM AKIBAT KEGIATAN INDUSTRI PELEBURAN DROSS ALUMINIUM DI JOMBANG

DAMPAK PENCEMARAN LIMBAH B3 SLAG ALUMINIUM AKIBAT KEGIATAN INDUSTRI PELEBURAN DROSS ALUMINIUM DI JOMBANG
Daru Setyo Rini

Kecamatan Sumobito dan Kesamben Kabupaten Jombang merupakan sentra industri peleburan aluminium di Jawa Timur yang mengolah limbah dross aluminium dari beberapa perusahaan peleburan aluminium besar sejak tahun 1990. Terdapat 136 perusahaan peleburan dross aluminium di dua kecamatan yang menghasilkan limbah slag alumunium, namun pembuangan limbahnya dilakukan secara sembarangan dan tersebar di 20 desa Kecamatan Sumobito dan Kecamatan Kesamben. Limbah dross dan slag alumunium merupakan limbah B3 yang memiliki kode B313-2 dalam daftar limbah B3 dari sumber spesifik proses produksi primer dan sekunder berdasarkan PP 101/2014 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Limbah slag alumunium banyak digunakan untuk penguatan tanggul sungai dan saluran irigasi di Kecamatan Sumobito, Kesamben dan Peterongan. Selain itu, limbah slag aluminium juga digunakan masyarakat sebagai material urugan lantai rumah untuk menaikkan ketinggan tanah agar terhindar dari banjir, serta untuk melebarkan dan menaikkan jalan di lahan perkebunan tebu dan pematang sawah. Limbah slag yang dibuang di tempat terbuka jika terendam air akan menghasilkan lindi yang meningkatkan kadar amonia, natrium, kalium, klorida dan kadar TDS di lingkungan sekitarnya.

Proses peleburan aluminium primer menghasilkan limbah abu primer atau dross yang masih mengandung residu aluminium sebesar 20-45%. Dross aluminium merupakan bongkahan atau serpihan partikulat berwarna abu-abu, mengandung bahan kimia beracun yang dapat mencemari lingkungan, sehingga perlu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pemanfaatan dross dan pembuangan limbahnya. Selama proses peleburan dross, aluminium akan bereaksi di udara membentuk oksida aluminium pada permukaan aluminium yang mencair. Peleburan dross aluminium membutuhkan penambahan dan flux untuk mengikat sisa aluminium dalam abu primer, serta larutan asam sulfat dan asam amonia, serta dan menghasilkan limbah abu sekunder atau slag yang berwarna kehitaman. Penggunaan flux garam klorida dan florida pada proses peleburan dross dapat mengurangi terbentuknya oksida aluminium, sehingga meningkatkan hasil pengumpulan sisa aluminium menjadi ingot aluminium, namun menghasilkan abu sekunder yang beracun. Limbah slag yang ditimbun di lahan masyarakat akan menghasilkan gas beracun seperti gas amonia, gas metan, dan gas hidrogen sulfida saat terendam air. Proses peleburan dross aluminium menggunakan bahan tambahan garam KCl dan NaCl sebanyak 8% dari komposisi total, yang dilanjutkan dengan pencucian asam sulfat dan diikuti dengan asam amonia. Setelah aluminium dipisahkan dan diambil, sisa dross yang bercampur dengan flux dan larutan asam menjadi limbah slag yang berpotensi mencemari tanah, air tanah dan air permukaan yang biasanya dibuang ke tempat pembuangan akhir dengan sistem landfill. Di Amerika Serikat, aluminium oksida dalam dross dimanfaatkan dalam produksi semen portland sebagai campuran sebanyak 5% dari komposisi semen.

  1. Slag aluminium terdiri dari fraksi kasar yang mengandung kadar logam yang tinggi dan fraksi debu halus yang mengandung oksida dan garam. Umumnya limbah slag aluminium masih mengandung logam aluminium (10-20%), campuran garam flux (40–55%), dan aluminium oksida (20–50%). campuran garam flux disebut salt cake mengandung 5–7% residu aluminium, 15–30% aluminium oksida, 30–55% NaCl, dan 15–30% KCl serta serpihan yang mengandung karbida, nitrida dan fosfida, serta polychlorinated dibenzop-dioxins and dibenzofurans (PCDD and PCDF). Slag aluminium digolongkan sebagai limbah berbahaya dan beracun berdasarkan katalog bahan berbahaya Eropa (European Catalogue for Hazardous Wastes) dengan karakteristik
    a. mudah terbakar “highly flammable” yaitu bahan yang jika mengalami kontak dengan air atau udara lembab akan menghasilkan gas yang mudah terbakar),
    b. penyebab iritasi “irritant” yaitu bahan non-korosif yang melalui kontak secara langsung atau berulang kali pada kulit dan kelenjar mukosa dapat menyebabkan inflamasi
    c. berbahaya “harmfull” yaitu bahan yang jika tertelah atau terhirup atau menempus lapisan kulit dapat menimbulkan gangguan kesehatan
    d. mudah tercuci “leachable” yaitu bahan yang mudah tercuci dan terbawa aliran air. Pembuangan limbah slag aluminium secara sembarangan dapat menghasilkan lindi logam berat beracun ke dalam air tanah dan menimbulkan gangguan kesehatan. Bahan kimia dalam slag sangat reaktif dengan air dan udara lembab, menghasilkan gas beracun, berbahaya, mudah meledak, beracun dan berbau tidak sedap, antara lain gas NH3, CH4, PH3, H2, and H2S2.
  2. Untuk menangani kondisi darurat pembuangan limbah B3 slag aluminium, Pemerintah Kabupaten Jombang dan Provinsi Jawa Timur perlu segera melakukan tindakan penanganan sebagai berikut:
    1. Menginventarisasi jumlah dan kapasitas industri peleburan dross aluminium yang ada di Kecamatan Sumobito dan Kesamben Kabupaten Jombang dan menghitung neraca massa proses produksi ingot aluminium untuk mengidentifikasi
    a. sumber bahan baku, jumlah dan komposisi kimia dalam bahan baku dross aluminium, serta jumlah produksi ingot aluminium yang dihasilkan
    b. jumlah dan jenis bahan kimia dalam bahan tambahan dan bahan penolong,
    c. jumlah dan jenis bahan kimia dalam limbah slag aluminium dan lokasi pembuangan limbah dari masing-masing perusahaan
    2. Melakukan moratorium pembuangan limbah slag aluminium yang tidak sesuai prosedur pengelolaan limbah B3 dan mewajibkan industri peleburan dross aluminium untuk membangun tempat penampungan sementara limbah B3 slag aluminium untuk menyimpan limbah B3 sebelum dilakukan pengolahan limbah B3 sesuai prosedur yang aman bagi lingkungan dan masyarakat sekitar
    3. Mengukur kadar pencemaran limbah slag aluminium dalam media lingkungan di sekitar lokasi pembuangan limbah slag yang tersebar di 20 desa Kecamatan Sumobito dan Kesamben, meliputi sampel air sungai, air sumur, tanah, dan tanaman yang dibudidayakan masyarakat (padi, tebu, jagung)
    4. Melakukan pemulihan kualitas lingkungan pada lokasi yang dijadikan tempat pembuangan limbah b3 slag aluminium di yang tersebar di 20 desa di Kecamatan Sumobito dan Kesamben
    5. Mengukur kualitas udara emisi gas buang industri peleburan dross aluminium, udara ambien di dalam ruang pembakaran, dan udara ambien di lingkungan permukiman sekitar industri peleburan dross aluminium
    6. Memberikan layanan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan kepada karyawan dan masyarakat di sekitar industri peleburan logam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *